Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 96



Setelah mengantar pulang motor Sania, Raja dan kedua anak buahnya memilih nongkrong di sebuah angkringan. Sudah lama mereka tidak berkumpul seperti ini. Selain faktor kesibukan, faktor usia juga berpengaruh bagi ketiga pria yang usianya sudah memasuki usia menikah. Namun entah kenapa selain Raja, kedua anak buah Raja susah mendekati wanita. Padahal dari segi wajah, mereka tidak jelek sama sekali. dari segi ekonomi, mereka juga mampu. Tapi entah kenapa mereka seakan susah mendapatkan jodoh.


Selain kopi, Raja juga memesan aneka cemilan khas angkringan buat menemani acara santai mereka. Meski saat ini pikiran Raja terganggu dengan ucapan yang Abah Mudin katakan. Dia penasaran apa yang dibicarakan Abah Mudin dengan Bapaknya. Apa ini ada hubungannya dengan Bahar? Kalau iya, Raja tidak akan tinggal diam. Raja rela jika hidupnya di usik dan dihina, tapi Raja tidak akan rela jika keluarganya juga dihina.


"Kenapa sedari tadi kamu diam aja, Gan? Apa ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Anto setelah menyeruput kopi hitam pekat dengan sedikit gula sesuai seleranya.


"Aku masih kepikiran dengan ucapan Abah Mudin. Kira kira pesan apa yang dia sampaikan buat Bapak?" balas Raja.


"Pesan buat Bapak? Emang Abah Mudin kapan ketemu juragan besar?" tanya Kirno.


"Bisa jadi tadi sore. Kan kalian tadi lihat sendiri, Bapak sama Ibu pulang kondangan. Mereka kondangan dihajatan rumah sebelah Abah Mudin itu. Kalian tadi lihat kan? Bisa saja Abah ketemu Bapak disana." terang Raja.


"Ah iya, apa lagi juragan besar pulang hampir maghrib ya, Gan. Jangan jangan ada sesuatu yang serius terjadi, Gan?" terka Anto.


"Kalau aku sih mikirnya, ini pasti ada hubungannya dengan kyai Bahar. Pasti Abah sama Bapak ngomongin hal itu." jawab Raja yakin.


"Apa hubungannya?" tanya Kirno.


"Ya adalah, Kir. Bukankah kamu sendiri yang cerita kalau Bahar menuduh Sania bergaul sama cowok nggak bener? Jelas banget yang di maksud cowok nggak bener pasti aku. Soalnya pas Sania menolak tawaran Bahar, aku sedang ada disana bareng Rumi." terang Raja gamblang.


"Ah iya benar. Bisa jadi itu, Gan. Wah bener bener jadi masalah serius ini." ujar Kirno.


"Kalau kamu penasaran? Kenapa nggak pulang aja, Ja? Malah ngajak kita nongkrong disini." ucap Anto.


Dan Raja pun menepuk keningnya menyadari keteledorannya. "Ah iya! Ya udah mending kita pulang yuk." Ajak Raja.


"Ya udah, sana, pulang dulu. Aku masih betah disini," tolak Anto.


"Oke, kalau begitu, aku pulang dulu ya?" Pamit Raja dan keduanya pun mempersilahkan. Raja pun bergegas melangkah terus menaiki motornya. Tak butuh waktu lama, motor pun telah melaju menuju arah jalan pulang.


Sesampainya di rumah, Raja tercengang. Beberapa lampu rumahnya sudah gelap bertanda kalau yang punya rumah pada tidur. Raja pun masuk dan mencoba memanggil orang tuanya, namun tak ada sahutan.


"Bapak dan Ibu sudah tidur dari tadi, Bang." Ucap Rumi yang keluar dari arah dapur dengan tangan menenteng gelas dan botol air minum.


"Yah, aku telat. Orang ada yang ingin aku tanyakan, malah udah pada tidur." keluh Raja sambil menghempaskan badannya di sofa depan televisi.


"Lagian, Abang darimana? Bapak sama Ibu juga tadi nungguin," Tanya Rumi yang mengurungkan niatnya kembali ke kamar.


"Bapak nungguin?" Rumi mengangguk. "Nungguin kenapa?".


"Nggak tahu katanya penting, eh malah Abang nggak pulang pulang. Di telfon nggak di angkat angkat."


Mendengar ucapan Rumi, Raja kembali menepuk keningnya. "Ah iya, aku nggak bawa hp, lupa tadi karena tergesa gesa."


"Hmm salah sendiri. Nunggu besok aja, Bang. Mending istirahat sana." ucap Rumi dan dia pun beranjak menuju kamarnya.


Begitu juga Raja. Dia bergegas menuju kamarnya. Segera dia mengecek ponselnya ternyata ponsel mati kehabisan daya. Sambil mengisi data batre, Raja pun pergi ke kamar mandi untuk bersih bersih sekalian wudhu karena belum melaksanakan sholat isya.


Beberapa saat kemudian, setelah selesai sholar, Raja langsung melepaskan yang menempel di tubuhnya kecuali boxer dan dia membaringkan tubuhnya sambil menyalakan ponsel.


Setelah ponsel menyala beberapa menit, Raja langsung mengeceknya. Betapa terkejutnya dia saat di dalam ponsel ada pesan chat dan beberapa panggilan dari seseorang. Kening Raja pun berkerut dan dia bergumam, "Sania menelponku? Ada apa, ya?"


...@@@@@...