Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 94



"Apa! Kyai Bahar ngejelek jelekin Abah?" tanya Raja syok. Tentu saja berita itu sangat mengejutkan.


"Iya. Gara gara lamaran anaknya di tolak, eh katanya Ustadz Mudin nggak bisa mendidik anak." lanjut Kirno bercerita.


"Sialan itu Kyai! Aku harus bertindak ini!" ucap Raja lantang. Dia bahkan sudah tidak peduli dengan buku catatan yang dipegangnya.


Anto menghela nafasnya berat. Dia menoleh ke arah Kirno terus menggeleng beberapa kali. "Tuh kan, No. Udah aku bilang jangan cerita dulu. Pekerjaan kita bakalan tertunda."


Kirno pun hanya bisa nyengir. Raja begitu terlihat emosi. Entah apa yang sedang Raja pikirkan, namun nafasnya kembang kempis dengan tatapan tajam ke arah lain.


"Apa Kyai Bahar ngomongin Dekdek Sansan juga?" tanya Raja sembari menoleh dan menatap tajam Kirno.


Dengan pelan, Kirno pun mengangguk dan dia berkata, "Katanya Sania berteman sama seorang brandal jadi dia menolak lamaran anak baik baik."


"Brengsek itu Kyai! Orang anaknya aja nolak!" ucap Raja berang. "Ini kamu dengar sendiri apa gimana, Kir?" tanya Raja masih dengan emosi yang sama.


"Bapakku yang cerita. Kemarin pas kumpulan pengurus masjid. Bukannya membahas hal hal kemasjidan malah Kyai Bahar lebih fokus menceritakan tentang Ustadz Mudin. Semua pengurus juga kaget. Tapi kamu tahu sendiri kan? Nggak ada yang mau menasehati Kyai Bahar? Jadi beliau merasa benar." Terang Kirno. Wajah Raja terlihat begitu kesal. Seandainya Kyai Bahar di hadapannya, entah makian apa yang akan Raja lontarkan. Dia sungguh sangat geram.


"Ya udah lah, Gan. Jangan terlalu di pikirin." ucap Anto.


"Gimana nggak dipikirin? Ini menyangkut Dedek Sansanku, Anto! Ini namanya fitnah! Orang si Ramzi juga nolak, kenapa malah nuduhnya Sania doang? Berarti secara tak langsung dia nuduh aku kan?" ucap Raja lantang. Anto dan Kirno pun hanya saling pandang. Kalau Raja sudah marah begini, bagaimana mengatasinya? Yang ada susah.


"Terus Juragan mau ngapain? Mau ke rumah Kyai Bahar buat labrak?" Raja hanya menatap sinis takkala Anto mengatakan hal itu.


"Kyai seperti dia itu harus di lawan. Kalau di diemin dia bisa nglunjak. Dari dulu nggak ada yang berani sama Bahar jadi dia nglunjak tuh. Mentang mentang dihormati, dia lupa daratan," ucap Raja berapi api. Amarahnya meluap begitu saja.


"Huu! Payah! Awas aja kalau ketemu, aku habisi dia!" ancam Raja.


"Hii ngeri!" ucap Anto dan Kirno hampir bersamaan.


"Nanti kalian nemenin aku nganterin motor ke rumah Sania ya?" pinta Raja begitu amarahnya reda dan kedua anak buahnya hanya mengangguk. Mereka kembil menulis dan membuat laporan.


Sementara di rumah Abah Mudin. Suasana tegang pun di rasakan oleh ke empat orang orang tua yang duduk di ruang tamu rumah tersebut. Mereka sedang menunggu jawaban atas nama Raja untuk Sania.


"Sebenarnya Abah juga ingin mengutarakan hal ini sama kamu, San. Abah nunggu waktu. Eh malah Abdul datang duluan dan ngomongin hal ini. Ya Udah kebetulan kalau gitu." ucap Abah saat melihat anaknya menjeda ucapannya.


Kini Sania menatap Abah dengan kening berkerut dan dilontarkannya pertanyaan, "Maksud Abah?"


Abah menghela nafasnya sejenak. Ditatapnya anak gadisnya lekat lekat. Abah pun berkata, "Kedekatan kamu dengan Raja akhir akhir ini pasti banyak orang yang tahu. Dan mungkin banyak juga yang ngomongin orang di belakangmu. Daripada mereka terjerumus dosa karena fitnah, Abah ingin kamu memperjelas hubungan kamu sama Raja. Mau ke jenjang yang lebih halal atau berpisah baik baik. Setidaknya kita mengurangi dosa mereka akibat gunjingan orang terhadap kita."


Sania terdiam, namun pikiranya berjalan memikirkan perkataan Abah. Sania membenarkan perkataan orangtuanya itu. Fitnah dan ghibah terjadi karena kelakuan orang yang bersangkutan. yang menurut diri sendiri baik, belum tentu menurut pandangan mereka. Secuek apapun kita menahan diri agar tidak terpengaruh dengan penilaian orang lain, namun hati kita akan tetap merasa tersentil dan tak nyaman dengan penulaian tersebut.


Arah pandang Sania pun beralih ke dua orang tamu yang sedang menunggu jawaban dari Sania. Sania kembali menghela nafasnya dalam dalam kemudian dengan pelan dia hembuskan. Dan Sania pun bersuara, "Baiklah Om tante, aku terima niat baik, Om dan Tante."


"Alhamdulillah."


...@@@@@...