Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 103



Di malam itu. Beberapa orang sudah terlelap. Beberapa orang masih mencari rejeki. Beberapa orang sedang bercengkrama. Beberapa sedang meneruskan pekerjaan. Dan beberapa orang sedang menikmati malam dengan caranya sendiri.


Begitu juga Sania dan Raja. Mereka masih asyik berbalas chat membicarakan rencana perjalanan hidup mereka kedepannya disertai candaaan khas orang kasmaran.


"Bukan kebiasaan, Dek. serius tadi lupa ngucapin salam," ucap Raja dalam pesan berikutnya yang dia kirim setelah emotikon.


Sania pun haya bisa merekahkan senyumnya saat membaca balasan chat tersebut dan dia segera membalasnya. Berbalas chat pun terjadi.


"Oh, lupa. Kirain kebiasaan." balas Sania.


"Iya, lupa. Maaf ya?" balas Raja sembari diiringi dengan emot senyum pipi bersemu merah.


"Iya, iya kali ini aku maafin. Tapi lain kali aku jitak kalau lupa lagi." balas Sania.


"Kok jitak sih?" balas Raja.


"Iya lah, aku jitak bertubi tubi," balas Sania.


"Jitaknya pakai sayang nggak?" balas Raja dengan emot wajah menunjukkan deretan gigi.


"Mana ada jitakkan pake sayang. Itu mah modusnya bang Raja," balas Sania.


"Loh, kok modus? Kan aku tanya, jitaknya pake sayang apa enggak? Bukan modus itu," balas Raja.


"Ya mana ada jitakkan pake sayang? yang ada ya jitak tuh pake tangan," balas Sania.


"Hah! Benarkah? Sejak kapan jitakan berubah pake tangan? Perasaan dari dulu jitak itu pake sayang deh," balas Raja.


"Ih, mana ada? Bener bener tukang modus, huu!" balas Sania.


"Astaga, Dedek. siapa yang modus? Ih jahat bener ya sama calon suami nuduhnya gitu? Bisa kena pasal loh, Dek?" balas Raja.


"Mana ada? Ih Abang bisa aja ya kalau ngeles? kayak ojol kejar pelanggan." balas Sania.


"Hahaha... Masa Abang disamakan dengan tukang ojol? Kalau abang tukang ojol maka abang akan ngebut ngejar dedek Sansan biar cepat halal." balas Raja.


"Ish ish ish. Emang kapan ngehalalinnya, Bang? Bisanya ngomong doang?" balas Sania.


"Eh, Dedek nantangin nih, Wah jangan jangan kode kalau Dedek pengin cepetan dihalalin yah?" balas Raja.


"Loh? Kenapa jadi aku? Huu! Abang emang jagonya ngeles dan modus." balas Sania.


"Hahaha... Eh, Dek. Insya Allah malam minggu keluarga abang akan datang ke rumah dedek. Tolong bilang sama Umi dan Abah ya?" balas Raja.


"Malam minggu kapan, Bang? Malam minggu ini?" balas Sania.


"Iya. Insya Allah malam minggu ini." balas Raja.


"Oke! Nanti aku bilang, Bang. Ada pesan lagi?" balas Sania


"Anaknya? Bang Amar?" balas Sania.


"Loh? Kok Bang Amar? Emangnya Abang apaan, sayang sama laki laki." balas Raja.


"Bang Amar kan juga anak Umi Sarah," balas Sania.


"Ih, bisa aja ni Dedek yah, gemesin banget. Awas aja kalau udah halal aku cubit pipinya," balas Raja.


"Ya udah nggak jadi halal aja, biar pipiku aman, nggak kena cubit," balas Sania.


"Oh tidak bisa. Kalau nggak jadi, besok pagi aku bawa penghulu ke rumah Dedek, kita ngijab paksa," balas Raja.


"Dih, mana bisa maen paksa gitu?" balas Sania.


"Bisa dong, Abang Raja gitu loh," balas Raja.


"Huu.!" balas Sania.


"Hahah... Eh, Dek. Ukuran jari Dedek berapa? Atau besok kita beli cincin bareng?" balas Raja.


"Emang serius acara lamaran resminya malam minggu besok?" balas Sania.


"Serius lah, Dek." balas Raja.


"Ya mending Abang besok ke rumah aja. Bilang sekalian sama Abah. Entar kalau aku nggak bisa ikut beli cincin, aku bawain cincin aku buat contoh." balas Sania.


"Gitu? Ya udah nggak apa apa." balas Raja.


"Ada lagi yang mau disampekan nggak, Bang? Oh iya, untuk pakaian mau kembaran apa gimana?" balas Sania.


"Soal pakaian, terserah Dedek aja lah enaknya gimana," balas Raja.


"Pakai baju yang ada aja ya, Bang. Asal pas sesuai acara?" balas Sania.


"Kayak gitu juga boleh, Udah sih, kayaknya cukup," balas Raja.


"Oh, ya udah. Berhubung udah malam, aku pamit ya, Bang." balas Sania.


"Oke. Silahkan, Dek. Abang juga udah ngantuk." balas Raja.


"Ya udah, Bang. Assalamu'alaikum," balas Sania.


"Wa'alaikum salam dedek." balas Raja.


Dan berbalas chat pun berakhir dengan senyum terkembang di hati masing masing. Sebelum mata terpejam, tak lupa mereka berdua memanjatkan harapan untuk kelancaran dan keridhoan Tuhan apa apa yang mereka rencanakan.


@@@@@