
Ustad Mudin nampak sangat terkejut mendengar tujuan dari kedatangan Danu sekeluarga. Begitu juga dengan Raja. Pria itu wajahnya seketika berubah masam. Ada amarah dalam hatinya ketika mendengar ada pria lain yang mengincar gadis idamannya. Terlihat disana, seorang laki laki dengan wajah terlihat segar dan berseri tersenyum simpul saat ayahnya mengutarakan maksud dan tujuannya.
Raja menjadi resah. Dilihat dari penampilannya, Ustad Mudin pasti bakalan tertarik mendapatkan memantu seperti putra Pak Danu.
"Kamu ingin mengajak putri saya mencoba ta'aruf dengan putra kamu, Pak Danu?" Tanya Abah memastikan.
"Iya, Bah. Saya kira putra saya satu satunya pria yang pas dan tepat jadi imam buat putri Abah." Jawab Danu yakin. Namun ucapan Danu itu malah membuat hati Abah gundah.
"Yang pas dan tepat? Alasannya?" Tanya Abah.
"Ya secara anak saya juga lulusan pesantren ternama di negara kita. Dia juga sedang menempuh pendidikan S2 dan dia saat ini mengajar pendidikan agama di salah satu sekolah elit di kabupaten ini dengan gaji yang lumayan gede, Bah." Jawab Danu berapi api memamerkan kelebihan putranya. Dan kesombongan juga terpancar dari wajah putra Danu.
"Sombong sekali." Gumam Raja dan gumaman itu terdengar oleh Danu yang duduk disebelahnya.
"Siapa yang sombong? Saya hanya bicara kenyataan. Dilihat dari sisi manapun, memang putra saya yang paling pantas untuk pendamping hidup anak perempuan Abah Mudin." Balas Danu sedikit emosi namun masih terdengar jumawa.
"Paling pantas? Kenapa Pak Danu sangat yakin?" Tanya Raja sedikit jengah mendengar ucapan Danu.
"Ya yakin lah. Mereka sama sama berpendidikan agama. Anak saya ibadahnya rajin, Pendidikannya tinggi, ilmu agamanya juga tidak diragukan lagi. Bukankah dari hal itu terlihat jelas kalau Putra saya satu satunya pria yang tepat untuk putri abah." Jawab Danu masih dengan nada sombong dan yakinnya membuat Raja tersenyum miring. Sedangkan Abah Mudin hanya terdiam mencoba menahan ucapannya. Dia juga merasakan hal yang sama dengan yang Raja rasakan, namun dia hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Kalau iya, kenapa?" Ucap Raja santai. Namun keluarga Danu malah terbahak bahkan tersenyum sinis.
"Apa kamu nggak ngaca? Mana pantas putri Abah Mudin bersanding dengan pria sepertimu?" Balas istri Danu. Perkataannya benar benar mengandung hinaan.
"Kamu memang kaya dan sukses, Nak. Tapi, apa kamu nggak mikir sebelum kesini dan mengajak putri Abah Mudin ta'arufan? Bagaimana kelakuan kamu tiap hari?" Sindir Danu dan ucapannya benar benar menyinggung perasaan Raja meski ucapan Danu memang benar adanya.
Raja hanya tersenyum tipis. Telinganya sudah begitu kebal dengan sindiran dan hinaan dari orang orang seperti Danu.
"Harusnya kamu memperbaiki diri dulu, Nak Raja. Biar terlihat lebih pantas menjadi menantu Abah Mudin. Kalau kelakuanmu tetap begitu, jangankan Abah Mudin, orang tua perempuan lain juga nggak bakalan sudi punya menantu yang berkelakuan buruk. Mereka pasti mikir ribuan kali ketika mau menikahkan putrinya dengan kamu, karena udah jelas sekali masa depannya kayak gimana, Nggak bakalan baik." Ucap istri Danu benar benar menohok hati Raja.
Abah Mudin hanya terdiam mendengar Raja dihina oleh keluarga Danu. Dalam hati dia berkali kali mengucap kata istighfar.
"Oh ya? Dengan berbicara dan menilai orang lain seburuk itu dihadapan Abah Mudin, apakah itu akan membuat Pak Danu terlihat lebih baik dari saya? Anak anda berpendidikan tinggi dan berilmu agama dengan baik tapi sayangnya pendidikan dan ilmu agama yang dia peroleh tidak bermanfaat untuk keluarga Pak Danu. Coba Pak Danu tanya sama putra anda. Ada nggak ayat yang menjelaskan kalau menghina sesama manusia itu di perbolehkan? Apa lagi menghinanya secara terang terangan seperti itu? Ada nggak ayat yang menerangkan hal itu?"
Danu sekeluarga terkesiap mendengar pertanyaan Raja sedangkan Abah Mudin malah menyunggingkan senyumnya Dan Raja tersenyum sinis menatap Danu yang terbungkam.
...@@@@@...