
Sore kini menjelang. Sania terlihat sedang merapikan diri dan bersiap siap untuk pergi mengajar ngaji seperti biasanya setelah mandi dan melakukan kewajibannya sebagai muslim. Hati Sania sebenarnya masih gundah. Dia bingung, entah apa yang akan terjadi nanti saat dia mengajar ngaji Raja. Sedangkan keadaannya Raja masih dalam kondisi marah. Itu menurut pemikiran Sania.
"San, besok Umi sama Abah, mau ke kebumen jenguk Pakdhe. Katanya dia masuk rumah sakit," ucap Umi begitu melihat Sania keluar dari kamarnya.
"Pakde sakit apa, Mi?" tanya Sania terkejut mendengar kabar dari Umi.
"Katanya ada masalah dengan jantungnya,"
"Berapa hari Umi disana? Jangan kelamaan, aku aku takut sendirian," ucap Sania sembari menghampiri sang umi yang sedang memotong semangka.
"Ya nggak tahu, mungkin dua hari, tergantung Abah nanti. Udah segede gitu masa masih takut aja?" cibir Umi.
"Ya ampun, Mi, yang namanya takut nggak pandang usia lah. Nanti suruh Bang Amar atau Mbak Nisa nginep sini ya?" pinta Sania.
"Ya udah nanti Umi bilang sama Abah. Mereka mau nggak,"
"Oke, Udah sore, Sania berangkat dulu Umi, Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikum salam,"
Sania bergegas keluar rumah menuju ke arah motornya terparkir. Sesaat kemudian motor Sania pun telah melaju ke tempat tujuan dengan kecepatan sedang.
Sementara di rumah, Raja juga terlihat sudah mandi. Namun kali ini, dia terlihat memakai baju santai.
"Nggak nemenin Altaf ngaji, Ja?" tanya Ibu begitu anaknya duduk menghampiri dirinya yang sedang asyik makan pecel dari warung depan.
"Lagi nggak, Bu. Males," jawab Raja seraya mencomot gorengan yang terhidang di meja.
"Emang Sania nggak ngajar?" pertanyaan Ibu membuat Raja seketika salah tingkah.
"Nggak tahu, emang apa hubungannya Sania ngajar atau enggak?" balas Raja pura pura acuh.
"Emang kamu sudah nggak belajar ngaji lagi?" Raja menyipitkan matanya merasa heran dengan pertanyaan Ibu yang seolah sedang menyelidiki sesuatu.
"Masih, nanti juga ngajar," balas Raja meski hatinya bertanya tanya.
"Ya syukurlah, Kirain cuma semangat di awal doang," Raja hanya mendengus mendengar sang ibu seperti meragukan keseriusannya.
"Ke empanglah, pake pura pura tanya,"
"Ya kali aja kali beda," kilah Raja.
Waktu pun terus berjalan. Terlihat Sania saat ini sedang mengajar anak anak dengan riang. Meski hatinya kian gelisah, namun dia harus bisa menyembunyikan kegelisahan tersebut di hadapan para santri dan beberapa orangtua santri. Kegelisahan Sania disebabkan karena waktu untuk ke rumah Raja semakin dekat, sedangkan keadaan saat ini tidak sama dengan hari kemarin.
Tak lama kemudian waktu belajar pun habis. Kini anak anak berhambur keluar setelah menjawab salam yang diucapkan sang ustadzah. Setelah keadaan hening, giliran Sania yang beranjak keluar. Dalam langkahnya menuju motor, hati Sania kini semakin gelisah saja.
"Kenapa aku deg degan banget kayak gini sih?" gumamnya saat dia telah duduk di atas motor. Ucapan Sania bahkan sampai tergagap saat rekan mengajarnya menyapa dan saling pamit undur diri. Dengan menghela nafas berkali kali, akhirnya motor Sania pun melaju menuju rumah Raja.
Hanya butuh waktu sedikit, motor Sania sudah sampai di pelataran rumah Raja. Terlihat di kursi teras, Sania sudah di sambut tiga orang penghuni rumah. Ada Ibu Lastri, Rumi dan tentu saja Raja yang tingkahnya semakin aneh. Rumi segera berdiri menghampiri Sania.
"Assalamu'alaikum Tante," sapa Sania santun.
"Wa'alaikum salam," jawab Lastri dan Rumi bersamaan. Sedangkan Raja menjawab salam dalam hati.
"Duduk dulu, Mbak, bareng kita. Mumpung belum maghrib," ajak Rumi dan Sania pun menurutinya.
Seketika Raja dan Sania merasa canggung bersamaan. Dalam hati sebenarnya Raja girang bukan kepalang, namun demi gengsi, dia berusaha menahan rasa gembiranya. Sementara disebelahnya, Sania merasa tak enak hati melihat sikap dingin Raja. Mulut laki laki itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sedangkan Rumi yang memahami keadaan keduanya nampak sedikit heran namun dia tidak berniat mengungkapkannya.
"Gimana, San. Ngajar mereka berdua? Banyak kesulitan enggak?" tanya Lastri.
"Enggak tante. Cuma sekedar membetulkan bacaan saja kok," balas Sania.
"Tapi beruntung sih, Malam ini Mbak Sania ada disini," ucap Rumi yang mulutnya sibuk mengunyah gorengan.
"Beruntung? Beruntung kenapa?" tanya Ibu.
"Ya beruntung, Bu. Ada Mbak Sania. Kalau enggak, pasti nanti malam Bang Raja berangkat nonton dangdut di rumah juragan Kadir, dan pastinya pesta lagi,"
Deg
...@@@@@...