Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 35



Hari kini berganti lagi. Dan seperti hari hari kemarin, hari ini Raja sudah terlihat sibuk di gudang pemilahan bandeng dengan Bapak dan anak buahnya. Raja memilih ikut memilah bandeng sesuai ukuran, sedangkan sang Bapak mengawasi para karyawan yang bertugas menimbang dan mengangkut bandeng bandeng tersebut untuk di distribusikan ke berbagai daerah.


Abdul yang sedang mengawasi sambil duduk di dekat meja yang berserekan buku catatan, dikejutkan dengan salah satu anak buahnya yang tiba tiba menggantungkan bungkusan plastik hitam di deket meja.


"Itu apaan, Sam?" tanya Abdul.


"Oh, ini, pesenan Raja, Juragan. Bandeng tiga ekor," mendengar jawaban anak buahnya, Abdul tercengang dengan dahi yang berlipat. Tiga buah bandeng dengan bobot mencapai satu kilo perekornya, Raja pisahkan. Tentu saja timbul pertanyaan dalam benak Abdul.


"Pesenan Raja? untuk apaan?" tanya Abdul lagi.


"Nggak tahu, Juragan. Aku cuma di suruh," jawab anak buahnya lagi sambil berlalu menuju tempat pemilahan kembali. Sedangkan Abdul masih dalam masa penasaran tidak menemukan jawabannya. Dia kembali melanjutkan dengan apa yang dia kerjakan sejak tadi.


Saat waktu beranjak siang, Raja sudah terlihat rapi dan segar dengan baju yang berbeda. Di dalam gudang tersebut, Raja sengaja membuat kamar pribadi untuk keprluan dia. Jadi saat pekerjaan di tambak dan gudang selesai, Raja tidak perlu pulang untuk sekedar mandi karena di situ, Raja melengkapi segala fasilitas yang dia butuhkan dan juga fasilitas lain yang bisa di gunakan untuk anak buahnya.


"Bandeng buat siapa, Ja?" tanya Bapak begitu melihat Raja mendekat dan mengambil bungkusan plastik. Bapak masih berada di tempat yang sama sedari tadi.


"Buat Abah Mudin, Pak," jawab Raja enteng.


"Astaga! Buat nyogog biar dekat dengan Sania?" tanya Abdul dengan wajah terkejut.


"Ya bukan gitu, Pak. Ini sebagai tanda terima kasih aja karena Sania mau ngajarin aku ngaji," jawab Raja dengan raut wajah yang sangat nampak serius. Sengaja dia memasang wajah begitu agar bapaknya tidak curiga kalau itu hanya akal akalan dia saja.


Abdul hanya manggut manggut meski dia tahu tujuan Raja apa, tapi dia pura pura percaya saja. Raja pun akhirnya pamit dan bergegas menuju ke arah dimana motornya yang terparkir.


Waktu terus berjalan. Di dalam rumahnya, Sania terlihat sedang bersiap siap hendak pergi ke toko. Sebelum berangkat, seperti biasa. Dia menyiapkan bekal buat makan siang. Sania biasa berangkat ke toko jam sepuluh dan pulang jam tiga. Sedangkan Abah dan Uminya sudah berada di toko sejak pukul setengah delapan pagi.


Setelah merasa semuanya beres dan siap, Sania bergegas mengambil kunci motor serta tas dan tak lupa bekal yang sudah siap, dia tenteng menuju keluar rumah. Dan begitu keluar rumah dia dikejutkan dengan suara.


"Assalamu'alaikum Dedek Sansan," Wajah ceria Sania seketika langsung berubah masam begitu dia dapat sapaan dari pria yang sangat ingin dia hindari.


"Ini, disuruh nganter Bandeng oleh Bapak, Uminya ada?" ucap Raja. Padahal dia tahu, Umi Sarah saat ini pasti tidak ada di rumah.


"Umi di pasar." jawab Sania singkat.


"Yah, trus ini gimana dong? Nggak enak kalau di bawa pulang lagi," keluh Raja. Wajahnya berubah sendu. Sania mendengus sebal.


"Ya udah sini, biar aku yang terima, nanti aku sampein sama Umi," usul Sania dan wajah Raja seketika kembali ceria.


"Ide bagus, tuh," ucap Raja antusias dan dia segera menyerahkan kantung plastik ke tangan Sania.


Sania kembali masuk ke dalam menaruh bungkusan plastik ke dalam kulkas kemudian keluar lagi.


"Ada apa lagi?" tanya Sania begitu matanya menangkap Raja masih duduk di atas motornya di halaman rumah Sania.


"Nggak ada," jawab Raja singkat.


"Lah terus? Ngapain masih disini? Aku mau ke pasar?" ucap Sania sambil beranjak menuju motornya yang berada tak jauh dari tempat mereka berada.


"Oh, ya udah, ayok bareng, aku juga mau ke pasar," balas Raja.


"Mau ngapaian?" tanya Sania heran.


"Udah ayok jalan, entar juga tahu,"


Sania mendengus. Segera saja dia menaiki motornya serta menyalakan mesin dan menjalankannya. Raja pun mengikutinya dengan perasaan suka cita. Entah ada rencana apa lagi di pikirannya, namun yang pasti semua ini demi bisa meluluhkan hati gadis pujaannya.


...@@@@@...