
"Maka itu, kamu lebih baik menjaga nama baik keluarga Mudin. Sampai hari pernikahan nanti, kamu jangan terlalu dekat dengan Sania dulu." Saran Bapak terlihat sangat serius dari sorot matanya.
"Apa? Tapi, Pak? Mana bisa?" Protes Raja. Wajahnya juga tidak kalah serius membalas tatapan sang Ayah.
"Ya harus bisa lah, Ja. Cuma sampai tanggal pernikahan kamu saja. Toh ini juga demi kebaikan kalian juga," ucap Bapak tetap teguh pada pendiriannya.
"Ya masa dilarang untuk ketemu, Pak? Kita kan belum mengenal satu sama lain? Belum tahu apa yang dia sukai dan tidak suka. Dan banyak hal yang harus dibicarakan, Pak." balas Raja yang tidak mau kalah.
"Kan bisa saling mengenal lewat telepon. Lagian orang sudah kenal lama juga. Entar kalau sudah nikah juga bisa cari tahu hal lainnya. Apa Bapak sendiri yang nyuruh Abah ngomong langsung sama kamu?" ucap Bapak sangat serius.
"Duh, ya jangan gitu dong, Pak," rengek Raja dengan wajah yang ditekuk.
"Udah. Jangan membantah. Daripada abah Mudin murka, apa susahnya sih nurut."
Mau tidak mau, Raja pun pasrah dan dia segera saja dengan langkah gontai kembali bergabung dengan anak buahnya. Anak buah yang melihat juragan mudanya cemberut, hanya bisa senyum senyum sambil menggelengkan kepalanya.
Ya. Demi meredam gosip yang beredar, Mudin dan Abdul mengambil tindakan yaitu mencegah anaknya untuk sering ketemu. Bagi Sania, dia tidak keberatan sama sekali. Tapi bagi Raja, itu seperti beban berat yang harus dia pikul sendirian. Bagaimana bisa disaat lagi senang senangnya malah dilarang ketemu sampai dua bulan menjelang.
Abdul dan Abah juga memutuskan membiarkan saja gosip yang mereka dengar dari para jama'ah pengajian Kyai Bahar. Mereka pikir akan sangat percuma jika Abah dan Abdul melawan. Mereka tahu benar karakter Kyai Bahar yang seolah enggan bercermin dengan dirinya sendiri.
Waktu kini menunjuk siang hari. Setelah selesai dari semua pekerjaannya, Raja memilih merebahkan tubuhnya di kamar yang ada di gudang. Dia meraih ponselnya dan dia terdiam saat menatap layar ponsel tersebut. Dia ingin mengajak Sania berbalas chat, namun dia bingung mengawalinya darimana.
Raja hanya menghembuskan nafasnya secara kasar dan gusar. Wajahnya nampak frustasi. Biasanya dia banyak alasan agar bisa dekat dengan Sania. Namun kali ini, Raja seperti kehilangan akal dan jalan pikirannya benar benar buntu. Raja bahkan sampai menggeram sendiri hingga lama lama rasa kantuk pun menghampirinya. Akhirnya dia memilih tidur siang itu saking bingungnya mau melakukan apa.
Sementara Sania kini sedang terlihat asyik ngobrol sama Vita di depan toko baju sambil menunggu pembeli datang. Sementara di tangan masing masing, mereka memegang es teh yang dikemas pakai plastik sebagai pelepas dahaga dikala panas seperti siang ini.
"Ya bahagia dong, Vit. Nanti juga kamu akan merasakannya suatu hari nanti," balas Sania.
"Aamiin. Mbak San sama Bang Raja pacaran berapa lama sih?" tanya Vita. Entah dia lupa atau bagaimana saat itu. Padahal dia tahu wanita yang duduk disebelahnya tidak suka berpacaran.
"Nggak pake pacaran, Vit. Bang Raja langsung melamar gitu," cicit Sania dengan wajah sedikit malu.
"Wah, romantisnya. Berarti pacarannya setelah menikah nanti ya, Mba?" tanya Vita lagi hingga Sania pun merasa tergelitik. Setiap ngobrol berdua, memang Vita lah yang selalu lebih banyak melempar pertanyaan. Jiwa keingin tahuannya tinggi.
"Ada ada aja kamu, Vit. Mana ada pacaran setelah menikah?" ucap Sania.
"Ya adalah, Mbak. Banyak malah, istilahnya jaman sekarang kan gitu, pacaran setelah menikah daripada berbuat zina," balas Vita berapi api. Dan lagi lagi Sania hanya tertawa kecil mendengar istilah baru jaman sekarang meski di pikir pikir ada benarnya juga.
Disaat bersamaan, Sania melihat Abahnya datang dengan wajah ditekuk. Jika diperhatikan dari wajahnya, Sania merasa Abah ada masalah. Padahal tadi sebelum ke masjid pasar bapak terlihat baik baik saja. Sania pun beranjak menyusul Abah ke dalam.
"Abah kenapa? Kok wajahnya masam gitu?" tanya Sania.
Abah menatap anaknya dan menghela nafas dalam dalam kemudian dengan kasar dia hembuskan. "Abah abis berdebat sama Kyai Bahar."
"Apa!"
...@@@@@...