
"Yess!" Sorak Raja dalam hati. Ingin rasanya dia berjoget ria saat kedua telinganya mendengar secara langsung rasa keberatan perjodohan dari bibir Sania. Bahkan saat ini saja, dia seperti kesulitan menyembunyikan senyum bahagianya di hadapan orang orang yang ada.
Rumi yang melihat gelagat aneh sang kakak hanya bisa menggelengkan kepala seraya ikut tersenyum merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan sang kakak. Sedangkan Abah dan Umi juga, masing masing menatap Sania dengan pandangan tak percaya dengan apa yang baru saja Sania lontarkan dari bibirnya.
Raut terkejut juga terlihat dari wajah Kyai Bahar, sang istri dan Ramzi. Entah apa yang mereka pikirkan di balik rasa keterkejutannya, namun yang pasti mereka memikirkan hal berbeda satu sama lain.
"Yakin, Nak Sania keberatan?" tanya sang kyai memastikan.
"Sangat yakin," balas Sania tegas.
"Alasan apa yang membuat Sania keberatan niat baik saya?" Sania menyunggingkan senyumnya saat pertanyaan tersebut terlontar dari bibir Kyai Bahar.
"Ketegasan," jawaban Sania sukses membuat semua yang ada di ruang tamu bertanya tanya.
"Bisa dijelaskan, Nak?" tanya istri Bahar.
"Baik Umi. Sebelumnya saya minta maaf, saya tidak bermaksud menghina atau bagaimana. Cuma saya merasa Mas Ramzi tidak tegas dengan diri sendiri dan hatinya," terang Sania dan lagi lagi semua yang ada disana nampak terkejut.
"Aku? Tidak tegas? Apa maksudnya?" Kini untuk pertama kalinya Ramzi mengeluarkan suara.
"Saya tahu, Mas. Hati kamu menolak perjodohan ini bukan?" Ramzi terperanjat mendengar pertanyaan Sania. Begitu juga dengan kedua orang tuanya. Mereka pun bertanya tanya darimana Sania bisa tahu.
Ramzi tidak langsung menjawab. Terlihat sekali kebingungan dari sorot matanya. Apa yang dikatakan Sania memang benar adanya. Dia sangat keberatan dengan perjodohan ini. Namun entah kenapa, bibirnya seakan akan susah untuk bersuara. Apa lagi sang ayah menatap tajam ke arahnya sedangkan sang ibu ikut khawatir dengan wajah pias.
"Maaf, Nak. Anak saya jangan dijadikan alasan atas penolakan yang kamu buat. Apa mungkin, kamu ada laki laki lain yang mungkin sudah menjalin hubungan dengan kamu, Nak?" Kyai Bahar langsung bersuara untuk membalikkan keadaan.
"Maaf, Pak Kyai. Saya tidak menjadikan Mas Ramzi sebagai alasan. Saya hanya ingin tegas dengan hati saya sendiri kalau saya menolak keinginan Pak Kyai. Saya tahu niat Pak kyai dan Umi sangat baik, namun yang namanya perasaan bukankah lebih baik tidak dipaksakan?" balas Sania dengan perkataan yang sangat hati hati.
"Baiklah, saya terima keputusan kamu, Nak Sania," ucap Kyai Bahar sambil menyunggingkan senyum, " Saya tahu, kamu masih muda. Masih merasa ingin bebas dan memilih pendamping hidup sesuai hati. Tapi apakah pilihan hati nak Sania bisa menjamin memberi kebahagiaan? Bisa saja pilihan dari nak Sania mempunyai kebiasaan buruk atau gimana. Hati hati loh, Nak. Tipu daya setan bermacam macam."
Raja terkesiap mendengar ucapan Kyai Bahar. Entah kenapa dia merasa tersindir dengan ucapan orang tersebut saat kata kebiasaan buruk keluar dari mulut sang Kyai. Sedangkan Abah Mudin hanya tersenyum tanpa ingin mengeluarkan suaranya. Dia sengaja memberia ruang untuk anaknya mengeluarkan apa yang ada dihatinya.
"Saya tahu dan saya paham betul, tapi kalau saya dan Mas Ramzi jika dipaksakan untuk bersama, belum tentu kita bisa bahagia, kan, Pak Kyai?" balas Sania lagi.
"Terus? Apakah kamu nanti bahagia jika ternyata kamu berjodoh dengan orang yang nggak tahu agama. Misalnya seperti tukang judi, maksiat dan sebagainya. Apa kamu bisa menjamin dapat kebahagaian dari orang orang tersebut?" serang sang kyai lagi.
"Ya kalau memang sudah di takdirkan dan Sania bisa merubah seseorang menjadi lebih baik, pasti Sania akan sangat bahagia dong, Pak Kyai," Ucap Raja tiba tiba dengan santainya. Semua yang ada disana pun menatap ke arahnya.
"Maaf, Nak. Saya sedang bertanya pada Sania. Jadi tolong, mending kamu diam, ya?" ucap sang Kyai, lembut namun mengandung jarum.
"Anda bertanya tapi anda seakan akan memojokkan Sania dengan membandingkan putra anda dengan pria pria yang memiliki kelakuan buruk. Harusnya Pak kyai tanya dulu apakah putra Kyai benar benar tidak pernah melakukan perbuatan yang buruk?" balas Raja lagi tak mau kalah.
"Maksudnya?" tanya sang kyai yang merasa terkejut dengan apa yang Raja katakan.
"Ya Pak Kyai tanya saja dengan putra Bapak, apa bermesraan dengan wanita yang belum halal di tempat umum termasuk kelakuan baik atau buruk? Sedangkan putra anda pandai berdakwah dan tahu benar soal agama."
Deg
...@@@@@...