
"Pipit?" Pekik Raja. Mata Raja menyipit. Penampilan perempuan yang selalu mengejarnya benar benar berubah seratus delapan puluh derajat.
Pipit. Salah satu wanita dari sekian banyak wanita yang mengejar cinta juragan muda itu sangat layak diacungi jempol. Sejak tiga tahun yang lalu perempuan itu mengejar cinta sang juragan. Berbagai cara dan upaya dia lakukan. Dari menyatakan secara terang terangan sampai menggoda Raja setiap ada kesempatan.
Terang saja Raja terkejut. Selama ini, Pipit tak pernah memakai pakaian tertutup. Pakaian pakaiannya didominasi oleh pakaian ketat yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya. Maka itu Raja benar benar terkejut melihat penampilan Pipit yang sekarang. Namun sayang, meski berkerudung, lekuk tubuh Pipit masih terlihat dimana mana. Apa lagi bagian perutnya. Tidak rata sama sekali. Jadi mirip lontong.
"Kamu ngapain kesini malam malam?" Tanya Raja. Dia tak segera duduk. Raja memilih berdiri di belakang kursi yang ayahnya duduki.
"Ingin bertemu dengan kamu dong, Abang." Balas Pipit sembari tersenyum penuh genit.
"Dari tadi dia nungguin kamu, Ja. Katanya ada yang ingin dia omongin." Ucap Bapak.
"Ya udah yuk, Pak. Kita masuk. Raja sudah datang ini." Ajak Ibu.
"Bu, ntar dulu. Ngapain langsung masuk? Temeni Raja." pinta Raja. Nampak jelas sekali dari wajahnya, dia begitu malas menemui perempuan yang sedang tersenyum tapi tidak kelihatan manis.
"Ini urusan anak muda. Ngapain kita harus disini. Pipit, Tante sama Om masuk dulu yah? Udah malam." Pamit Ibu.
"Iya Tante. Silahkan." Balas Pipit ramah.
Dan tak lama kemudian kedua orang tua Raja sudah tenggelam dari balik pintu. Kini hanya tinggal dua manusia berbeda jenis. Yang satu tersenyum cerah, yang satu berwajah masam.
"Ada perlu apa? Kamu malam malam kesini?" Tanya Raja ketus. Dia sama sekali tidak duduk. Hanya berdiri di tempat yang sama.
"Ya pengin ketemu kamu lah, Bang. Nih aku sudah berubah." Tunjuk Pipit.
"Liat pakaian aku, Bang? Aku juga berkerudung. Masa kamu nggak lihat perubahan aku?" Rajuk Pipit. Dia berdiri dan hendak mendekati Raja. Seketika Raja berpindah posisi melangkah ke arah lain. Pipit mendengus. Lagi lagi Raja terang terangan menghindarinya.
"Kamu kenapa sih, Bang? Selalu menghindar dari aku? Apa aku menjijikkan?" Cicit Pipit dengan wajah sendu.
"Ya karena aku nggak suka. Masa orang nggak suka harus mendekat?" Ucap Raja dengan sebalnya.
"Tapi kan aku sekarang sudah berubah, Bang. Aku bukan Pipit yang dulu lagi. Lihat! Sekarang aku berkerudung. Aku melakukan semua ini untuk kamu, Bang. Lagian kan Bang Raja tahu, kita udah di jodohin sejak tiga tahun lalu." Balas Pipit dan ucapannya semakin membuat Raja kesal.
Kata perjodohan selalu digunakan sebagai senjata tiap Pipit merasa terdesak. Padahal perempuan itu tahu, asal mula perjodohan itu karena ulah orang tuanya sendiri yang sudah lancang memberi tahu beberapa tetangganya kalau Pipit akan di jodohkan dengan Raja. Sedangkan Raja dan keluarganya, tidak tahu menahu akan hal itu.
Orang tua Raja sempat kesal dengan berita tersebut. Mereka bahkan sudah mendatangi orang tua Pipit. Namun justru kedatangan mereka diperalat orang tua Pipit sebagai bukti kalau perjodohan itu nyata. Berkali kali keluarga Raja menyangkal namun sayang kelakuan Raja sering mematahkan penyangkalan keluarganya. Beberapa kali Pipit selalu menemui Raja saat pria itu berkumpul bersama teman temannya.
Beberapa gosip menyatakan Raja dan Pipit memang pasangan yang serasi. Raja tukang mabuk dan Pipit tukang mengumbar aurat.
"Bang, duduk napa? Nggak cape apa berdiri mulu?" Tawar Pipit.
"Nggak! Ntar kamu terlalu pede mendekat. Katanya berubah, tapi masih nyosor ke laki laki. Berubah sebelah mananya?" Cibir Raja.
Di sindir seperti itu, Pipit bukannya marah malah terlihat senang. Di saat Raja dan Pipit berdebat, Dari arah gerbang terlihat seseorang masuk ke pelataran rumah Raja dengan langkah kaki begitu cepat. Dahi Raja mengernyit melihat kedatangan orang itu. Begitu juga Pipit, dia terkejut dengan kedatangan orang tersebut. Orang itu menatap tajam ke arah Pipit dan Raja begitu langkah kakinya mengingjak teras rumah. Orang itu terlihat sedang menahan amarah dengan nafas yang memburu. Raja hendak mengeluarkan suaranya namun tertahan karena tiba tiba orang itu bersuara dengan lantang.
"Pipit! Kenapa kamu berada di sini!"
...@@@@@...