
Malu. Itulah yang Sania rasakan saat ini. Ibarat maling yang tertangkap basah, itulah gambaran hati Sania tatkala dia tahu kalau Raja ternyata mendengar ocehannya pada diri sendiri.
Hal yang ingin Sania lakukan saat ini adalah menghindar secepatnya dari pria yang lagi senyum senyum menatapnya. Namun saat Sania hendak membuka pintu mobil, tanpa dia sadari Raja secepat kilat memencet tombol kunci otomatis hingga pintu yang hendak Sania buka pun terkunci.
Dan saat bersamaan pula, Raja pindah tempat duduk di dekat kemudi, membuat Sania semakin salah tingkah.
"Bang Raja!" pekik Sania sedikit keras.
"Apa?" balas Raja santai dengan bibir yang masih setia dengan senyumnya.
"Ini pintunya buka?" pinta Sania tanpa menoleh.
"Ya hadap sini dulu, Dong?" ucap Raja.
"Nggak mau!" tolak Sania dengan cepat. Dia tetap berusaha membuka pintu itu.
"Ya udah, nggak bakalan ke buka itu pintu," ucap Raja semakin meledek dan membuat Sania semakin kesal.
Bang Raja ighh!" rengek Sania.
"Hadap sini makanya," ucap Raja masih dalam cengengesannya.
"Nggak mau."
"Kenapa nggak mau?"
Pokoknya nggak mau, cepet bukain pintunya?"
"Hadap sini dulu, terus bilang baik baik dengan lembut, Bang Raja tolong buka pintunya dong, gitu."
Mendengar Raja berbicara lembut layaknya perempuan membuat tawa Sania hampir pecah. Segera dia menutup mulutnya untuk menahan tawa. Namun sayang, gerak gerik Sania terpantau oleh Raja yang sedari tadi menatapnya tanpa berpaling sedikit pun. Raja pun gemas sendiri melihat tingkah wanita yang memunggunginya.
"Bang."
"Iya, dek?"
"Buka!"
"Apanya?"
"Ini!"
"Ini apa?"
"Jangan becanda deh, Bang!"
"Astaga! siapa yang becanda, Dek? Ngomong yang jelas dong? Apanya yang di buka? Baju? Atau sepatu?"
"Ini pintunya di buka!"
Sania pun mendengus. Sejenak dia terdiam dan mencoba mengumpulkan keberanian. Perlahan dia memutar badan hingga tepat menghadap Raja dengan kepala menunduk. Ingin rasanya Raja tertawa saat itu juga namun dia tahan. Dia hanya bisa senyum senyum menahan gemas melihat tingkah wanita yang satu ini.
"Udah, sekarang buka." rengek Sania sambil menunduk.
"Lah? Wajahnya mana?" ledek Raja. Sania pun dengan terpaksa mendongak.
Senyum Raja terlihat semakin melebar dan wajah Sania semakin memerah. Dia pun tak tahan dan langsung berpaling kembali karena tak kuasa menahan malu. Kembali dia merengek dan Raja kembali meledeknya.
"Abang tuh sebenarnya penasaran loh, alasan kamu berbohong ke Budhe kamu itu apa?" tanya Raja mengungkap apa yang sedari tadi ingin dia tanyakan dan ketahui.
Sania pun semakin salah tingkah dibuatnya. Ada rasa menyesal sedikit dalam hatinya, kenapa dia harus bergumam tadi? Sekarang dia sendiri dibuat tak berkutik karena tingkahnya.
"Dedek?" panggil Raja.
"Hum?" sahut Sania. Lagi lagi tanpa menoleh.
"Abang tadi bertanya loh ya. Dan sebaiknya Dedek jawab, kenapa punya alasan seperti itu?" ucap Raja pelan namun penuh penekanan.
"Buat apa? Abang nggak perlu tahu." balas Sania menggrutu. Raja pun hanya geleng geleng kepala sembari tertawa pelan.
"Ya Abang harus tahu dong? Kamu kan bawa bawa nama Abang? Itu sama aja kamu menfitnah abang." ucap Raja asal.
Sania mengernyitkan dahinya. Dia pun kembali bersungut sungut, "Fitnah darimana? Itu bukan fitnah. Karena itu nggak merugikan bang Raja."
"Loh? Ya abang rugi dong! Abang mau dikenalin sama saudara kamu eh kamu mencegahnya dengan memakai alasan kalau aku pacar kamu." balas Raja membuat Sania semakin terpojok tak berkutik.
"Terus sekarang mau Bang Raja apa? Mau menghukum Sania? Mau menuntut Sania? Ya silahkan." Mendengar ucapan Sania seperti sedang ketakutan, Raja hanya mengulum senyum. Hati kecilnya sebenarnya tidak tega mengerjai Sania seperti ini. Namun Raja berpikir, kapan lagi ada momen seperti ini. Apalagi dia mendengar hal mengejutkan dari bibir Sania sendiri tentu saja rasa yang ada di dalam hati Raja pun semakin membuncah.
"Emang kamu siap, kalau Abang menghukum kamu, Dek?" tanya Raja menakut nakuti.
Tentu saja Sania tidak siap. Bahkan dia kini merasa takut. Namun Sania mencoba kuat di depan Raja.
"Ya kalau memang menurut, Bang Raja aku pantas di hukum ya silahkan." ujar Sania agak ragu.
"Ya udah sebagai hukumannya, kenalin aku sama saudara kamu anak Budhe, gimana?"
Mendengar pertanyaan seperti itu, sontak Sania menoleh. "Kenalan aja sendiri!"sungut Sania.
Raja pun terkekeh melihat reaksi Sania. Hatinya malah merasa bahagia dengan apa yang Sania perlihatkan.
"Kamu cemburu ya, Dek? Hayo ngaku?"
deg
...@@@@@...