
"Yang benar saja. Orang lagi terluka begini masih harus naik motor. Cari mobil, masa nggak ada?" protes Kyai Bahar sambil menahan nyeri yang sudah mulai menjalar.
Semua orang yang mendengarnya pun terperangah termasuk Raja. Mereka tidak habis pikir bisa bisanya Kyai Bahar bicara seperti itu.
"Jalanan sepi, Pak. Nggak ada mobil bak terbuka yang lewat. Daripada nanti Bapak kenapa kenapa, mending secepatnya di bawa ke rumah sakit," balas salah satu warga.
Namun mendengar hal itu, Kyai Bahar semakin membulatkan matanya. "Mobil bak terbuka? Apa nggak ada mobil lain? Itu banyak mobil lewat? Coba hentikan salah satunya?"
Semua kembali terperangah mendengar ucapan Kyai Bahar. Bisa bisanya disaat seperti ini, dia malah berbuat seenaknya.
Raja yang sedari tadi diam pun merasa geram mendengar rengekan Kyai Bahar. Saking geramnya dia ingin menyumpal mulut Kyai tersebut.
"Ya susah, Pak. Mana mau mereka menolong kecelakaan," ujar Warga yang lain.
"Di coba dulu. Masa gitu aja nggak bisa. Coba cegat mobil sampai dapat tapi jangan mobil terbuka," titah Kya Bahar.
"Udah, nggak usah diturutin, jangan ditolong sekalian. Orang lagi terluka gitu kok banyak tuntutan. Emangnya anda siapa? Presiden?" Semua yang mendengar perkataan yang monohok itu pun seketika menoleh termasuk Kyai Bahar.
Sang Kyai membelalakan matanya. "Kamu!"
"Udah Bapak bapak, biarkan saja orang ini disini. Percuma nolong orang seperti ini. Bikin emosi aja." ucap orang itu yang tak lain adalah Raja. Saking geramnya, dia sengaja memprovikasi warga yang Raja yakini juga merasa geram dengan tingkah Kyai Bahar.
"Nggak usah jadi provokator kamu! Dasar anak nggak bener!" hardik Bahar geram. Terlihat sekali dia meringis menahan sakti ketika sedang marah barusan.
"Siapa yang jadi provokator? Ucapan Kyai sendiri yang memprovokasi warga. Bukannya bersyukur sudah di tolong, malah seenaknya minta ini itu. Kalau bukan karena kamu soerang Kyai, pasti semua warga sudah bubar ninggalin Kyai. Mereka masih mau menolong karena mereka menghargai Kyai, eh kyai malah seenaknya memanfaatkan rasa hormat mereka." terang Raja berapi api. Semua orang yang ada disana terkejut dengan ucapan Raja yang secara lantang mengkritik perbuatan Kyai Bahar. Banyak yang merasa lega juga karena apa yang Raja ucapkan mewakili isi hati mereka.
"Nggak memberatkan menurut Kyai sendiri, namun memberatkan bagi yang mau nolong." balas Raja tak mau kalah. Bahkan dada Raja terlihat kembang kempis saking emosinya melihat sikap Kyai Bahar.
"Apa benar kalian berat menolong seorang Kyai?" tanya Bahar tiba tiba hingga warga yang di tanya pun terkejut. Namun tidak ada yang berani menjawab karena mereka masih menghormati sang Kyai tersebut.
"Lihat! Mereka tidak keberatan sama sekali!" sambung Kyai Bahar dengan nada mengejek.
"Mereka memang tidak keberatan menolong, tapi mereka keberapatan dengan permintaan anda, Pak Kyai." ucap Raja sangat geram.
"Jangan sok tau kamu! Buktinya mereka diam tanpa banyak protes! Hanya kamu disini yang berani protes. Kelihatan bukan kalau kamu yang keberatan. Udah. Mending kamu pergi darisini. Dasar Mudin bodoh, orang seperti kamu kok mau maunya dijadiin menantu."
Mendengar kalimat terakhir Kya Bahar, makin geramlah Raja dibuatnya. "Justru Abah Mudin yang pintar. Abah Mudin tidak mau anak gadisnya menjadi janda seperti dua anak perempuan anda. anak sendiri juga nolak perjodohan pake fitnah Abah Mudin kemana mana, Kayak nggak punya kaca aja."
Sakarang, giliran Kyai Bahar yang geram mendengar ucapan Raja. Terlihat sekali dia tidak terima dengan apa yang dia dengar. Namun dia bingung mau membalas ucapan Raja seperti apa. Mulutnya terbungkam.
"Sudah para warga. Kalau Kyai ini nggak mau diantar pakai motor, lebih baik kita tinggalkan dia disini. Percuma ditolong tapi malah tidak tahu diri." ucap Raja selanjutnya dan terlihat warga pun nampak setuju.
"Bagaimana Pak Kyai, mau kita antar pakai motor atau kita tinggalkan?" tawar salah satu warga.
Pak kyai terperangah. Matanya tajam menatap Raja yang sedang tersenyum sinis kepadanya. Dan akhirnya dia pun berkata, "Baiklah."
...@@@@@...