
Ting
Terdengar nada dari sebuah ponsel berbunyi. Nada khas sebagai tanda ada pesan masuk, membuat seseorang yang sedang fokus menatap layar laptop sedikit terganggu. Diraihnya ponsel tersebut, di nyalakan kemudian dia sentuh tombol chat berwarna hijau di menu utama layar ponsel.
"Jangan lupa, nanti malam kita berkunjung ke rumah Ustadz Mudin," sang pemilik ponsel hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Diletakkannya kembali ponsel itu di atas meja kemudian dia mengusap wajahnya sedang salah satu tangan karena perasaannya semakin gusar.
Pria bernama Ramzi itu benar benar jengah dengan sikap ayahnya. Ayah yang terkenal baik dan santun dikalangan masyarakat justru malah bertindak arogan pada keluarganya sendiri. Sungguh ayahnya seperti tidak pernah menyadari kalau manusia tempatnya salah dan lupa. Kyai Bahar seperti menutup mata dan tidak mengambil hikmah dari kisah kandasnya dua anak perempuannya karena perjodohan. Kakak pertama bernama Fitri yang di jodohkan dengan anak pemilik pondok di kota lain. Dia memilih bercerai karena di poligami dan Fitri tidak pernah mendapat keadilan. Kakak kedua bernama Aisyah, dia memilih cerai karena tidak tahan dengan sikap suaminya yang kerap sekali main tangan dan kaki kalau sedang emosi dan marah. Bahkan Ais sampai masuk rumah sakit akibat KDRT sang suami yang sangat taat agama dan berpendidikan tinggi. Entah apa arti ilmu agama bagi mereka. Mereka mampu menerapkan ilmu agama dengan baik di hadapan orang lain, namun di dalam ranah kehidupan pribadinya mereka seakan lupa kalau ilmu agama yang mereka pelajari demi sebuah ego dan hawa nafsu.
Ramzi yang sekarang kerja sebagai guru agama di salah satu sekolah menengah atas di daerahnya, benar benar tidak mengerti, kenapa Ayahnya seperti buta mata hatinya.
Di depan meja kerjanya, mata Ramzi serius menatap layar laptop. Namun pikiran pria itu justru berkelana tertuju pada wanita yang sudah berhasil mencuri sebagian hatinya. Wanita sederhana yang sudah menjadi penyemangat hidupnya hampir satu tahun ini. Ramzi sangat tidak ingin berpisah dari wanita tersebut. Ramzi benar benar harus menemukan solusi agar perjodohan itu tidak terlaksana.
Jam yang melingkar di tangan menunjukkan angka dua belas lebih sepuluh menit. Ramzi mematikan dan menutup laptopnya. Beranjak dia meninggalkan meja kerja menuju mushola kompleks sekolah hendak menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Dalam langkah kecilnya, Mata Ramzi menangkap sesosok wanita berhijab merah jambu dengan memeluk mukena dari arah kantin menuju mushola yang sama. Dialah sang wanita sederhana yang telah menempati hati Ramzi. Wanita mandiri bernama Sifa yang memilih berjualan di salah satu kantin sekolah sejak tiga tahun lalu dan Ramzi mengajar di sekolah tersebut sekitar satu tahun yang lalu. Keduanya saling lempar senyum saat mata mereka beradu.
"Kantin siapa yang jaga, Dek?" tanya Ramzi begitu langkah mereka berhenti di halaman mushola. Pertanyaan yang sudah sering Ramzi lontarkan berkali kali tiap tak sengaja bertemu pujaan hati di halaman mushola.
"Kantin sebelah, Mas," Dan jawaban yang sama pula yang Sifa lontarkan.
Setelah kewajiban mereka tunaikan dengan di tutup bacaan doa dari hati masing masing, mereka beranjak keluar mushola hampir bersamaan.
"Abi nanti ngajakku, bertemu sama wanita yang akan dijodohkan dengan ku, Dek," ucap Ramzi tiba tiba. Dia terduduk di anak tangga mushola. Sifa terkejut. Ada rasa perih yang dirasakan dalam hatinya. Namun wanita itu mengulas senyum dan menatap wajah Ramzi dengan wajah yang menunjukkan seakan akan kalau dia baik baik.
"Turuti aja, Mas. Jika memang itu bisa membuat beliau bahagia," balas Sifa setenang mungkin. Meski ada getir saat kata itu meluncur dari bibirnya.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya Ramzi membalas tatapan wanitanya.
"Bohong kalau aku baik baik saja, Mas. Tapi kembali kita harus ingat, jodoh sudah ada yang mengatur. Kalau kita berjodoh, pasti akan ada jalan buat kita bersatu. Toh kita juga sedang sama sama berusaha dan berdoa, kan? Dan hasilnya mungkin akan kelihatan saat perjodohan Mas Ramzi berhasil atau tidak," jawaban Sifa lagi lagi membuat Ramzi selalu tenang. Dalam gundahnya akhirnya pria itu mengulas senyum.
"Baiklah, jika menurutmu seperti itu, aku akan mencoba menemui wanita itu nanti, Doa kan aja yang terbaik ya, Dek,"
"Tentu dong, Mas,"
Keduanya saling melempar senyum diatas kegundahan hati masing masing dan mereka pun kembali berpisah melanjutkan aktifitasnya.
...@@@@@...