
🎶Ya Asyiqol Musthofa
🎶Absyir Binailil Muna
🎶Qoq Roqoka susshofa
🎶as Shofa as shofaa
🎶Watoba Wafdul Hana
🎶Qod Roqoka susshofa
🎶Watoba Wafdul Hana
Alunan suara merdu dari grup hadroh kenamaan asal jawa timur, sedang unjuk gigi di atas sebuah panggung guna menemani pengunjung dan tamu undangan yang akan menjadi saksi upacara sakral yaitu akad nikah Raja Wicaksana dan Sania Fauziah.
Acara yang berlangsung siang hari tersebut, digelar di rumah Sania dan akan berlangsung beberapa jam lagi. Para hadirin yang sudah tiba di lokasi, segera menempatkan diri pada tempat yang sudah disediakan.
Diantara para tamu tamu tersebut, ada beberapa remaja putri yang turut hadir juga. Mereka hadir selain ingin menyaksikan acara akad, mereka juga ingin melihat secara langsung grup hadroh yang salah satu fokalisnya sudah terkenal diberbagai media karena ketampanannya.
Decihan kagum dan histeris sesekali terdengar dari remaja remaja yang sedang memasuki masa puber tersebut. Mereka bahkan tidak segan memanggil manggil sang vokalis dengan kata kata mesra.
Sementara para orang tua hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah remaja yang kadang memang mengherankan.
Di tempat yang berbeda, Raja sudah terlihat gagah dengan pakaian bernuansa putih. Wajahnya terlihat gugup meski dia berusaha bersikap tenang. Raja dan beberapa keluarganya memang sengaja di rias di rumah berbeda. Dia memakai rumah milik tetangga Sania yang letaknya memang tidak terlalu jauh. Hanya berselang tiga rumah dari rumah Sania.
"Jangan panik gitu dong, Ja," ucap Kamal kepada adik iparnya yang sedang duduk dengan salah satu kaki digetar getarkan.
"Siapa yang panik, Bang? Orang tenang begini," kilah Raja.
"Masih ingat kan ucapan akadnya? Entar kayak pas lamaran lagi, cincin sampe lupa." ledek Kamal dan sang adik hanya mendengus kemudian dia terkekeh.
"Bang, siap siap! Acara akan segera di mulai!" teriak Rumi.
Raja pun mempersiapkan diri serta mencoba menenangkan hati yang sedang berdegup kencang karena grogi.
Kini Raja sudah berada di kursi yang akan menjadi tempat dirinya mengucap janji suci. Di hadapannya ada Abah Mudin, pihak dari kantor urusan agama, Abdul dan beberapa bapak yang ditunjuk sebabagai saksi dan yang sengaja menyaksikan. Abah Mudin yang akan turun langsung mengucapkan lafaz ijab qabul kepada Raja.
Setelah keadaan cukup tenang dan waktu acara yang memang sudah harus dilaksanakan, pembawa acara pun bergegas membuka acara serta susunannya hingga sampailah waktu yang ditunggu pun tiba.
Abah Mudin memberi pengarahan kepada Raja. Bahkan dia menyuruh Raja berlatih sejenak guna meyakinkan diri agar tidak terjadi kesalahan dan Raja pun menurutinya.
Dan setelah semua arahan sudah dilakukan juga semua sudah saling siap, tiba lah saatnya ucapan ijab kabul dilaksanakan. Dengan lembut namun tegas, Abah Mudin mengucap kata ijab sembari menjabat tangan Raja. Dan setelah Abah Mudin selesai, Raja langsung menyambut dan mengucapkan dengan lantang ucapan kabul kepada Abah Mudin.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"SAH!!!"
"Alhamdulillah." Dan mereka langsung berdoa di pimpin oleh orang dari kantor urusan agama.
Setelah ijab kabul selesai, Sania pun muncul guna memberi tanda tangan pada buku nikah mereka serta langsung melanjutkan acara berikutnya.
Langkah demi langkah prosesi pernikahan itu berjalan dengan hikmat. Raja dan Sania kini duduk bersanding di kursi pelaminan guna mengikuti acara selanjutnya.
Sungguh bahagia benar benar terlihat jelas dari wajah sepasang pengantin tersebut. Dan tentu saja mereka berharap kebahagiaan ini terjadi untuk selamanya dalam babak baru perjalanan hidup mereka sebagai suami istri.
@@@@@