
"Mba Sania menyukai Bang Raja, yah?"
"Hah!" tentu saja Sania kaget mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut gadis tersebut. Dan dia juga jadi salah tingkah."Ngarang kamu, Vit, mana ada?"
Vita memicingkan matanya. Sedangkan Sania, entah kenapa jadi gelagapan dipandang Vita setajam itu. Dia pun mengambil ponselnya untuk mengalihkan perhatian.
"Kalau suka, ngaku aja, Mbak? Entar Bang Raja di sambar perempuan lain,nyesel loh," ledek Vita sambil terkekeh.
Sania menoleh, kini giliran dia yang memicingkan mata. "Ngaco kamu, Vit. Aku tuh nggak suka pacaran."
"Loh! Siapa yang nyuruh pacaran? Aku kan cuma bilang, Mbak San menyukai Raja gitu. Bukan menyuruhnya pacaran. Hayu! Mbak Sania sebenarnya menyukainya namun Mbak Sania nggak mau pacaran, iya, kan?" tebak Vita sambil tergelak.
"Igh! Kalau ngomong asal aja," cibir Sania.
"Tapi benar, kan? Hahaha..."
"Tahu ah," Akhirnya Sania pun pasrah dan membiarkan Vita terpingkal sendirian.
Bisa dibilang kalau tebakan dan tuduhan Vita ada benarnya. Rasa suka tanpa sadar telah tumbuh dihati Sania. Dan Sania mengingkarinya karena prinsip yang dia pegang selama ini.
Sebagai seorang perempuan, menyukai laki laki secara spesial memang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Apa lagi semenjak dia menghabiskan waktunya di pesantren, sama sekali Sania tidak pernah merasakan jatuh cinta.
Meski tidak di pungkiri, akhir akhir ini dirinya sering kepikiran sosok laki laki yang dulu dia benci, namun dengan tegas dia menyangkal pada dirinya sendiri kalau itu bukanlah rasa suka dalam bentuk spesial.
Sementara di lain tempat, Raja juga kepikiran ucapan Abah Mudin. Raja memang menyukai Sania tapi jika dia ingin menunjukkan keseriusannya, apa mungkin dia akan di terima? Mengingat dua pria dengan kualitas agama yang baik saja Sania tolak apalagi dirinya.
Meski pun dia memiliki asaz kalau jodoh takkan kemana, tetap saja rasa takut membayanginya. Siapapun pasti sangat tidak ingin mengalami yang namanya penolakan. Walaupun Raja sering dengan tegas menolak perempuan yang mengungkapkan perasaan mereke kepadanya, namun dia tidak ingin merasakan hal yang sama. Egois? ya itu lah manusia.
"Ngelamun aja, Gan?" goda Anto yang terlihat baru datang dengan tangan menenteng bungkusan plastik.
Raja menoleh ke sumber suara, "Kamu bawa apaan itu, To?"
"Rujak, Gan. Mau?" tawar Anto sambil duduk di seberang meja. Raja hanya menggeleng. "Kok kayak galau gitu? Kenapa?"
"Bingung kenapa?" tanya Anto sambil mulai nenikmati rujak sayur dan ketupat tersebut.
"Kata Abah mudin, kalau aku memang serius suka dengan perempuan, aku harus nunjukin keseriusanku,"
Anto mencerna ucapan Raja, "Terus?"
"Gimana aku mau nunjukkin keseriusanku, To. kalau wanita yang ingin aku ajak berhubungan serius tuh anaknya," sambung Raja nampak dilema.
"Lah! Bukan kah itu kesempatan bagus? Kenapa malah kamu kelihatan galau?"
"Kamu tahu kan Sania tidak suka pacaran? Aku bahkan belum pernah menyentuh dia seujung kuku pun. Bagaimana aku berani mengatakan perasaanku coba? Apa lagi riwayat aku sangat buruk. Makin sulit," Melihat juragannya sefrustasi itu, Anto malah tergelak. Tidak biasanya Raja terlihat sefrustasi saat ini hanya karena perempuan.
"Astaga, Gan! Gimana kamu nggak bingung kalau kamu hanya menyimpan perasaanmu aja," tutur Anto.
"Maksudnya?"
"Gini yah, Juragan, jika kamu terus memendam perasaanmu, gimana kamu akan tahu jawaban dari kebimbanganmu? Yang ada kamu akan ragu terus dan keraguan itu akibat hasil dari pemikiranmu sendiri. Coba sih kamu ngomong jujur aja ke Sania. Entah nanti di tolak apa enggak urusan belakang. Yang penting kamu sudah memastikan dan ngasih tahu perasaanmu yany sebenarnya, Gan,"
Raja hanya terdiam sambil mencerna apa yang di ucapkan anak buah sekaligus temannya itu. Apa yang dikatakan Anto ternyata ada benarnya. Namun entah kenapa Raja masih ragu.
"Tapi, To..."
"Nggak perlu tapi tapian. Mabok dan koar koar aja berani, masa terus terang ke satu cewek nggak berani," cibir Anto.
"Widihh, kayak kamu paling berani aja, kamu kan juga jomblo abadi, To. Pake ngatain segala huu," Mereka pun sejenak saling ejek kemudian terbahak bersamaan.
Setelah selesai tertawa, Raja pun kembali terdiam. Tak lama kemudian dia pun berkata, "Kira kira waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan tuh kapan ya, To?"
...@@@@@...
Ramein juga karyaku di tempat sebelah yuk genks, ceritanya tak kalah seru loh dengan abang Raja. Mau tau judulnya? komen aja, nanti aku balas, okey. makasih buat semuanya yang setia mendukung kisah Raja.