
Sania benar benar merasa dipermalukan saat itu. Bahkan banyak orang yang menertawakannya. Seketika airmata Sania pecah, dia menampar Raja sekali kemudian dia segera lari menuju keluar lapangan.
"Keterlaluan kamu! Seenaknya kamu mempermalukan perempuan!" Maki teman Sania.
Raja menanggapi ucapan teman Sania dengan tertawa bangga. Namun tawa itu seketika terhenti saat dia mendengar kasak kusuk orang yang bersuara menyebut keluarga Sania.
"Ya ampun keterlaluan banget, itu kan anak Ustad Mudin."
"Wah Ustad Mudin bisa murka nih."
"Anak anak nggak tahu diri, anak Ustad dilecehkan, mampus dah!"
Dan masih banyak umpatan umpatan yang membuat Raja dan teman temannya seketika terbungkam. Mereka tahu benar, Ustad Mudin adalah orang paling di hormati di kampung itu. Bahkan orang tua Raja sangat akrab dengan Ustad Mudin. Seketika wajah Raja semakin panik, dia tahu benar orangtuanya pasti akan murka sekali karena perbuatannya.
Benar saja, berita tentang perbuatan Raja langsung menyebar dan sampai ke telinga masing masing orang tua. Tentu saja kedua pihak orang tua murka mendengarnya. Apalagi orangtua Raja. Selain murka tentu saja dia merasa malu. Mereka yang sangat menghormati keluarga Ustad Mudin tentu saja seperti kehilangan muka.
"Kamu benar benar anak nggak tahu diri! Udah jauh dari ibadah. Sukanya ngumpul ngumpul nggak jelas. Dan sekarang seenaknya melecehkan anak Ustad. Kamu punya otak nggak sih, Hah!" Murka Abdul. Raja hanya bisa terdiam dan memunduk.
"Tapi aku nggak sengaja, Bu! Itu spontan." Kilah Raja.
"Spontan kepalamu itu! Jelas jelas saksi mata bilang kamu sengaja menggoda dan mempermalukannya di depan orang banyak. Kamu seenaknya itu nggak sengaja? Dasar nggak punya otak kamu! Dipikirnya nggak banyak mata yang melihat apa gimana?" Bentak Abdul dan Raja benar benar terbungkam, tak bisa berkata kata lagi.
"Ikut Bapak, dan minta maaf segera sama keluarga Ustad Mudin." Titah Abdul. Segera saja dia menarik paksa anaknya.
Di rumah Ustad Mudin, Raja dan Abdul masih di sambut dengan baik. Dengan tenang Ustad Mudin menghadapi Abdul dan anaknya. Namun sayang, karena kejadian itu, Sania memutuskan kembali ke pondok saat itu juga. Mendengar cerita Ustad Mudin, membuat Raja semakin merasa bersalah.
Raja benar benar menyesali perbuatannya. Namun sejak saat kejadian itu, Raja menjadi sangat berhasrat sama Sania. Hatinya bergetar, dan darahnya seakan mendidih tiap kali dia teringat bersatunya bibir dengan perempuan manis tersebut. Dan karena hal itu lah dia bertekad akan mengejar Sania.
Namun sayang pengejaran dia benar benar tak berjalan mulus. Tiap dia mendengar Sania pulang kampung selalu penolakan yang dia dapat. Bahkan Sania selalu berusaha menghindar. Penolakan Sania tak pernah membuat Raja patah semangat dan dia bertekad akan mengejar Sania sampai kapanpun dan bertekad hanya Sania yang akan di jadikan istri.
Dan karena itu juga, Raja hanya fokus mengembangkan usahanya dan terang terangan menolak puluhan wanita demi Sania. Hasratnya benar benar dia pendam demi menjadi yang pertama buat Sania karena ciuman yang dia lakukan juga ciuman pertama antara dirinya dan Sania maka dia berjanji pada diri sendiri, Sania harus jadi miliknya.
@@@@@