Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 47



"Apa yang kalian ketawakan?" suara Abah yang kembali masuk sontak memelankan suara tawa Raja dan Ramzi hingga berhenti.


"Bukan apa apa, Bah," balas Ramzi, "Abi sama Umi sudah pulang, Bah?" sambungnya.


"Sudah," jawab Abah Mudin. "Sebelum kamu pulang, mending kita sholat isya dulu terus makan, Ayo," Dan semua pun setuju dengan usulan Abah Mudin. Mereka hampir serentak menuju tempat sholat yang ada di rumah itu.


Setelah selesai sholat, mereka langsung menuju ruang santai depan televisi untuk menyantap hidangan yang sudah disiapkan Umi Sarah. Umi sengaja menghidangkan makanan disana karena biar lebih leluasa dan karena meja makan yang mereka miliki tak terlalu besar.


Sembari sesekali di iringi obrolan ringan, mereka mulai menyantap hidangan yang sudah disediakan.


"Ini bandengnya gede amat, Umi," ucap Ramzi sembari mengambil potongan bandeng kuah acar.


"Iya itu. Kata Sania, Raja yang ngasih tadi pagi," balas Umi.


"Wah! Calon mantu yang baik ya, Mi" Mendengar ucapan Ramzi yang asal, seketika Sania dan Raja tersedak bersama. Dan semua mata langsung memandang keduanya yang tiba tiba salah tingkah. Raja kembali menunduk dan melanjutkan makannya sembari senyum senyum. Sedangkan Sania mendengus dan menunduk menutupi rasa malu.


"Rumi, Raja, Ramzi, nambah lagi nasinya?" perintah Abah.


"Gampang, Bah. Pasti nambah. Masakan Umi enak banget, apa lagi ini bandengnya," ujar Ramzi. Wajahnya nampak begitu ceria, tidak setegang tadi saat berseteru dengan sang ayah.


"Itu Sania yang masak, Zi. Tadinya mau Umi goreng aja tapi oleh Sania disuruh jangan dan yah itu hasilnya," balas Umi lagi.


"Wah! Pantes si...."


"Kalau kamu mau bandeng, datang ke gudang aja, Zi. Nanti aku kasih," ucap Raja langsung memotong perkataan Ramzi.


Ramzi hanya mengangguk sambil menahan tawa. Rumi yang paling kecil diantara mereka hanya menjadi pendengar yang baik sambil menikmati hidangan. Sesekali dia juga ikut tersenyum saat ada sesuatu yang lucu terjadi di situ.


"Emang wanita pilihanmu, anak mana, Zi?" tanya Abah yang sepertinya telah selesai makan.


"Anak srimaya, Bah. pedagang kantin di tempatku bekerja," balas Ramzi. Dia juga nampak telah menyelesaikan makannya.


"Udah lama?" tanya Abah lagi.


"Hampir satu tahun," Semua merasa terkejut dengan jawaban Ramzi. Yang pastinya mereka tidak menyangka, seorang Ramzi bisa menyembunyikan hubungannya dengan seseorang selama itu. Wajar mereka kaget karena sosok Ramzi dan keluargnya itu bagaimana.


"Udah lama juga yah? Kenapa kamu baru mengakuinya tadi? Pantas ayah kamu nampak marah sekali," sambung Sania


"Sebenarnya aku sudah berkali kali bicara, San. Tapi Abi benar benar teguh pada pendiriannya. Jujur sih aku tadi sempat khawatir kalau kamu mau menerima perjodohan kita. Pasti Abi akan lebih bersemangat. Makasih ya," balas Ramzi.


"Kalau niatmu baik, terus saja kamu lakukan ngomong baik baik sama ayahmu, Nak. Insya Allah, pasti nanti ada jalan buat kalian," ucap Abah.


"Iya, Bah, makasih. Aku pasti akan terus berusaha," balas Ramzi yakin.


Acara makan bersama pun selesai. Setelah beres beres, Abah dan Umi lanjut nonton televisi sedangkan keempat anak muda duduk santai di teras depan.


"Dek, gimana tawaranku?" tanya Raja pada Sania tiba tiba di tengah obrolan mereka.


"Kerja sama buka toko jilbab,"


"Ntar dulu lah, orang masih dipikirin juga,"


"Jangan kelamaan mikirnya dong, Dek,"


"Kan perlu dipikirin secara matang, Bang,"


"Jangan terlalu matang, Entar busuk gimana?"


"Apanya yang busuk?" tanya Sania dengan wajah bingung. Sedangkan Raja malah cengengesan. Begitu juga Rumi dan Ramzi.


"Kamu ngetawain aku?" sungut Sania berang.


"Siapa juga yang ngetawain? Ih kalau nuduh tuh ya, bikin gemes, duh, boleh nyubit hidungnya bentar nggak, Dek?"


"Enak aja!"


Ramzi dan Rumi makin terkikik. Ingin sekali mereka meledakkan tawanya, namun tidak enak dengan Sania yang nampak sedang menahan amarah akibat ledekan Raja.


"Kalian ini, kayak orang pacaran aja, serasi, serius," ucap Ramzi di sela sela suara tawanya.


"Apa? Aku? Pacaran sama dia? Nggak mungkin," sanggah Sania sambil menatap melirik sinis ke arah Raja.


"Eh, apa yang terjadi dengan hari esok nggak ada yang tahu loh, San," ucap Ramzi.


"Ih, nggak lah, jangan sampai aku ada hubungan dengan pemabuk," balas Sania keceplosan saking geramnya.


Deg.


Hati Raja seketika mencelos seperti tersayat. Senyumnya langsung sirna saat mendengar ucapan Sania. Raut wajahnya berubah.


Sania yang baru menyadari ucapannya terdengar menghina langsung terhenyak. Tatapannya langsung mengarah ke arah Raja. Jelas sekali dia melihat ada kecewa di mata pria itu. Sungguh, Sania tidak ada niat buat menyakiti Raja. Dia keceplosan.


Rumi dan Ramzi juga langsung ikut terdiam. Suasana hangat langsung berubah mencekam saat mereka menatap Raja yang matanya hampir tak berkedip memandang Sania.


"Ayo, Rum. Kita pulang," ucap Raja sembari langsung berdiri dan beranjak menuju motor. Ketiganya terhenyak dengan sikap Raja yang berubah dingin.


Sania pun semakin merasa bersalah namun bibirnya seakan terkunci untuk sekedar meminta maaf. Rumi dan Ramzi masih terpaku di tempatnya hingga ketiganya dibuat terkejut saat mendengar bentakan Raja.


"Rumi! Cepat kita pulang!"


...@@@@@...