
Dan sore pun menjelang. Setelah mandi dan melakukan kewajibannya di masjid sekitar, Raja memilih duduk kembali di dalam mobil. Dia sebenarnya bingung karena tidak ada kegiatan. Sedangkan untuk pulang pun tidak mungkin. Raja disuruh menginap semalam karena keluarga Abah Mudin akan pulang besok.
Sebenarnya keluarga Mudin tidak enak pulang duluan. Mereka ingin mengikuti acara tahlil hingga tujuh hari ke depan. Namun mengingat kegiatan Mudin di kampungnya juga sudah menunggu, dia terpaksa pulang duluan bersama anak anak yang juga sama sibuknya. Dan Raja dengan senang hati menerima tawaran menginap.
Sementara Sania saat ini berada di ruang tengah rumah tantenya bersama saudara yang lain. Mereka lagi memotong dan mengemas dodol khas banyumas menjadi potongan kecil untuk hidangan nanti saat acara tahlil.
"San, itu yang tadi datang bareng kamu, beneran pacar kamu?" tanya salah satu saudara Sania.
Sania bukannya menjawab, dia hanya mengangkat kedua alisnya kemudian melengos melanjutkan mengemas dodolnya.
"Eh ni anak, ditanya baik baik malah melengos," gerutu saudara yang tadi. Sania pun hanya mengeluarkan suara tawanya.
"Beneran calon suami kamu bukan sih, San?" tanya saudara yang lain.
"Kalau iya kenapa? Kalau tidak kenapa?" bukannya menjawab, Sania malah memberi teka teki hingga saudara saudaranya merasa dongkol.
"Kamu tuh ya? Lama tidak ketemu, sekalinya ketemu malah bikin sebel tau nggak?" sungut saudara Sania.
"Iya nih bocah. Aku kutuk jadi jelek baru tahu rasa kamu," timpal yang lain.
Sania hanya terkekeh mendengarnya. Dia memang tidak berniat menjawab pertanyaan seperti itu lagi. Sania takut terjebak kembali seperti saat dengan budhe dan Adiba.
"San, itu Raja sendirian loh di dalam mobil? Nggak kamu temenin?" Suara Airin yang baru masuk membuat Sania dan saudara suadara sepupunya menoleh hampir bersamaan.
"Kok dia seneng banget sih berada di dalam mobil? Apa dia nggak betah?" tanya Sania sembari membersihkan tangannya dengan tisu kemudian dia berdiri hendak beranjak menyusul Raja. Sania takut jadi sasaran kemarahan Abah dan Bang Amar lagi seperti tadi siang.
"Ya nggak tahu, tanya aja sendiri sana." ucap Airin.
"Biar nggak bosen, mending di ajak jalan jalan deh, San. ke pantai atau ke taman kota. Biar dia ngak jenuh." saran salah satu saudara.
"Pantai mana? lagian udah jam segini?" tanya Sania sambil menunjuk jam yang melingkar di tangannya. Di sana tertera pikul tiga lebih tiga puluh sore.
"Pantai ayah aja. Orang deket, paling lima belas menit nyampe." balas saudaranya.
"Entar deh aku coba ajak dia," jawab Sania sambil melangkah keluar rumah.
Tok! tok! tok!
Mendengar pintu kaca mobil diketuk, Raja pun langsung menoleh dan dengan segera dia menurunkan kaca mobilnya. "Ada apa, Dek?"
"Betah banget sih di dalam mobil sendirian? Kenapa nggak gabung sama yang lain?" tanya Sania.
"Ya ampun kirain ada apaan. Males lah, Dek. Bingung mau ngobrol apaan. Orang bapak bapak semua tuh," jawab Raja sambil menunjuk ke halaman rumah Budhe ya Sania.
"Ya gabung aja napa? Siapa tahu bisa akrab?" ucap Sania.
"Entar kalau aku sama kamu beneran berjodoh, baru aku bisa akrab sama keluargamu, Dek," balas Raja sambil cengengesan.
"Ih apaan sih, nggak lucu tahu," sungut Sania.
"Loh? Siapa yang lagi ngelawak? Aku kan lagi berdoa," kilah Raja. Sania pun hanya mendengus sebal.
"Ya udah, daripada bengong disini, kita jalan jalan aja, gimana?" ajak Sania.
"Jalan jalan kemana, Dek?"
"Ke pantai, deket kok dari sini. Gimana?"
Senyum Raja pun langsung terkembang dan dengan lantang dia menjawb, "Oke!"
"Ya udah, aku pamit dulu sama Abah dan Umi bentar." Dan Raja langsung mengangguk dengan cepat.
Begitu Sania pergi, Raja langsung bersorak kegirangan. Hatinya meletup letup sangat bahagia.
"Akhirnya, aku bisa main di pantai bareng perempuan. Oh dedek Sansan."
...@@@@@@...