Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 6



Ting.


Sebuah ponsel nampak terdengar mengeluarkan suara sebagai tanda kalau ponsel tersebut menerima pesan masuk. Sang pemilik ponsel segera merogoh saku kokonya dan menyalakan ponsel tersebut. Pria berbaju koko tersebut seketika menyunggingkan senyumnya saat membaca pesan yang berbunyi.


"Tugas sudah terlaksana dengan baik, Juragan."


Dia pun segera membalas pesan tersebut dan kemudian dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku koko setelah balasan terkirim. Pria itu fokus menatap guru ngaji baru yang sedang memperkenalkan namanya.


"Assalamu'alaikum warohmatullahi wa barokaatuh." Sapa Sania lembut.


"Wa'alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh." Jawab anak serta ibu ibu yang turut hadir secara bersamaan. Begitu juga dengan laki laki yang sedang bertopang dagu di pojokan.


"Salam kenal anak anak. Perkenalkan, saya guru baru di sini yang akan mengajar dan berbagi ilmu cara membaca Al Qur'an." Terang Sania setelah dia memberi salam kepada anak didiknya.


"Nama saya adalah Sania. Kalian bisa memanggil saya dengan sebutan ustadzah Sania." Lanjutnya.


"Siap ustadzah." Jawab anak anak serentak.


"Ya udah, sekarang buka iqro kalian dan kita belajar membaca sama sama, oke."


"Oke!"


Sania menyunggingkan senyum terbaiknya hingga sesosok pria di pojok sana benar benar terpana. Dengan jelas, tegas dan cekatan, Sania mengajari anak anak cara pelafalan huruf hijaiyah satu persatu. Tak lupa Sania juga menunjuk anak anak untuk mengulang apa yang sudah dia ajarkan.


Tanpa terasa waktu mengaji pun sudah habis. Meski hanya satu jam, namun apa yang diajarkan Sania cukup berkesan dihati anak anak. Dan para ibu juga menjadi lebih senang dan semangat dengan adanya guru baru.


Meski guru ngaji itu tak mendapat upah sepersenpun, tapi Sania dan yang lain merasa bahagia mengajari anak anak. Apalagi fasilitas belajar mengajar yang di ambil dari kas masjid sangat membantu mereka.


Setelah bersalaman dengan murid muridnya, terlihat Sania sedang membereskan meja dan tak lama kemudian dia pun keluar hendak pulang.


"Assalamu'alaikum, ustadzah." Sapa seorang pria begitu Sania keluar dari ruangan.


Deg.


Sania tertegun. Pria yang sangat ingin dia hindari kini berada di hadapannya. Seketika dia teringat kembali dengan tonjokan dan tamparan yang Sania lakukan semalam.


"Wa'alakum salam." Jawab Sania singkat. Dia bergegas menghindar menuju motornya.


"Astaga! Jutek banget sih ustadah. Kita masih ada urusan loh." Ucap pria itu sembari cengengesan.


"Urusan apa?" Tanya Sania pura pura tak ingat.


"Urusan hati." Jawab pria itu asal. Dan jawaban itu juga sukses membuat Sania mendengus kesal.


"Urusan hati apaan? Ngarang aja bisanya." Jawab Sania merasa kesal. Dia segera memasukkan kunci motor dan menyalakannya.


"Kenapa ban motorku jadi gembes semua? Perasaan tadi baik baik saja." Gerutu Sania sembari memencet kedua roda motornya.


"Bocor halus mungkin." Balas pria itu. Padahal anak buahnya lah yang sengaja bocorin kedua roda motor milik Sania.


"Aduh! Gimana aku pulangnya ini?" Gumam Sania namun masih bisa didengar oleh pria itu.


Pria itu yang awalnya datang dengan keponakannya malah dengan seenaknya menyuruh sang ponakan pulang duluan bersama teman temannya.


"Motornya kenapa, San?" Tanya salah satu rekannya.


"Sepertinya bannya bocor. Sekitar sini ada bengkel terdekat nggak sih?" Tanya Sania pada rekannya.


"Paling di depan sana komplek sekolah. Tapi jam segini entah masih buka atau engga." Jawab rekannya.


"Ya pastinya tutuplah. Udah, motor kamu mending taruh rumahku dulu, ntar aku antar kamu pulang deh, gimana?" tawar pria itu.


"Ogah." jawab Sania gengsi. Dia merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya.


"San, aku pulang dulu yah?" ucap rekan rekan pengajar dan Sania hanya memjawab dengan isyarat mata dan kepala.


"Ini kenapa ponsel ikutan mati sih?" gerutu Sania kesal sedangkan pria di dekatnya malah terpingkal. Matinya ponsel tidak ada dalam rencananya namun takdir malah seakan mendukungnya.


"Udah, ikuti saran aku sih? Bentar lagi maghrib loh." tawar pria itu lagi.


Sania nampak terdiam dan sepertinya dia sedang berpikir. Matanya berkeliling ke sekitar ternyata sudah sepi. Hanya ada dia dan pria paling menyebalkan di hadapannya.


"Gimana? Nggak mau? Jarang jarang aku baik sama perempuan loh, Dek." ucap pria itu makin terdengar menyebalkan dengan memanggil dek pada Sania.


"Aku bukan adekmu!" Hardik Sania. Namun pria itu malah terbahak.


"Bodo amat. Bagi aku, sampai kapanpun, kamu adalah dedek Sansanku."


"Enak aja."


"Mau menerima tawaranku atau enggak? Kalau nggak mau ya udah aku pulang." ucap pria itu sembari melangkah pergi. Namun sebelum menjauh tiba tiba.


"Iya, iya mau."


Seketika senyum pria itu tersungging.


"Yes!!"


...@@@@@...