
Semakin sore suasana pantai semakin rame. Meski sudah tidak ada yang bermain air, namun pengunjung tetap bertahan menikmati matahari yang seakan masuk kedalam air laut di seberang sana.
Jam yang melingkar di tangan menunjuk pukul empat lebih empat puluh dua menit. Pertanda Sania dan Raja sudah berada di pantai sekitar tiga puluh menit sejak mereka datang.
Kini mereka duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon besar di salah satu sudut pantai. Di hadapannya ada meja yang sama panjangnya dengan bangku dan diatasnya ada dua gelas es jeruk dan sepiring gorengan. Di sisi kanan, kiri dan belakang mereka juga ada pengunjung yang lain sedang menikmati makanan yang menunya hampir sama dengan Raja.
"Kamu sudah biasa main kesini apa, Dek?" tanya Raja sembari menyeruput sedikit es jeruk yang tinggal setengah gelas.
"Yah. Kalau ada kesempatan main ke Kebumen, Bang. Sebenarnya di sebelah sana ada pantai yang lebih indah loh, Bang?" jawab Sania. Dia malah asyik menikmati mendoan yang dicocolin ke sambal.
"Pantai apa, Dek?" tanya Raja.
"Pantai menganti. Bagus pantainya." balas Sania sambil mengunyah. Mungkin karena sudah terbiasa saling melihat saat makan, Sania terlihat biasa saja menikmati makanan di hadapan Raja. Sedangkan Raja sendiri merasa gemas melihat Sania yang sudah kepedesan namun tetap saja melahap sambal dengan mendoan.
"Pantai penganti? Pernah dengar Abang."
"Ya pantainya emang terkenal, Bang. Abisnya bagus banget sih. Kita tadi berangkatnya terlalu sore jadi mana ada waktu buat kesana." terang Sania setelah itu dia menyeruput es jeruknya sampai habis.
"Astaga, Dek! Entar sakit perut loh," ucap Raja yang sedikit khawatir melihat Sania kepedasan.
Namun wanita yang di khawatirkan malah terkekeh. "Semoga enggak lah, Bang. Entar Bang aku mau pesan teh hangat."
Tanpa menunggu persetujuan Raja, Sania langsung saja beranjak menuju warung yang sama. Sementara Raja hanya menggelengkan kepalanya saking gemasnya melihat sikap Sania.
Meski ini bukan kencan, tapi bagi Raja, ini sudah sangat membahagiakan. Menghabiskan waktu berdua dengan Sania, sungguh sesuatu yang sudah lama Raja impikan. Maka itu Raja benar benar menikmati momen tak terduga saat ini. Walapun waktu yang mereka miliki sangat terbatas karena mereka harus kembali sebelum maghrib, namun hal ini tetap sangat berkesan di hati Raja.
Dilihatnya Sania kembali dengan membawa segelas gede teh manis hangat.
"Ini nanti Abang juga yang bayar yah?" ucap Sania begitu dia duduk di tempat yang sama seperti tadi.
Sania hanya menyunggingkan senyumnya sambil menggeleng kemudian dia menyeruput teh manisnya.
"Harusnya hari ini Bang Raja potong rambut itu, eh malah ikut kesini." Ucap Sania sembari meletakkan gelas teh manisnya.
"Ya kan potongnya nanti. Orang kamu yang nyuruh ya harus sama kamu, Dek." balas Raja beralasan.
"Kenapa harus sama aku? Kan Abang bisa pergi sendiri?"
Raja pun memutar bola matanya, mencari alasan lain yang tepar agar Sania mau menemaninya potong rambut. Setelah beberapa detik kemudian, senyum Raja mengembang. Dia langsung melayangkan pandangannya ke arah Sania.
"Kamu mau tahu kenapa rambut aku gondrong kayak gini?" tanya Raja dan Sania mengangguk. "Aku tuh kalau mau potong rambut bingung. Nggak tahu model yang pas itu yang kayak apa."
"Masa?" tanya Sania tak percaya.
"Serius, tanya Saja Mbak Jani atau teman teman aku yang lain. Pasti jawabannya sama." balas Raja yang sebenarnya hanya karangan semata.
"Ada ada aja, masa nggak tahu model?" tanya Sania masih merasa ragu.
"Astaga! Besok besok kalau ketemu Mbak Jani, kamu tanya deh, pasti jawabannya sama," balas Raja penuh dusta.
Sania pun sejenak menatap Raja dengan tatapan menyelidik. Namun akhirnya dia menyerah dan mempercayainya.
"Ya udah, besok besok aku temenin. Bang Raja tinggal ngomong aja."
Dalam hati Raja langsung bersorak. Ingin rasanya jingkrak jingkrak sambil bersorak. Namun demi menjaga jati dirinya, Raja hanya mengangguk seraya tersenyum. Hingga tak terasa waktu pun semakin senja dan mereka harus pulang. kencan tanpa ikatan pun usai sudah.
...@@@@@...