Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 43



Kedatangan kyai Bahar, istri dan anaknya tentu saja di sambut baik oleh Abah Mudin sekeluarga. Begitu juga dengan Raja dan Rumi yang ikut menyambut mereka. Kegiatan belajar mengaji mereka terpaksa berhenti karena keluarga Bahar datang lebih awal dari waktu yang sudah di janjikan.


Rencana awal, mereka akan berkunjung setelah waktu isya, namun yang terjadi malah sebelum waktu isya mereka sudah datang. Beruntung Umi Sarah sudah menyiapkan segalanya.


"Kok anaknya si Abdul ada disini?" tanya Kyai Bahar merasa heran saat melihat Raja keluar dari ruangan yang lain. Bukan hanya Kyai Bahar. Ramzi dan sang ibu juga menatap heran ke arah pria gondrong berpeci yang berdiri menatap mereka.


"Oh iya, mereka lagi ada perlu dengan Sania," balas Abah. "Raja, sini ikut duduk,"


Raja pun mengangguk dan dia duduk di kursi sebelah Abah. Sedangkan Umi, Rumi dan Sania duduk di kursi yang lain dihadapan mereka.


Nampak sekali wajah tidak suka ditunjukkan oleh Kyai Bahar saat menatap Raja.


Sebelum membicarakan rencana inti kedatangan kyai Bahar ke rumah Abah, mereka saling bercengkrama antara satu sama lain seperti saling berbagi info pada masing masing pihak tentang anak mereka.


"Nak Sania, apa Nak Sania tahu kedatangan kita kesini ada suatu maksud?" tanya Kyai Bahar ditengah tengah obrolan mereka.


"Abah udah cerita, namun apa bisa saya mendengarkan langsung dari Pak Kyai?" tanya Sania sopan dan hati hati. Kyai Bahar mengulas senyum.


Sania memperhatikan raut wajah ketiga orang tamu tersebut. Nampak yang terlihat sangat bersemangat hanya Kyai Bahar, sedangkan Ramzi dan istri Pak kyai terlihat seperti ada beban yang mereka sembunyikan. Saat keduanya tersenyum, jelas sekali senyum mereka seperti dipaksakan. Hal itu tentu saja membuat hati Sania bertanya tanya. Kenapa sikap mereka berbeda.


"Gini Nak, saya kesini ingin mengajak nak Sania berta'aruf dengan anak saya, si Ramzi. Apakah nak Sania bersedia?" tanya Kyai Bahar. Di wajahnya terpancar keyakinan kalau putri Abah Mudin tidak akan menolak keinginannya. Sebelum menjawab Sania nampak berpikir dan menatap kembali ke tiga wajah satu keluarga tersebut.


Sementara Raja, meski dia hanya terdiam, hatinya juga sedang bergejolak hebat. Ada sesak yang tiba tiba terasa menghimpit aliran nafasnya.


"Maaf, Pak Kyai, sebelumnya saya mau tanya, apakah Bapak sudah membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan putra bapak?" Kyai Bahar dan yang lain tentu saja sangat terkejut dengan pertanyaan yang Sania ajukan.


"Maaf Pak Kyai, tapi saya merasa, Mas Ramzi terlihat keberatan dengan rencana Bapak, bukan begitu Mas?" Kini tatapan Sania beralih ke arah Ramzi yang terkejut mendengar ucapannya. Bukan hanya Ramzi, semua juga nampak terkejut mendengar ucapan Sania.


Kyai Bahar menoleh ke arah anaknya dan dengan tatapan tajam seakan menyuruh sang anak agar menyangkal apa yang dikatakan Sania.


"Kalau anak saya keberatan, tidak mungkin anak saya berada di sini, Nak," balas Kyai Bahar tenang. Namun balasan sang Kyai justru membuat Ramzi dan sang istri menatap Kyai Bahar dengan wajah terkejut mereka. Tentu saja reaksi mereka tak luput dari mata Sania dan yang lain.


"Maaf pak Kyai, sekali lagi saya benar benar minta maaf. Namun yang saya rasakan Mas Ramzi keberatan dengan niat baik bapak. Bukan begitu, Mas Ramzi?" tanya Sania setenang dan sesopan mungkin agar tidak menyinggung perasaan ketiga tamunya.


Ketiga tamu itu terkesiap, terutama Ramzi. Dia tidak menyangka sama sekali kalau apa yang dia rasakan dapat terbaca oleh wanita yang akan dijodohkan dengannya. Ramzi masih terdiam, entah dia akan bersuara atau tidak tapi yang jelas dia terlihat sedang berpikir dengan tatapan menukik ke arah Sania. Bukan hanya ketiga tamu yang terkejut, Abah dan yang lain juga merasa kaget dengan apa yang Sania katakan. Mereka tidak menyangka Sania bisa seberani itu.


Raja yang melihat sikap Ramzi seketika dadanya bergemuruh. Cemburu pelan pelan menyergap hatinya. Dia benar benar tidak suka Sania di tatap seperti itu dalam waktu yang lama.


Kyai Bahar kembali menatap putranya dengan tatapan yang sama seperti tadi. Namun kali ini tatapan lebih menuntut sebuah sanggahan.


"Mungkin itu perasaan nak Sania saja. Saya yakin Ramzi tidak seperti apa yang Nak Sania pikirkan," ucap Kyai Bahar dan Sania menyambutnya dengan senyuman sopan.


"Maaf Pak kyai, melihat sikap Mas Ramzi seperti itu, jujur, saya jadi keberatan dengan dengan niat baik Bapak. Dari awal yang menjawab selalu bapak bukan Mas Ramzi, yang menginginkan pernikahan ini sebenarnya Bapak Kyai apa Mas Ramzi?"


Deg


...@@@@@...