Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 51



Entah apa yang akan Raja rencanakan kali ini yang pasti dia benar benar bertekad harus memiliki Sania secepatnya. Bertahun tahun dia memendam rasa pada gadis itu dan kini saatnya dia harus bisa memilikinya. Apalagi Raja dua kali mendapati Sania hendak di lamar laki laki lain. Hal itu membuat hati Raja terasa sesak dan juga bisa jadi akan ada laki laki lainnya yang berusaha mendapatkan Sania.


Raja sebenarnya sadar diri, dia merasa bukan laki laki alim yang sepadan dengan Sania. Tapi sebejat bejatnya seorang lelaki, dia juga menginginkan wanita baik baik untuk menjadi pendamping hidupnya. Begitu juga yang di impikan Raja.


Bahkan Raja merasa, kali ini dia seperti mendapat jalan mudah buat lebih dekat dengan gadis idamannya, tidak seperti saat saat sebelumnya ketika Sania masih sering kembali ke pondok pesantren.


Raja masih senyum senyum sendiri di kursi kebesarannya. Beberapa anak buah yang bekerja di gudang pun merasa heran dengan tingkah juragan mudanya. Sejak kedatangannya, Raja lebih banyak duduk sambil melamun dan senyum senyum tanpa sebab.


"Bang Raja!"


Seketika lamunan Raja buyar saat tiba tiba ada suara cempreng seorang wanita yang sangat menyebelkan. Raja menggeram. Entah kapan wanita ini akan berhenti mengejarnya. Dia bahkan tanpa malu malu datang ke gudang membuat Raja semakin muak terhadapnya.


"Bang, Nih," ucap wanita ganjen bernama Pipit sembari menaruh bungkusan plastik.


"Apa ini?" tanya Raja tanpa berniat menyentuh bungkusan yang Pipit sodorkan.


"Kemeja, buat Bang Raja. Pasti abang suka," balas Pipit sumringah. Senyumnya terus mengembang meski sikap Raja sangat dingin kepadanya.


Raja menghembuskan nafasnya dengan kasar. Matanya melirik kepada beberapa anak buah yang sedang duduk duduk tak jauh dari keberadaanya.


"Mang Hisam, sini," panggil Raja pada salah satu anak buahnya. Orang yang merasa di panggil pun mendekat.


"Ada apa, Juragan?" tanya pria yang usianya tak kalah jauh dari ayah Raja.


Raja mengambil bungkusan tersebut, "Buat Mang Hisam,"


"Loh, Bang! Itukan buat kamu? Kenapa di kasih ke orang?" tanya Pipit tak percaya. Ada gurat kecewa di wajahnya.


"Suka suka aku dong," balas Raja enteng.


"Bang, kenapa sih? Kamu tega banget sama aku? Bisa nggak sedikit saja kamu menghargai perasaanku, Bang? Sedikit saja?" ucap Pipit. Nadanya sedikit bergetar. Namun sepertinya Raja tidak peduli. Pria itu bahkan masih memandang sinis wanita yang masih berdiri di seberang meja.


"Apa? Menghargai sedikit perasaan kamu? Apa kamu nggak mikir? Apa kamu lupa, dulu kamu pernah berbuat kayak gini dan aku terima, tapi kamu malah ngelunjak bilang ke orang orang kalau aku menerima kamu dan akan bertunangan. Dan juga rongrongan orang tua kamu. Apa kalian mikir gimana malunya aku dan orang tuaku? Mikir nggak?" cerca Raja nampak begitu kesal. Sementara pipit, dia menunduk. Hatinya benar benar seperti di saat mendengar ucapan Raja.


"Tapi, Bang. Seenggaknya kasih aku kesempatan. Tolonglah Abang mencoba sebentar memahami perasaanku dan menerimanya," pinta Pipit masih dengan rasa berharap.


"Aku tidak akan pernah memberi kesempatan pada wanita manapun. Terserah kalau kamu bilang aku jahat dan tak berperasaan. Dari pada suatu saat nanti aku terjebak kesalah pahaman. Aku nggak mau itu terjadi. Aku tidak ingin menambah beban masalah dalam hidupku." balas Raja terus terang dengan sikap tenang.


"Tapi, Bang,"


"Sudah. Tidak ada tapi tapian. Jangan pernah berharap lagi sedikitpun tentang perasaanku," ucap Raja dan dia langsung beranjak meninggalkan Pipit yang mematung menatap nanar ke arahnya. Begitu juga anak buah yang menyaksikan kejadian itu. Mereka tidak menyangka, Raja juga setegas itu kepada wanita.


Sementara di tempat lain, Sania juga nampak gusar. Apalagi setelah ngobrol dengan kedua sahabatnya. Entah kenapa dia malah mendadak memikirkan pria yang seharusnya dia benci. Sania juga sedang merasa bingung mencari cara meminta maaf pada Raja. Berkali kali dia cek ponselnya, keadaannya masih sama, pesan chatnya centang dua abu abu.


"Mungkin aku harus minta maaf secara langsung, hm. Baiklah, aku coba nanti."


@@@@