Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 20



"Pipit! Kenapa kamu berada disini?" Tanya suara orang itu sedikit teriak dan dia segera maju mendekat ke tempat Pipit berada. Pipit yang awalnya terkejut dengan kehadiran orang tersebut hanya mendengus sebal dan dia memalingkan wajahnya.


Raja memutar bola matanya malas. Lagi lagi orang agresif berjenis perempuan yang mengharapkan dirinya kini berada di teras rumahnya. Sudah dipastikan dua perempuan ini pasti akan adu mulut seperti yang sudah sudah. Kini Raja bersiap siap hendak masuk namun ketika dia melangkahkan kakinya ke arah pintu, tiba tiba tangannya dicekal.


"Mau kemana, Bang?" Tanya perempuan itu benar benar bikin Raja muak. Dengan keras dia menghempas tangan itu kuat kuat.


"Jangan berani pegang pegang!" Hardik Raja tajam. Pipit tergelak melihat raut wajah kesal perempuan itu.


"Ya ampun, kasian banget yang tangannya di hempas. Sakit ya? Kecewa ya? Bagaimana rasanya ditolak mentah mentah?" Ledek Pipit dengan angkuhnya. Padahal nasib dia juga sama dengan perempuan itu. Di abaikan oleh pria yang dipujanya.


"Diam kamu! Perempuan tak tahu malu!" Bentak perempuan itu.


"Siapa yang nggak tahu malu, Nunik Sayang? Aku atau kamu?" Cibir Pipit dengan senyum sinisnya.


"Heh! Kamu jadi cewek nggak tahu diri banget sih? Udah jelas jelas Raja nolak kamu, masih saja berharap perjodohan itu terjadi. Mau numpang kaya?" Hardik perempuan bernama Nunik tak kalah sengit.


"Eh, Jaga mulut kamu. Kamu nggak tahu apa kekayaan keluarga Pak Broto? Setara dengan keluarga Raja. Jadi wajar dong kalau aku dijodohkan dengan dia. Ngga seperti kamu." Ucap Pipit angkuh.


"Baru segitu aja sombongnya amit amit. Emangnya aku nggak tahu, keluargamu kaya karena apa? Cih, mending aku. Meski tak terlalu kaya tapi keluargaku sangat di hormati. Kalau diijinkan, pasti ayahku akan bertahan sangat lama memimpin kampung ini. Tahu kan kebaikan ayahku gimana?" Balas Nunik tak kalah angkuh.


Raja yang sudah sangat jengah dengan tingkah kedua perempuan yang entah harga dirinya berada dimana, segera saja dia masuk ke dalam rumah tanpa kedua perempuan itu sadari.


"Bang Raja! Kenapa aku ditinggal?" teriak Nunik.


"Bang! Kok Abang tega sih, aku udah nunggu lama!" teriak Pipit.


Sementara Raja, tetap melenggang masuk dan bergabung dengan Ibu dan adiknya.


"Kenapa kamu masuk? Itu tamunya sepertinya belum pada pergi?" Tanya Ibu yang sedang asyik nonton sinetron namun terganggu dengan hadirnya sang putra dan mendengar kegaduhan diluar rumahnya


"Apa diluar juga ada Mba Nunik, Bang?" Tanya adiknya yang juga sedang ikut nonton sinetron bersama ibunya.


"Ya salah abang juga sih, dulu dulu ngasih harapan ke mereka." Ucap Rumi ketus.


"Rum, kunci pintu ruang tamu dan matiin lampu teras. Nggak tahu diri banget. Bikin ribut di depan rumah orang." Perintah ibu yang memang mendengar dua perempuan sedang berdebat.


Rumi dengan malas beranjak bangkit dari rebahannya dan melangkah menuju ruang tamu melaksanakan perintah ibunya.


"Emang harapan apa sih yang kamu kasih ke mereka, Ja? Bisa bisanya mereka sampai segitunya sama kamu?" Tanya Ibu penasaran.


"Mereka aja yang terlalu berharap, Bu. Omongan orang mabuk dipercaya." Gerutu Raja.


"Tapi biasanya orang mabuk tuh kebanyakan ucapannya jujur, Bang. Makanya mereka yakin banget kalau kamu tuh suka sama mereka." timpal Rumi begitu dia kembali dan memilih duduk di dekat ibunya.


"Jujur apaan! Aku tuh pas mabuk saat itu bilang sukanya ke perempuan lain, bukan mereka. Ngapain bilang suka ke mereka. Menjijikkan." sangkal Raja.


"Emang kamu ada rasa suka sama cewek, Ja? Ya ampun, kirain ibu kamu nyimpang karena nggak pernah bawa perempuan ke rumah." pekik sang ibu.


"Enak aja, ya adalah, Bu. Cuma ceweknya susah, malah benci banget sama Raja." keluh Raja sembari mendengus.


"Gimana nggak benci, kerjaanmu aja tiap hari mabuk, mana ada cewek baik baik mau sama tukang mabuk," cibir sang ibu makin membuat hati Raja frutasi.


"Tau ah, Bu. Mending ke kamar. Di sini diledekin mulu sama, Ibu." gerutu Raja. Dia seketika berdiri dan beranjak meninggalkan Ibu dan adiknya yang terkekeh.


Begitu sampai di dalam kamar, Raja langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya lurus menatap langit, pikirannya menerawang jauh ke satu wanita. Dia terus memikirkan cara meluluhkan hati Sania. Hingga beberapa saat kemudian tiba tiba matanya berbinar.


"Aku tahu caranya, Aku tahu,"


...@@@@@...