Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 25



Ramzi Hidayat. Siapa yang tidak kenal dengan nama itu di kampung Raja. Anak kyai yang mempunyai wajah tampan, sikap yang santun dan juga ilmu yang mumpuni, membuat namanya cukup terkenal dikalangan wanita dan ibu ibu yang mempunyai anak perempuan.


Raja dan Ramzi, sama sama pria pujaan desa namun beda kriteria. Mungkin mereka sama sama memiliki wajah tampan dan keturunan orang kaya, tapi dari tingkah laku, Raja jelas kalah jauh dengan Ramzi. Apalagi soal ilmu agama, Raja bukanlah tandingannya.


Begitu nama Ramzi di kumandangkan, Raja tentu saja sangat terkejut. Apalagi Raja baru saja mendengar berita tentang Kyai Bahar yang akan melamar Sania untuk Ramzi, tentu saja hati Raja langsung gundah. Jelas, Raja sangat resah saat ini. Hatinya benar benar tidak akan pernah siap jika Sania berhasil di nikahkan dengan Ramzi.


"Kamu nggak becanda kan, Kir?" tanya Raja memastikan. Bahkan kini dia tidak lagi fokus dengan cacatan di hadapannya.


"Ya enggak lah, Gan. Kamu tanya aja sama Mbok Romlah. Ibu kamu juga mungkin tahu, kan gosip ini udah menyebar di pengajian mingguan ibu ibu," jawab Kirno sembari mengambil satu potong gorengan dan melahapnya.


"Wah! Bahaya, Gan, kalau sampai gosip ini benar. Sainganmu berat euy," tukas Anto.


"Bener, Gan. Wanita mana coba yang mampu menolak Ramzi. Bisa jadi, Sania nggak akan menolak juga, kan?" sambung Kirno.


"Diam kalian! Malah bikin panas aja. Harusnya kalian tuh bantu mikir, gimana caranya meluluhkan hati Dedek Sansan!" Sungut Raja berang. Anto dan Kirno malah kompak cengengesan.


"Ya susah, Gan. Mungkin, kamu memang harus benar benar insaf, baru deh ada kesempatan bersaing," Ujar Kirno.


Saran Kirno memang ada benarnya. Tapi dalam hati Raja dia merasa gundah. Kalaupun dia taubat, belum tentu Sania akan simpati padanya. Dan bisa saja semua akan berpikir Raja taubat demi Sania. Raja hanya tidak ingin nama Sania di bawa bawa dan ikutan buruk seperti namanya.


Ketiga orang tersebut kembali fokus dengan cacatan yang ada di atas meja. Setiap pemasukan, pengeluaran dan hutang piutang mereka rinci dengan detail.


"Oh iya, Gan, itu motor Sania gimana? Nggak di bawa bengkel?" tanya Anto tiba tiba saat dia melihat matic yang dia bocorin rodanya masih setia nangkring di pelataran rumah.


"Entar habis ini, aku bawa bengkel, biar nanti aku jemput dia pake motornya," balas Raja sambil cengengesan. Anto dan Kirno pun ikut tertawa lirih.


Dan tak terasa waktu terus berputar hingga kini sore pun menjelang. Raja bergegas mandi dan bersiap diri untuk menjemput guru ngaji idaman.


Orang tua Raja hanya bisa menatap keanehan anaknya tanpa berniat menegur atau pun meledeknya. Mereka tahu Raja berpakaian rapi seperti itu karena mau kemana. Sebagai orang tua, mereka sejatinya senang dengan perubahan putranya, namun mereka juga takut, Raja berubah hanya di awalan saja. Mereka juga sempat berpikir untuk menjodohkan Raja dengan Sania, namun Abdul dan istrinya tidak percaya diri untuk melakukannya. Semua itu karena kebiasan Raja yang suka mabuk, jadi mau tak mau mereka mengurungkan niatnya.


Setelah pamit, Raja pun segera menyalakan mesin motor Sania dan melajukannnya menuju rumah sang wanita idaman. Sepanjang perjalanan senyum Raja terus terkembang. Khayalan tentang apa yang terjadi nanti saat belajar mengaji bareng Sania, sudah menari nari di dalam pikiran Raja.


Namun, khayalan khayalan indah itu seketika sirna saat motor yang Raja kendarai sampai di depan rumah Sania dan di teras rumah, dia melihat dua orang pria paruh baya sedang duduk dan bercengkrama dengan santainya. Rasa gundah kembali menghampiri Raja. Di sana, si teras rumah Sania, Abah Mudin sedang ngobrol dengan Kyai Bahar.


"Ternyata benar, Dedek Sansan akan di lamar anak Kyai. Aku harus bagaimana?"


...@@@@@...