
"Ya Pak Kyai tanya saja dengan putra Bapak, apa bermesraan dengan wanita yang belum halal di tempat umum termasuk kelakuan baik atau buruk?"
Seketika wajah ketiga tamu di rumah Sania nampak begitu pias mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut Raja. Bukan hanya Keluarga Bahar, Abah Mudin dan Umi Sarah pun terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Mereka pasti sukar percaya kalau seorang Ramzi bisa melakukan hal seperti itu. Mengingat betapa ketatnya aturan agama keluarga Bahar. Keluarga Bahar paling anti dengan yang namanya pacaran namun mereka tidak sadar kalau Tuhan bisa dengan mudah membolak balikkan suasana hati. di tambah dengan godaan godaan yang tiap hari menghampiri.
"Apa kamu ingin menjatuhkan nama baik anak saya?" tanya Kyai Bahar dengan sikap dibuat setenang mungkin. Raja tersenyum tipis sebelum membalas pertanyaan sang Kyai.
"Coba saja Bapak tanya Ramzi langsung, mungkin Ramzi bisa menjelaskan," balas Raja tak kalah tenang.
Nampak sekali ada kegusaran dari wajah Ramzi. Sedangkan Ibu Ramzi menatap anaknya dengan tatapan prihatin. Dia tahu benar apa yang Ramzi rasakan, namun dia tidak mampu melawan sang suami.
"Jangan sama kan anak saya dengan kelakuan kamu, Nak, anak saya sangat jelas berbeda kelakuannya dengan kamu." Lagi lagi Raja hanya tersenyum tipis mendengar sindiran kyai Bahar. Sudah terbiasa dia mendapat sindiran semacam ini. Hatinya sudah kebal.
"Din, kenapa kamu membiarkan anak kamu bergaul dengan orang macam dia? Lihat! Apa kamu nggak takut anak kamu terpengaruh?" Kini ucapan Kyai Bahar benar benar merembet kemana mana. Dan itulah yang sangat disayangkan.
Seperti biasa, Abah Mudin tidak terlalu serius menanggapi rekan dakwahnya. Dia hanya menyunggingkan senyum tanpa ada rasa ingin membalas ucapan Kyai Bahar. Karena bagi Abah, membalas ucapan kyai Bahar adalah hal yang sia sia dan hal itu bisa menjadi perdebatan yang panjang. Makanya dia memilih diam.
"Maaf pak kyai, aku memang pendosa. Kelakuanku memang buruk. Tapi apakah kelakuan anak bapak sudah sangat baik? Apa Bapak lupa kalau manusia itu tidak sempurna? Dan bapak hanya memandang Ramzi dengan kesempurnaan, bukankah itu hal yang aneh? tanya dong sama anak bapak?" balas Raja.
Jika bukan karena menjaga wibawanya, sudah dipastikan, Kyai Bahar akan meluapkan emosi yang sedang bergemuruh di dadanya. Sama sekali tidak terlintas dalam pikirannya, akan ada orang yang melawan setiap ucapannya. Dari dulu setiap yang berdebat dengan kyai Bahar selalu memilih mengalah daripada memperpanjang perkara. Tapi kali ini harga dirinya sebagai orang yang terpandang merasa sedang di uji oleh anak muda tukang mabuk.
Saat suasana begitu mencekam, tiba tiba Sania mengeluarkan suaranya kembali, "Jujur Pak kyai, kemarin sore saya melihat dengan kepala mata saya sendiri, Mas Ramzi sedang berkencan dengan seorang perempuan di jalan."
Jedderr
Kyai Bahar terperanjat. Seketika dia langsung menatap tajam ke arah anaknya yang tertunduk.
"Tidak mungkin. Kamu jangan memfitnah anak saya, Nak. Kemarin sudah jelas anak saya ada kegiatan belajar dakwah di desa sebelah," sanggah kyai Bahar.
"Saya tahu, bapak tidak mungkin akan percaya. Meski aku nggak sendirian saat melihatnya. Ada bang Raja juga yang melihat. Yang saya sayangkan, Mas Ramzi hanya diam tanpa menyanggah atau membenarkan. Dan hal ini yang membuat saya semakin yakin dengan menolak niat baik Pak kyai. Mas Ramzi tidak ada ketegasan sama sekali. Bagaimana nanti kehidupan rumah tangga kami jika sang pemimpin rumah tangga tidak ada ketegasan? Apakah saya mampu bertahan? Sepertinya tidak," ucap Sania lembut namun penuh makna.
Kyai Bahar kembali terkesiap. Dia tidak menyangka dapat serangan dari dua anak muda yang hanya anak kemarin sore. Namun dia masih saja berusaha bersikap tenang. Tapi sayang, setenang apapun sikap Kyai Bahar, nampak sekali kalau dia menahan amarah sekuat hati.
"Bagaimana saya..." Pak kyai hendak bersuara namun tiba tiba ucapannya terpotong saat dia mendengar.
"Apa yang dikatakan Sania benar. Kemarin aku sedang tidak berdakwah. Tapi aku pergi dengan seseorang yang aku cintai."
Kyai Bahar terperangah. Seketika tatapannya menukik tajam ke sumber suara.
...@@@@...