Assalamu Alaikum Ukhti

Assalamu Alaikum Ukhti
Ukhti 40



Pria mana yang tidak bahagia ketika tiba tiba mendapat kejutan dari wanita yang selalu di impikannya. Meksi kejutan itu hanya kejadian kecil, namun bagi seorang pria yang sedang di mabuk asmara, hal kecil itu sangatlah membuat hatinya bersuka cita dengan girangnya.


Begitu juga dengan pria bernama Raja. Hatinya terbang melayang hanya karena sebuah telfon masuk dari nomer wanita idamannya. Senyumnya seakan tak mau surut dari bibirnya.


Dan hampir semua wajah yang ada di situ di buat melongo dengan tingkah juragan yang berbeda dari biasanya.


"Benarkah ini Dedek Sansan?" tanya Raja lagi untuk meyakinkan kalau pendengarannya tidak salah.


"Iya," jawab suara wanita dari balik telfon yang menempel di telinga Raja.


"Oh, ya syukur deh. Kirain aku mimpi," balas Raja dan sekarang dia posisinya sedikit menjauh dari anak buahnya, "Tahu nomer telfonku darimana, Dek?"


"Dari Rumi," balas Sania lagi. dan percakapan dalam telfon pun terjadi.


"Oh. Apa ada perlu? Sampe telfon gini?"


"Cuma mau tanya, nanti belajar ngajinya di rumahku, mau nggak, Bang?"


"Loh, kok di rumahmu?"


"Iya," Dan Sania pun menjelaskan apa yang terjadi hingga dia meminta Raja dan Rumi belajar mengaji di rumahnya.


Raja yang mendengar alasan Sania menelfonnya, seketika hatinya seperti ada yang menyayat sedikit namun sakit. Senyumnya pun berubah masam. Wajar saja hatinya merasa sakit, karena dari penjelasan Sania, malam ini keluarga Kyai Bahar akan kerumah Abah dan tentunya secara langsung Raja akan menyaksikan wanita idamannya dijodohkan dengan pria lain.


Jika bukan karena Abah mudin, Raja ingin sekali menolak permintaan tersebut. Hatinya bakalan tidak mampu melihat sang wanita pujaan diminta untuk menjadi istri pria lain.


"Apakah kamu mau menerima perjodohan itu, Dek?" tanya Raja lemah.


"Aku bingung, Bang," balas Sania dari ujung Sana. Tentu saja jawaban seperti itu membuat hati Raja bertanya tanya.


"Kenapa bingung? Bukankah Ramzi anak yang baik?" tanya Raja sok tegar. Padahal hatinya sedang dalam kegelisahan.


"Kamu kemarin lihat kan, Bang? Ramzi jalan sama perempuan? Bagaimana bisa aku tega menyakiti perempuan lain jika menerimanya? Dan jika menolak, aku khawatir hubungan baik Abah dan Kyai Bahar akan berubah menjadi renggang," Balas Sania terdengar sangat resah sama seperti Raja yang resah mendengar penururan gadis di seberang sana.


"Renggang? Renggang gimana maksudnya, Dek?"


"Kamu tidak mengenal Kyai Bahar ya, Bang?"


"Kamu hanya kenal di luarnya saja, Bang. Tidak di dalamnya."


"Maksudnya, Dek?"


Dan Sania pun menjelaskan maksud dari perkataannya. Bahkan Sania yang biasa ketus terhadap Raja, kali ini tidak terdengar nada nada sebal keluar dadi mulut gadis itu. Yang ada Sania malah menumpahkan kegundahan hatinya kepada pria yang dia benci selama ini.


Raja sangat terkejut mendengar penuturan Sania. Antara percaya dan tidak percaya setelah mendengar penuturan anak ustadz diseberang sana. Sebagai warga yang jauh dari kegiatan agama, Raja tidak pernah tahu menahu soal kehidupan orang orang yang berkecimpung di dalam kegiatan ke agamaan. Raja kenal dengan orang orang seperti Kyai Bahar tapi Raja tidak pernah tahu kehidupan pribadi mereka seperti apa.


"Masa Kyai Bahar seperti itu, Dek?" tanya Raja mengungkapkan ketidak percayaannya.


"Tanya aja sama Om Abdul, pasti belau tahu, Bang," Dan Raja manggut manggut mendengar jawaban Sania. Benar juga kata Sania. Ayah Raja pasti tahu tentang Kyai Bahar dan kini Raja sedikit percaya.


"Terus apa yang akan kamu lakukan, Dek? Apa kamu akan menerimanya?"


"Ya ampun! Aku kan tadi udah bilang, aku tuh bingung. Masih pake tanya lagi," Sungut Sania. Mendengar Sania kembali galak, Raja malah tergelak.


"Ya udah, jangan bingung. Nanti kalau ada celah, aku ikutan ngomong deh," tawar Raja memberi solusi.


"Ikutan ngomong gimana?"


"Ya nggak tahu nanti ngomong gimana, yang pasti aku akan ikut bersuara jika Kyai Bahar bertindak kelewatan,"


"Ntar nama kamu buruk loh,"


"Bodo amat, nama ku memang sudah buruk. Lagian aku ngomong kan demi kamu, Dek,"


"Dih! Terserah kamu aja, Bang. Ya udah, telfonnya aku tutup dulu, ada pembeli,"


"Baiklah,"


Dan setelah saling mengucapkan salam, panggilan telfon pun berhenti. Raja termenung sambil bertopang dagu. Pikirannya melayang kepada satu nama wanita.


"Apapun yang terjadi nanti aku tak peduli, Dek. Yang penting aku harus bisa mencegah perjodohan itu, harus!"


...@@@@@...