
Acara tasyakuran pernikahan Raja dan Sania di malam hari pun tak kalah meriahnya. Hal ini terlihat dari banyaknya pengunjung yang hadir dan ingin menyaksikan secara langsung grup hadroh dari jawa timur dimana salah satu personilnya menjadi idola kaum hawa karena tampannya serta ustazdah wanita yang terknal kocak dari cilacap jawa tengah.
Berbagai kalangan pun nampak berbaur di sepanjang halaman dan jalan yang membentang demi bisa mengikuti tausiah dan perfoma grup hadroh yang memang jarang sekali terjadi di kampung mereka. Kebanyakan setiap ada hajatan, pertunjukkan yang ada hanya pentas dangdut lokal. Wajar saja masyarakat sangat antusias dengan adanya acara seperti ini.
Dengan tertib dan tanpa kendala yang sangat berarti, acara yang berlangsung selama tiga itu pun terlaksana dengan sukses dan sangat memuaskan. Meksi sang ustadzah hanya ceramah selama satu jam dan dua jam sisanya unuk penampilan grup hadroh, namun hal itu cukup membuat siapapun yang hadir malam itu merasa puas.
Dengan hati yang penuh suka cita, para warga yang hadirpun pulang menuju rumah masing masing. Banyak diantara mereka yang kembali membahas apa yang baru mereka lihat dan dengar. Terutama kelucuan kelucuan sang ustazdah saat memberi tausiah, sungguh sangat berkesan di hati yang mendengarnya. Meski penuh sindiran dan kritikan, namun nyatanya apa yang ustazdah itu sampaikan memang ada dalam kehidupan nyata. Raja sebagai pengantin laki laki pun tak lepas jadi bahan contoh ustazdah tersebut hingga beberapa kali Raja nampak malu kadang juga terpingkal.
Kelurga besar Raja dan keluarga besar Sania pun merasa senang karena berhasil menyuguhkan acara pernikahan yang bermanfaat bagi semua warga yang hadir. Mereka tidak menyangka acara yang mereka gelar mendapat sambutan yang sangat bagus dari masyakarat. Bahkan bukan hanya masyarakat satu kampung saja yang hadir. Dari kampung kampung tetangga juga banyak yang sengaja menyempatkan diri menghadiri pengajian tersebut.
Karena waktu yang terus melaju menuju malam, keluarga Raja pun akhirnya pamit dari kediaman Abah Mudin. Mereka juga berharapa Raja benar benar berubah dan menjadi imam yang baik buat Sania.
Malam benar benar semakin larut. Suasana berubah menjadi hening. Bahkan saking heningnya, suara orang mengobrol juga terdengar nyaring dan menggema di sunyi malam. Sebagian keluarga Sania sudah pada terlelap meski ada beberapa yang masih terjaga di depan rumah.
Begitu juga yang terjadi pada pengantin baru di dalam kamarnya. Mereka masih terjaga dengan perasaan canggung luar biasa. Meski tidak dipungkiri tubuh mereka sangat lelah, namun rasa kantuk seakan enggan hadir di kedua mata mereka.
Mereka duduk di dua sisi tepi ranjang dan saling memunggungi. Antara malu dan bingung, mereka hanya terdiam dengan pikiran berkelana entah kemana. Berkali kali mereka menghela nafas dalam dalam dan dengan pelan menghembuskannya agar gemuruh di hatinya bisa berkurang. Namun gemuruh yang membuat rasa gugup dan canggung itu malah terasa semakin bertambah hingga membuat mereka gelisah.
"Dek" panggil Raja sembari menoleh sedikit.
"Iya, Bang?" balas Sania juga menoleh sedikit.
"Tidur, udah malam." titah Raja.
"Abang aja yang tidur duluan. Abang pasti capek," balas Sania.
"Ya capek, Bang." balas Sania.
"Ya udah gih istirahat," perintah Raja.
"Abang duluan aja," tolak Sania.
"Dedek duluan, atau dedek mau Abang nina boboin," Ancam Raja sambil cengengesan. Sontak saja Sania langsung berbaring setelah mendengar ancaman tersebut. Bahkan getaran ranjang saat Sania menjatuhkan tubuhnya sangat terasa hingga ke tempat Raja duduk.
"Tidurnya memang terbiasa tetap pake hijab apa, Dek?" tanya Raja lagi.
Sania kembali gelagapan. Sebenarnya dia kalau tidur di kamarnya memang tidak pernah memakai jilbab. Tapi kali ini dia belum siap melepas jilbab di hadapan laki laki.
"Abang tahu, Dek. Kamu kalau tidur nggak pake jilbab kan? Terus kenapa sekarang malah pake?" tanya Raja.
Sebenarnya Raja hanya asal tebak saja namun malah membuat Sania mati kutu. Sania seketika bangkit dan melepas hijabnya terus kembali berbaring dengan tangan masih memegang hijab. Raja hanya menyunggingkan senyum kemudian suasana kembali hening.
Beberapa saat kemudian, gantian Raja yang membaringkan tubuhnya. Diliriknya sang istri yang berbaring memunggunginya. Kembali Raja mengulas senyum dan dia pun memejamkan matanya.
...@@@@@...
Apakah yang terjadi setelahnya? Apakah ini menjadi malam panjang? Atau terlewat begitu saja? Ditunggu saja kelanjutannya, hihihii