
Raja pulang dengan hati riang gembira. Namun sayang senyum Raja surut begitu sampai rumah, matanya disuguhkan dengan pemandangan yang bikin sakit mata dan menaikkan amarah. Di teras rumahnya Pipit dengan orang tuanya berada disana sedang duduk dengan kedua orang tuanya.
Raja benar benar tak habis pikir, kenapa perempuan ini selalu saja mengganggunya? Benar benar tak punya urat malu. Raja juga heran dengan orangtua Pipit. Bisa bisanya selalu mendukung kelakuan anaknya yang seperti wanita murah meriah tidak punya harga diri sama sekali.
"Ada apa lagi ini?" Tanya Raja langsung menunjukkan wajah tidak sukanya kepada dua perempuan beda usia yang menjadi tamu di rumahnya.
"Ya ampun Nak Raja. duduk dulu sini loh baru bicara," ucap Ibu Pipit dengan wajah ceria tanpa dosa dan itu terlihat sangat memuakkan. Sedangkan Pipit, entah terbuat dari apa wajah wanita itu. Dia masih bisa tersenyum menjijikan.
"Ngapain aku duduk dengan kalian? Mending tidur," ucap Raja sarkas.
"Ini loh, Ja. Tadi katanya Pipit dipukuli oleh Sania. Makanya dia kesini mau minta bantuan kita buat ngomong sama keluarga Abah," mendengar ucapan sang Ibu tentu saja Raja naik pitam.
"Kamu itu nggak ada jeranya yah jadi cewek? Dasae tukang fitnah. Yang nyerang Sania duluan tu kamu, Pipit! Sadar diri napa? Bener bener nggak ada harga dirinya kamu ya sebagai perempuan!" Maki Raja makin emosi.
"Loh? Kok yang di omongin beda?" Tanya Bapak.
"Ya beda lah, Pak. Orang perempuan ini tukang fitnah. Saksinya banyak, masih aja nuduh Sania yang tidak tidak," tuding Raja sambil menunjuk nunjuk Pipit.
"Tapi kan anak saya nggak salah, Nak Raja. Dia hanya ingin melindungi apa yang sudah jadi miliknya," bela Ibunya Pipit.
"Apa yang sudah jadi miliknya? Apa! Saya? Jangan mimpi aku mau sama anak ibu. Wanita nggak punya harga diri. Tukang fitnah, mau melakukan apa saja termasuk yang hal memalukan seperti ini hanya demi laki laki," bentak Raja benar benar sudah tidak tahan dengan emosi yang yang sudah bergermuruh.
"Tapi kan nak Raja dan Pipit memang sudah di jodohkan?" balas Ibu Pipit ngotot.
"Dalam mimpi kalian! Amit amit aku dijodohkan dengan perempuan seperti ini. Mending aku nikah sama wanita bayaran yang mangkal di tepi jalan daripada dengan anak Ibu. Mereka lebih jelas ada harganya, tidak seperti anak Ibu," hina Raja tak terkontol membuat wajah kedua perempuan itu terperangah tak percaya. Bahkan Ibunya Pipit nampak kini tersulut amarah mendengar anaknya dihina sedemikian rupa oleh Raja. Kedua orang tua Raja juga kaget dengan ucapan anaknya yang terdengar penuh emosi itu.
"Maksud kamu apa! Kamu menghina anak saya?" tanya Ibu Pipit lantang sembari berdiri menatap tajam ke arah Raja.
"Kalau nggak mau dihina, bilang sama anak ibu ini, jangan ngejar ngejar aku lagi! Jangan cari masalah denganku lagi! Dia berbuat baik aja aku nggak suka, apa lagi dia berbuat seperti ini, semakin menjijikan tahu nggak, Bu," balas Raja semakin terdengar menyakitkan di telinga Pipit. Mata memerah antara emosi dan sakit hati. Bahkan butiran bening sudah menampakkan jati dirinya di kedua sudut mata Pipit.
"Jangan sok kamu deh, Raja. Emang kelakuan kamu sudah benar? Kamu aja pemabuk dan suka bikin onar? Pakai ngata ngatain anakku sembarangan," hina Ibu Pipit demi membela anaknya.
"Udah tahu aku pemabuk, kelakuanku nggak benar, kenapa anda ngotot agar aku mau dijadiin menantu? Kenapa? Kenapa ngotot?" ucap Raja sinis. Dan ucapan itu sontak membungkam mulut Ibu Pipit.
"Ayo, Pit. Kita pulang! Ibu nggak sudi punya memantu kayak gini. Mentang mentang kaya. Seenaknya saja dengan orang nggak punya." Oceh Ibu Pipit sembari menarik tangan sang anak.
"Iya sanah nyari yang lain buat mantu! Kalau ada yang mau tapi," ejek Raja sembari tertawa mengejek.
Dua perempuan itu pun akhirnya pergi denga perasaan campur aduk. Sedangkan Raja baru mau duduk setelah tamu itu pergi.
"Bisa bisanya kamu ngomong kayak gitu, Ja?" ucap Ibu.
"Ya gimana lagi, Bu. Dibilangin baik baik malah nglunjak. Ya mending dikerasin kan?" balas Raja.
Bapak dan Ibu pun kembali diam tanpa mau berkomentar kembali. Raja pun kini ikut diam menenangkan gemuruh dihatinya.
...@@@@@...