
Jam di dinding baru menunjukkan pukul delapan malam. Namun dikediaman Abah Mudin yang kemarin sangat ramai, kini terlihat lengang dan sepi. Bahkan Abah Mudin pun memilih istirahat lebih awal bersama Umi Sarah karena badan yang masih merasakan lelah yang luar biasa.
Berbeda dengan pasangan pengantin baru. Mereka justru sedang berdebat kecil setelah Raja dengan sengaja memeluk Sania hinggga wanita itu terperanjat saking kagetnya.
"Lagi ngapain sih, Dek? Orang Abang nungguin di luar bareng Abah?" tanya Raja tanpa berniat melepas lingkaran tangannya meski sang istri berusaha melepasnya.
"Lagi baca novel online, Bang." jawab Sania yang akhirnya pasrah dipeluk sang suami. Toh Raja sekarang sudah berhak penuh atas dirinya, jadi Sania harus mulai terbiasa diperlakukan seperti itu.
"Suka baca, Dek? Sejak kapan?" tanya Raja sembari sesekali meletakkan kedua lubang hidungnya dipundak Sania hingga wanita itu kadang berontak karena merasa geli.
"Udah lama, sejak masih di pesantren." balas Sania. Dia mencoba kembali fokus membaca namun ternyata tidak mudah. Datangnya Raja membuat konsentrasi membacanya jadi terganggu. Sania pun memilih meletakkan ponselnya.
"Loh? Kok bacanya udahan?" tanya Raja yang merasa terkejut saat matanya melihat Sania meletakan ponselnya di atas meja kecil dekat ranjangnya.
"Iya lah, udah nggak fokus, ada gangguan." sindir Sania dengan bibir mengerucut. Sementara yang disindir hanya cengengesan. Dia pun semakin mengeratkan pelukannya dan meletakkan kedua lubang hidungnya di pundak Sania dalam dalam. Dulu setiap merasa gemas kepada Sania, Raja hanya bisa menggeram dan menahannya. Tapi kini, dia dengan mudah melampiaskan rasa gemasnya kepada wanita pujaannnya tersebut. Salah satunya adalah dengan cara seperti itu.
"Siapa yang gangguin? Baca mah tinggal baca aja, aku kan cuma mau rebahan doang," kilah Raja.
"Rebahan sih rebahan. Tapi ini tangan bikin konsentrasi buyar dan itu hidung, ngapain cium cium pundak sih? Geli tahu." protes Sania bersungut sungut. Namun Raja malah terkekeh dan semakin gemas.
"Astaga! Kenapa tangan yang disalahkan? Yang nggak fokus dedek kok yang disalahkan anggota tubuh Abang? Awas, nanti jadi fitnah loh," kilah Raja membela diri.
Sania pun tercengang, sejenak dia menoleh sedikit menatap suaminya kemudian kembali memandang kesembarang arah.
"Fitnah apaan? Orang kenyataannya begitu. Pakai dalih fitnah segala lagi." sungut Sania begitu gemas pada suaminya.
Raja pun terbahak cukup keras, namun sejenak kemudian suara tawanya diperkecil karena takut terdengar dan mengganggu istirahat Abah dan Umi.
"Eh, Dek. Dedek masih ingat nggak? Pertama kali kita ketemu dulu?" tanya Raja ketika suara tawanya surut.
"Ya ingatlah. Nggak bisa lupa malah," balas Sania.
"Wah! Hal apa yang Dedek paling ingat dari pertemuan pertama kita?" tanya Raja penasaran.
Raja seketika terkekeh kemudian kembali mencium pundak Sania. "Abang sangat keterlaluan yah, Dek. Maaf ya? Tapi Abang bersyukur, Dek. Karena kejadian itu, Abang jadi berjodoh sama Dedek."
Sania hanya terdiam, menyimak ungkapan hati suaminya. Bahkan bibirnya pun mengulas senyum. Dalam hatinya dia juga mengucap kata yang sama yang Raja ucapkan.
"Apa sejak kejadian itu? Abang jadi suka sama aku?" tanya Sania yang mulai penasaran juga.
"Nggak sih, Dek. Bukan sejak itu. Aku merasa suka sama Dedek pas dedek pulang dari pesantren pertama kali setelah kejadian itu. Sejak itu Abang merasa kalau Dedek yang pantas Abang miliki." Sania pun manggut manggut diiringi dengan ulasan senyum.
"Kalau Dedek sendiri? Apa sudah mulai menyukai Abang sampai Dedek mau menikah sama Abang?" sambung Raja lagi yang kini penasaran dengan perasaan istrinya.
"Bisa dibilang seperti itu, Bang. Karena Abang sekarang menjadi suami aku, ya sudah sewajarnya aku harus belajar tulus menyukai abang bukan?" Kini gantian Raja yang manggut manggut. Dia sangat mengerti perasaan istrinya.
"Baiklah, semoga kamu nggak lelah untuk belajar menyukai Abang ya, Dek?" ucap Raja.
"Abang juga jangan lelah untuk menungguku." pinta Sania.
"Pasti lah. Nunggu bertahun tahun agar Dedek jadi milikku aja Abang sanggup, apa lagi sekarang saat Dedek udah jadi istriku, gampang itu mah," ucap Raja jumawa.
"Dih sombong," cibir Sania dan keduanya pun tergelak bersama.
"Dek?" panggil Raja saat suara tawa mereka berangsur menghilang.
"Iya, Bang."
"Kita ulangi lagi ciuman pertama kita yuk."
"Waduh,"
...@@@@@...