Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 34



Masih di malam yang sama dan tempat berbeda. Tepatnya di dalam kamar kedua orang tua Raja, nampak sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius. Dan tentu saja hal itu ada hubungannya Raja serta sikapnya terhadap putri Abah Mudin. Sebagai orang tua, mereka tahu benar, Raja ada rasa dengan perempuan bernama Sania.


"Pak, cobalah sekali kali, Bapak ngomong sama Ustadz Mudin," ucap Lastri kepada sang suami yang sedang berbaring memunggunginya.


"Ngomong apa, Bu? Ngajak Sania buat ta'arufan? Bapak nggak berani, Bu," balas Abdul masih dengan posisi yang sama.


"Tapi kan, Pak, kasihan Raja. Bapak lihat sendiri kan tadi? Betapa Raja mengistimewakan Sania?"


"Iya, tapi, kalau lihat kelakuan Raja, Bapak nggak punya keberanian, Bu. Apa lagi Ibu tahu, kan? orang orang yang menginginkan Sania menjadi menantunya rata rata pemuda yang agamanya nggak main main, sedangkan Raja," balas Abdul. Kini posisinya menghadap sang istri yang sedang duduk bersandar.


Lastri menghela berat nafasnya. Sebagai orang tua, dia juga suka dengan Sania dan berharap anaknya berjodoh dengan perempuan itu agar bisa membimbing Raja ke jalan yang benar. Tapi sampai detik ini, Lastri hanya bisa berharap karena dia sendiri juga sadar, kebiasaan Raja membuat dirinya dan suami tidak bisa melakukan apa apa.


"Seenggaknya kita nyoba dulu," ucap Lastri masih berusaha mendesak.


"Lah, kalaupun kita mencoba, udah pasti si Sania itu menolak, Bu. Mana mau dia punya suami pemabok dan susah dibilangin," Lagi lagi Lastri hanya bisa menghela berat nafasnya. Hatinya membenarkan alasan suaminya. Lastri pun akhirnya menyerah dan terdiam. Dia membaringkan tubuhnya meski masih memikirkan nasib putranya.


Sementara di tempat lain, sepasang suami istri juga nampak sedang terlibat pembicaraan serius di sela waktu menjelang tidur.


"Gimana tadi, Bah? Apa Abah setuju dengan penawaran Kyai Bahar?" tanya Umi Sarah yang sedang berbaring menatap punggung suaminya.


"Kalau Abah sih setuju setuju saja, Mi. Tapi Umi tahu, kan? Abah tidak akan mengambil keputusan sebelum memastikannya pada Sania? Abah nggak mau gegabah," balas Abah Mudin yang kini posisinya telah berganti menjadi telentang.


"Kenapa? Bukankah Ramzi anak yang baik, Mi?"


"Semua orang kalau di depan orang lain pasti selalu bersikap baik, Bah. Pasti Abah denger ,kan? Gimana nasib pernikahan kedua putri Kyai Bahar? Suami mereka terlihat baik dan sopan serta taat agama, orang tuanya mereka bahkan terpandang, tapi lihat kenyataannya? Yang satu diam diam KDRT, yang satu dipoligami sekaligus dua," cicit Lastri panjang lebar.


"Maka itu, kan tadi Abah bilang, semua keputusan ada di tangan Sania. Abah nggak mau suatu hari nanti, Abah menyesal jika menjodoh jodohkan Sania semau Abah,"


"Tapi kok, Umi malah kayak cocok Sania dengan Raja ya, Bah. Anak itu meski doyan mabuk, entah kenapa pembawaanya tenang dan terlihat sangat perhatian sama Sania," ucap Umi lagi dan si Abah hanya mengulas senyum.


"Umi kayak nggak tahu aja sikap Sania ke Raja bagaimana?"


"Iya, Umi tahu. Tapi lihat akhir akhir ini, anak itu selalu saja seperti mencari kesempatan agar selalu dekat dengan anak kita,"


"Ya namanya juga laki laki, Mi, Mungkin Raja lagi berjuang meluluhkan hati Sania. Biarin aja lah, kalau pun jodoh juga pasti bakal ketemu," ucap Abah mengakhiri obrolannya dengan memejamkan mata dan memiringkan tubuhnya membelakangi sang istri.


Sementara Umi, matanya masih menatap langit langit kamar dengan pikiran yang menerawang ke nasib Putrinya. Sebagai seorang ibu, dia hanya berharap, Sania berjodoh dengan laki laki yang menyayanginya.


Rasa kantuk pun akhirnya menyerang mata Umi. Perlahan lahan mata itu terpejam dan akhirnya Umi terlelap dalam buaian malam.


...@@@@@...