
"Rugi menghargai perempuan kayak kamu, yang ada entar malah dimanfaatin. Mending masuk ke dalam nunggu maghrib. Lebih baik kamu pulang saja sana. merusak suasana tahu nggak?" ucap Raja sambil berlalu masuk ke dalam rumah sembari menggandeng Fatar.
Semua terdiam mendengar ucapan Raja. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa tak nyaman dalam hatinya. Ucapan Raja terlalu menohok. Meski tujuannya untuk satu orang, namun yang merasa tak enak hati orang lain yang ikut mendengarnya juga.
"Sudah lihat sendiri kan, Nik? Sikap Raja gimana?" ucap Jani. Sebagai kakak dan juga perempuan, dia tahu benar bagaimana perasaan Nunik saat ini. Begitu juga Rumi dan Sania. Mereka menatap prihatin wanita yang menunduk tersebut.
Jika diperhatikan, siapapun yang melihat Nunik saat ini pasti akan merasa iba. Namun bagi Raja, mending dia tidak melihat Nunik dihadapannya. Raja tidak mungkin akan bersikap seperti itu jika tidak dimanfaatkan dan dibohongi oleh Nunik dalam waktu yang lumayan lama. Yang lebih membuat Raja geram, orang tua Nunik justru mendukung kebohongan anaknya.
"Mending kamu pulang deh, Nik. Udah hampir maghrib, sorry bukannya ngusir. Tapi emang hampir gelap itu." ucap Rumi.
Nunik masih terdiam tak bereaksi. Kepala yang sedari tadi menunduk, kini dia dongakkan menatap ke arah Sania. Ada rasa bergemuruh saat mata menatap wajah lembut Sania. Rasa cemburu seketika menggerogoti relung hatinya.
"Kenapa sih kamu harus muncul di kehidupan Raja?" ucap Nunik kepada Sania. Sontak saja ketiga perempuan yang ada di sana terperangah. "Harusnya kamu tuh nggak perlu muncul di kehidupan Raja."
"Maksud kamu apa ngomong kayak gitu?" tanya Rumi mewakili isi hati Sania. Hampir saja dia menanyakan hal yang sama, namun keduluan Rumi.
"Gara gara dia, Raja nggak mau membuka hatinya untuk wanita lain termasuk aku! Gara gara wanita ini, Raja jadi membenciku demi menjaga perasaannya untuk dia," ucap Nunik lantang. Matanya menukik tajam menatap Sania yang terkejut dengan semua tuduhan yang Nunik lontaran.
Bukan hanya Sania yang terkejut, Jani dan Rumi juga terperangah dengan ucapan Nunik yang sangat mengada ada.
"Cih! Lucu kamu, Nik. Orang kamu yang salah kok malah melemparkan kesalahannya ke orang yang tidak tahu apa apa. Sadar diri nggak sih kamu kalau ngomong?" balas Rumi emosi. Wajar dia berkata seperti itu karena Rumi tahu apa yang Nunik lakukan dulu.
"Rumi?" Ucap Jani pelan sambil memberi tanda agar menjaga ucapannya. Nunik yang merasa di bela olih Kakak Raja menyunggingkan senyum senangnya. Dia merasa setidaknya dia tidak sendiri.
"Apa sih, Mbak? Mba nggak tahu sih, akal bulus perempuan ini?" ucap Rumi tak terima.
"Jangn sok lugu deh, Nik! Kamu berharap jadi keluargaku, namun sikap kamu jauh dari kriteria Bang Raja. Suka nipu demi harta," cibir Rumi tak mau kalah.
"Emang apa yang sudah dilakukan Nunik sama kamu, Rum?" tanya Jani. Sementara Sania hanya terdiam tanpa ingin membalas perbuatan Nunik. Bagi dia percuma berdebat, apa lagi berdebat memperebutkan laki laki, tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam diri Sania.
"Mba ingat pas Bang Raja nabrak Nunik?" Nampak Jani mengerutkan dahinya terus sejenak kemudian dia mengangguk. "Nah, dia kerja sama dengan orang tuanya mau menjerat Bang Raja agar Bang Raja mau nikahin dia dan Nunik akan terus pura pura lumpuh biar Bang Raja terus menerus merasa bersalah dan mereka memanfaatkan rasa bersalah Bang Raja, Mba. Apa nggak gila?"
"Jangan fitnah kamu, Rum!" hardik Nunik tak terima meski yang dibicarakan adik Raja itu memang benar.
"Fitnah darimana? Nggak mungkin Bang Raja dan Bang Kirno bohong kan?" sungut Rumi.
Sania dan Anjani sontak kaget bersamaan. Keduanya langsung menatap Nunik yang wajahnya berubah pias. Nunik tergagap.
"Benar itu, Nik?" tanya Jani.
"Percuma di tanya, Mbak. Dia pasti bakalan menyangkal. Harusnya dia tuh sadar dan bersyukur, Bang Raja tidak pernah mengungkit masalah ini. Eh dia malah kepedean katanya Bang Raja diam karena memaafkan dia dan nganggap Bang Raja ada rasa sama dia," ucap Rumi tanpa memberi celah sedikitpun untuk Nunik membela diri.
"Astaga! Aku pikir kamu cewek kalem, Nik? Udah deh, Nik. Kalau kamu nggak mau pulang ya silahkan. Kita mau masuk udah magrhrib. Permisi." ucap Jani sembari melenggang di ikuti Rumi sambil menarik tangan Sania menuju kedalam rumah meninggalkan Nunik dengan raut wajah penuh amarah.
...@@@@@...
Terima kasih yang sudah ngasih dukungan hari ini. makasih banyak buat yang masih setia mengikuti kisah Raja. Harap sabar ya? tunggu terus kejutan apa lagi dari juragan empang. Yang pasti bikin gemes.