
Prosesi pernikahan berjalan dengan lancar. Semua yang hadir juga turut merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang di alami Raja dan Sania.
Dari kursi pengantin, kedua mempelai tak kunjung menyurutkan senyum terbaiknya sebagai simbol betapa bersyukurnya mereka saat ini. Terutama Raja. Dia benar benar telah membuktikan kalau perjuangannya tidak sia sia.
Banyak yang menganggap remeh Raja saat mengetahui siapa wanita yang pria itu inginkan. Apalagi mengingat tingkah Raja membuat semua orang yang memandang buruk terhadapnya meragukan bahkan menertawakan keinginan Raja dan menganggap itu hanya mimpi belaka.
Nyatanya apa yang mereka anggap mimpi, kini menjadi nyata bagi Raja. Juragan empang berhasil membungkam puluhan mulut orang dengan tindakan dan kesabaran dalam meraih hati wanita yang bersanding disebelahnya.
Tepat selepas ashar, acara sakral pernikahan Raja dan Sania selesai dilaksanakan. Sekarang tinggal menunggu malam hari yaitu acara hadroh dan ceramah dari ustazdah perempuan yang namanya sudah terkenal dimana mana. Ustazdah dari kabupaten Cilacap sengaja Abah Mudin undang untuk memeriahkan serta mewakili rasa syukur atas pernikahan putri bungsunya.
"San, suruh Raja makan dulu. Mungkin dia sudah lapar." ucap Umi begitu melihat Sania keluar kamar dan sudah berganti pakaian.
"Baik Umi," balas Sania dan dia pun melangkahkan kakinya keluar rumah mencari sosok pria yang sekaranh menjadi suaminya.
Sania melihat Raja sedang ngobrol dengan beberapa anggota keluarganya. Sedangkan keluarga Raja sudah pulang semua dan mereka akan kembali lagi nanti saat acara pengajian selepas isya. Sania pun melangkah mendekati Raja.
"Bang," panggil Sania membuat pembicaraan yang Raja lakukan dengan saudara saudaranya sejenak terhenti.
Raja pun menoleh. Sang istri sudah berdiri di belakangnya. "Iya, Dek. Ada apa?"
"Mandi dulu, terus makan. Apa Abang nggak lapar?" ucap Sania. Sebenarnya dia canggung mengatakan hal tersebut. Namun bagaimana lagi, ini akan menjadi kebiasaannya kelak saat sudah hidup berdua.
Raja pun bangkit dan mengulas senyum, "Baiklah, antar Abang ke kamar ya?" Sania pun mengangguk.
Setelah pamit kepada saudara Sania, keduanya kini melangkah menuju kamar.
"Abang mandi aja dulu terus sholat di kamar aja. Aku tunggu disana ya, Bang?" ucap Sania begitu sampai di depan pintu kamar Sania. Raja pun mengangguk.
Raja tertegun sejenak begitu langkah kakinya memasuki kamar Sania yang kini juga akan menjadi kamarnya saat tinggal di rumah ini. Matanya mengedar kepenjuru sisi dengan bibir yang terus mengulum senyum.
Setelah puas memandangi kamar barunya, Raja pun bergegas meraih handuk yang sudah Sania siapkan dan melangkah menuju kamar mandi.
Hampir tiga puluh menit lamanya, Raja akhirnya nampak keluar kamar dengan penampilan yang sudah segar dan rapi. Matanya mencari sosok Sania dan di sudut ruangan terlihat wanita yang sedang dicarinya sedang bermain ponsel. Raja pun mengulas senyum dan mendekatinya.
"Lagi ngapain, Dek?" tanya Raja begitu sudah mendekat di tempat Sania berada.
Sania mendongak dan sedikit terkejut. "Lagi baca berita online aja, Bang. Abang duduk dulu yah? Aku ambil makanan."
Raja pun mengangguk dan setelah itu dia duduk dan membiarkan Sania pergi ke dalam. Tak butuh waktu lama, Sania pun kembali dengan kedua tangan memegang nampan berisi dua piring nasi beserta lauk dan dua gelas teh hangat.
"Kok porsi kamu sedikit banget sih, Dek. Punyaku malah terlalu banyak." ucap Raja heran setelah melihat isi dari dua piring.
"Aku kan makannya emang sedikit, Bang." balas Sania sembari menaruh nampan di deket dinding di belakang kursi yang Sania duduki.
Namun setelah menaruh nampan, mata Sania membelalak saat melihat Raja menyatukan nasi miliknya kedalam piring Raja.
"Aku nggak mau loh, istriku terlihat kurus, jadi kita makan sepiring berdua, biar adil." ucap Raja enteng dengan senyum terkulum.
Sejenak Sania mendengus namu akhirnya dia pasrah dan duduk kembali di sisi Raja.
"Mau makan sendiri atau aku suapin?" tawar Raja sambil cengengesan.
"Nggak, makan sendiri aja," balas Sania cepat sembari meraih sendok dihadapannya.
Raja hanya mengulum senyum dan akhirnya mereka pun menikmati makan sepiring berdua tanpa peduli tatapan saudara suadara Sania yang menggelengkan kepala melihat tingkah pengantin baru.
...@@@@@...