
"Udah siap belum, Rum?" teriak Raja dari teras depan rumah. Tapi tak ada sahutan dari seseorang yang baru saja dia panggil.
Raja terlihat sudah sangat rapi dengan memakai baju koko lengan pendek warna hitam dan sarung polos warna putih. Seperti yang sudah direncanakan, malam ini dia dan sang adik akan belajar mengaji di rumah Sania.
Hati Raja sebenarnya saat ini sangat gundah. Karena dia tahu malam nanti di rumah Sania akan kedatangan tamu penting yang bertujuan sangat istimewa. Hati Raja semakin resah saat Sania berkata kepadanya kalau perempuan itu juga bingung karena ini menyangkut hubungan baik antara Abah Mudin dan sang tamu yang tak lain adalah Kyai Bahar.
Tidak di pungkiri, Raja juga sebenarnya sangat ingin meminta ta'arufan dengan dengan Sania. Namun pria itu sadar diri, betapa sikap Sania seperti membangun tembok yang tinggi di dalam hatinya. Apalagi Raja pernah berbuat sesuatu yang menumbuhkan rasa benci di hati Sania, maka itu dirinya semakin tidak berani jika langsung berterus terang tentang perasaannya.
"Rumi!" teriak Raja lantang.
"Iya, iya," sahut sang adik sambil berjalan cepat menuju pintu.
"Lama amat," sungut Raja dan Rumi hanya menyungngingkan senyumnya.
"Bu, kita berangkat dulu," pamit Raja kepada sang ibu yang juga sedang duduk di kursi teras.
"Iya, baik baik belajarnya. Salam buat Abah Mudin dan Umi Sarah, Ja," sahut sang Ibu.
Raja pun mengangguk dan setelah mengucap salam, mereka bergegas menuju motor matic yang biasa di gunakan Rumi. Sesaat kemudian motorpun melaju menembus jalanan.
Tak butuh waktu lama, kini motor yang dikemudikan Raja telah sampai di pelataran rumah Sania. Terlihat disana Abah Mudin sedang duduk santai dengan salah satu tangan memegang gelang tasbih.
"Assalamu'alaikum, Bah." sapa Raja dan Rumi begitu kaki mereka melangkah di teras menuju ke arah Abah Mudin.
"Wa'alaikum salam, duduk Ja, Rum," balas Abah.
"Mba Sanianya mana, Bah?" tanya Rumi.
"Oh, aku boleh masuk nggak, Bah? Daripada bengong disini, mending kan bantu bantu," pinta Rumi.
"Ya udah masuk aja. Biar Raja di sini sama Abah sampe maghrib,"
Rumi pun dengan cepat mengangguk dan bergegas masuk ke dalam rumah Abah Mudin.
Benar saja, di ruang dapur terlihat Sania dan Umi Sarah sedang sibuk menyiapkan beberapa makanan. Saking fokusnya, ibu dan anak tersebut sedikit terkejut waktu Rumi mengucap salam. Umi dan Sania pun serentak membalas salam Rumi dan melempar beberapa pertanyaan mengenai kedatanganyya.
"Ada yang bisa aku bantu nggak nih, Umi?" tanya Rumi sambil melihat Sania yang sedang menggoreng pisang.
"Udah selesai kok, Rum. Cuma masak sedikit saja," balas Umi.
Rumi pun manggut manggut. Dia sudah tahu dari sang kakak, kalau malam ini akan ada tamu di rumah Sania. Sebenarnya dia merasa prihatin dan tidak tega waktu sang kakak mengatakan kalau malam ini Sania akan dijodohkan. Sebagai adik dan sebagai perempuan, Rumi tahu betul perasaan Raja pada perempuan yang sedang sibuk menggoreng tersebut. Rumi ingin membantu namun dia bingung, bantuan apa yang akan dia berikan.
Di teras rumah, Raja pun nampak serius sedang bercengkrama dengan Abah Mudin. Banyak hal yang mereka bicarakan, termasuk nasehat nasehat yang diucapkan Abah untuk pria muda di hadapannya. Saking asyiknya mereka ngobrol, tak terasa adzan maghrib pun terdengar berkumandang. Abah mengajak Raja masuk dan mereka pun sholat berjamaah bareng di rumah Abah Mudin.
Setelah selesai sholat, Raja dan Rumi pun kembali belajar mengaji bersama Sania. Mereka terlihat serius hingga beberapa menit kemudian, mereka mendengar ada seseoeang mengucap salam dari arah pintu utama. Mau tidak mau belajar mengaji mereka pun terhenti. Mereka tahu siapa tamu yang datang. Sania berbegas beranjak menuju ruang tamu. Dan Raja serta Rumi pun mengikutinya.
Terlihat di ruang tamu, tiga orang yang mereka kenal sudah duduk dengan Abah dan Umi. Nampak dari tatapan dua pria diantara tiga tamu itu menatap tajam ke arah Raja dan Sania berada. Entah apa yang mereka pikirkan. Yang pasti saat ini hati Raja semakin gelisah berada dalam keadaan seperti ini.
"Ya Tuhan, semoga apa yang aku takutkan, malam ini tidak terjadi, aku mohon Tuhan," batin Raja berdoa.
...@@@@@...