
Sania yang baru saja mengobrol dengan Vita menjadi kepikiran dengan apa yang Vita ucapkan tentang pria yang akhir akhir ini selalu mengganggu hidupnya. Pria yang terlihat selalu mencari cara agar bisa selalu dekat dengan dirinya. Raja, dialah pria itu.
Tentu saja Sania tertegun saat Vita mengatakan kalau Raja jatuh cinta kepadanya. Dia berpikir itu tidak mungkin. Meski ada sebagian kecil di dalam hatinya ingin membenarakan kata kata Vita, namun sebagian hati yang lain, Sania menyangkalnya.
Saat hatinya sedang terpikirkan kata kata Vita, dia melihat dua perempuan masuk ke dalam tokonya. Sania pun beranjak menghampirinya untuk melayani karena Vita juga sedang sibuk melayani pembeli yang lain.
"Silahkan, Mba. Mau cari apa?" tanya Sania dengan sopan.
"Mau cari kemeja buat laki laki, ada, Mba?" tanya salah satu pengunjung.
"Oh, ada, Mba. Sebelah sini," balas Sania sambil mengajak dua perempuan itu berpindah tempat menuju ke deretan koleksi kemeja.
Saat Sania dan Vita sedang sibuk melayani pembeli, Abah dan Umi duduk di meja kasir, juga terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu yang penting.
"Kyai Bahar dan putranya, nanti malam katanya mau bertamu, Mi," ucap Abah sembari matanya menatap sang anak yang sedang sibuk melayani pengunjung toko.
"Loh? Kok mendadak banget? Bukankah kemarin sudah main?" tanya Umi sedikit terkejut.
"Makanya, tadi Abah agak lama. Karena ketemu dia dan istrinya di depan Masjid," balas Abah sesekali menoleh ke arah sang istri ataupun mengedarkan pandangannya ke sisi yang lain.
"Jujur sih Bah, Umi kok agak gimana gitu sama sikap Kyai Bahar, dia itu kayak seakan akan suka memaksakan kehendaknya," tutur Umi mengeluarkan unek uneknya. Wajar jika Umi Sarah berpikiran seperti itu. Berita gagalnya pernikahan dua putri kyai Bahar membuat dia merasa ada yang salah dengan sikap orang yang dia hormati tersebut.
"Memaksakan kehendak gimana? Perasaan umi aja kali?" balas Abah meski dia sendiri juga tahu apa yang istrinya rasakan, Abah juga merasakannya.
"Loh? Apa Abah nggak ngerasa? Bukankah Abah yang sering mendapat tekanan secara halus? Bilangnya mah iya sopan tapi saat di tolak, lihat wajahnya. Jelas banget kan raut kekesalannya," dumel Umi sedikit emosi mengingat sikap Kyai Bahar yang kadang terlihat semena mena kepada suaminya.
"Udah, udah. Jangan berpikiran buruk, nggak baik. Kita lihat saja nanti maunya gimana?" ujar Abah.
"Tapi kan Sania nanti ngajar ngaji Raja, Bah,"
"Ah iya, Abah nggak kepikiran. Ya udah nanti kita bicarakan saja dulu dengan Sania," Dan sang Umi hanya manggut manggut.
"Bagusan mana nih?" tanya salah satu dari mereka yang berambut pendek sebahu.
"Kalau aku sih lebih condong ke yang merah marun," jawab temannya.
"Gitu yah?" tanya wanita berambut sebahu lagi dengan mata terus memperhatikan kemeja warna merah marun yang ada di tangan kanannya, "Baiklah, aku pilih ini, sepertinya ini memang cocok buat Raja,"
Deg
Sania sedikit tertegun ketika wanita itu menyebut nama Raja. Seketika banyak pertanyaan tumbuh di dalam benaknya.
"Mba, ambil yang ini yah," ucap wanita itu sedikit membuat Sania terkejut.
"Oh, yang ini? Baiklah," Sania pun menerima kemeja tersebut. "Nggak nambah yang lain, mba? Mungkin celana atau kaos?"
"Nggak lah, Mba. Itu aja dulu. Gampang lain kali kalau pengin,"
Sania hanya menyunggingkan senyum kemudian dia berbalik badan dan beranjak menuju meja kasir. Di serahkannya kemeja itu ke sang Umi. Setelah transaksi selesai dua wanita itu pun mohon diri.
Sania masih termenung dan penasaran. Saat ini hatinya sedang banyak pertanyaan. Siapa wanita tersebut? Ada hubungan apa dengan Raja? Apakah Raja yang dia maksud adalah Raja yang sama dengan juragan empang?
"San," panggil Abah. Dan panggilan tersebut sontak membuat pemikiran Sania buyar.
"Iya, Bah. Ada apa?"
"Nanti malam keluarga Kyai Bahar akan berkunjung, apa kamu bisa menemuinya?"
"Apa!"
...@@@@@...