
Dua porsi mangkok kini berada di atas meja tepat dihadapan dua manusia berbeda jenis. Satu porsi bakso tanpa mie dan tanpa bakso yang besar milik Sania sedangkan satu mangkok lagi satu Bakso sebesar bola tenis dengan dua butir bakso kecil lengkap dengan mie milik Raja. Dan dua gelas es teh serta beberapa ketupat dan bakwan tersedia didepannya.
"Cabenya jangan banyak banyak sih, Dek? Nggak kasian sama perut?" protes Raja menasehati saat matanya melihat Sania menaruh sambal hampir tiga sendok penuh.
"Orang ini aja nggak pedes sama sekali kok, Bang. Cobain deh," bantah Sania dan Raja bergidik.
"Merah banget kayak gitu kok nggak pedes," cibir Raja dan Sania hanya cengengesan membuat pria di sebelahnya menggeram gemas.
Mereka pun mulai menikmati baksonya masing masing disela dengan pembicaraan serius seputar acara pertunangan mereka.
"Gimana ceritanya sih, Dek? Kok kita bisa akan bertunangan?" tanya Raja.
Terlihat bibir Sania memerah. Keringatnya pun bercucuran. Raja yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari tersenyum. Hari ini hatinya benar benar diliputi kebahagiaan yang tak terkira.
"Takdir kali, Bang." jawab Sania asal membuat Raja semakin gemas dibuatnya.
"Kalau takdir? Kenapa nggak dari dulu aja aku nglamar kamu, Dek?" tanya Raja yang tidak fokus dengan bakso yang sedang dia makan.
"Kenapa nggak dari dulu, hayo?" ucap Sania sambil menoleh sejenak.
"Tahu ah, Dek. Gemesin banget kamu loh, lama lama Abang nggak tahan pengin cubit kamu," sungut Raja.
"Eits! Nggak boleh. Belum halal!" ucap Sania. Raja pun memanyunkan bibirnya namun sesaat kemudian dia tertawa kecil terus melanjutkan makan baksonya.
Tak butuh waktu lama, bakso dalam mangkok telah berpindah ke dalam perut mereka. Sembari menghilangkan sisa pedas yang ada, mereka pun memilih duduk sebentar di warung bakso tersebut.
"Dek," panggil Raja setelah menyeruput es teh yang tinggal seperempat gelas.
"Hum," balas Sania.
"Berarti kita nikahnya tanggal berapa, Dek?" Sania menoleh sejenak dengan dahi berkerut kemudian suara tawanya pecah hingga Raja merasa heran. "Kok malah ketawa sih, Dek."
Sania perlahan meredam suara tawanya. Dinimumnya sisa es teh kemudian dia berkata, "melamar resminya aja belum, Bang."
Raja pun tertawa pelan, "Ya penginnya langsung nikah lah, Dek. Kelamaan kalau melamar dulu."
"Ish ish ish, Abang ini. Kenapa Om Abdul nggak memberitahu Abang semalam sih? Bukankah Abah udah nitip pesan?" tanya Sania.
"Sebenarnya semalam Bapak udah nungguin Abang, Dek. Tapi setelah Abang nganterin motor Dedek, Abang mampir dulu, pulang udah malam banget," terang Raja.
"Abang mabuk mabukkan lagi?"
"Abang ada niat mau kembali ke kebiasaan Abang nggak suatu saat nanti," tanya Sania dengan wajah serius menatap pria di sebelahnya.
Dada Raja bergetar sangat hebat saat untuk pertama kalinya ditatap sedalam itu oleh Sania. Bahkan bibirnya sedikit gemetar karena merasa grogi bertatapan mata dengan wanita yang dia idamkan.
Kalau Abang kembali mabuk mabukan, berarti Abang termasuk orang yang tidak bersuyukur dong, Dek. Percuma Abang menikah dengan Dedek kalau Abang tetap menjadi Abang yang doyan mabuk." jawab Raja dengan yakin.
Sania pun mengulas senyum hingga membuat mata Raja takjub memandangnya. "Itu lah alasan aku mau menerima lamaran Om Abdul kemarin, Bang. Aku benar benar pengin membuat Abang berubah. Aku tahu Abang bukan orang alim, tapi aku yakin Abang bisa berubah setidaknya menjadi seperti Abah." Mendengar jawaban Sani, hati Raja semakin bergetar dan menghangat. Bahkan dalam hatinya, Raja mengucap syukur atas kesempatan yang dia dapat dan sangat dia harapkan selama ini.
"Semoga Abang bisa istiqomah ya, Dek. Abang bisa menjadi imam buat adek, baik di dunia hingga ke surga." harap Raja dan tentu saja Sania langsung mengucap kata Aamiin saat itu juga.
"Ya udah secepatnya Abang bicarain hal ini sama Om Abdul dan tante Lastri. Biar niat kita semakin terlihat pasti."
"Tentu dong, Dek. Setelah ini, Abang akan langsung membicarakannya."
"Baiklah, kalau gitu kita pulang yuk, Bang. Hampir sore, aku harus bantuin tetangga sebelah."
"Nggak ngajar ngaji?"
"Libur dulu, nggak enak kalau nggak bantuin."
Raja pun mengangguk dan mereka beranjak keluar dari warung bakso.
"Rencananya kita mau punya anak berapa, Dek?"
"Abang?"
"Hehehe..."
...@@@@@...
Ini yang penasaran sama visual Raja.
Raja belum potong rambut
Raja setelah potong rambut.