You Decided

You Decided
Jeng Jeng



Alice mengundurkan diri dari perusahaan setelah mengetahui bahwa perusahaan itu adalah perusahaan milik keluarga Sam. Alice sudah tidak ingin menyelam lagi tentang apapun yang menyangkut lelaki itu. Karena saat Alice mencintai dan memberikan kasih sayangnya untuk Sam tidaklah main-main, lelaki itu juga menyakiti hatinya tidak main-main. Maka saat Alice memutuskan untuk berhenti, Alice pun tidak main-main.


“Alice.. Apa kau sungguh-sungguh ingin keluar dari sini?” Elena menatap Alice yang tiba-tiba datang dengan surat pengunduran diri, meskipun tidak suka kepada Alice karena selalu diperlakukan istimewa, tapi Elena merasa pengunduran itu sangat janggal. Apalagi yang gadis itu cari? Bahkan bekerja di Lucatu adalah impian banyak orang. Terlebih Alice memiliki peranan khusus dalam pekerjaan itu.


“Aku sangat senang bekerja disini, tapi maaf, aku benar-benar harus pergi.” Alice tersenyum simpul. Memantapkan hati bahwa itu adalah pilihan yang tepat.


“Sayang sekali, padahal kau sangat beruntung.” Sarkas namun itu kenyataannya, Bagaimana tidak dikatakan beruntung. Gadis itu masuk ke dalam Lucatu tanpa seleksi, lalu mendapatkan tugas yang bahkan tidak mencapai 50% standar para karyawan lain. Meskipun sama-sama bekerja, tapi selama ini Alice yang paling santai dalam tugasnya.


“Senang mengenalmu Elena, sampai jumpa.” Alice segera menumpas obrolan itu. Daripada lebih jauh dan Elena semakin mengungkit apa alasan pengunduran diri yang mendadak itu.


“Jangan sungkan menganggapku teman.” Elena tersenyum.


“Ini saatnya aku berhenti mengagumimu, Sam. Aku berhenti mengharapkanmu, aku berhenti untuk tersenyum ketika mengingat segala hal tentangmu. Berhenti dari apapun tentang dirimu. Patah hati dan kecewa membuatku sadar bahwa seharusnya aku lebih mencintai diriku sendiri dibanding kamu.” Alice melangkahkan kakinya keluar dari anak perusahaan tempat ia bekerja selama berbulan-bulan.


Meskipun masih membutuhkan pekerjaan itu, tapi Alice tidak mau masih bertahan disana. Berada disana hanya akan menjebaknya untuk terus berada di lingkaran kehidupan Sam. Lebih baik dia pergi.


Alice menemui ibunya yang masih dalam tahap perawatan di rumah sakit jiwa, mengkoordinasikan kepada dokter bahwa dia akan membawa ibunya untuk pulang. Ya. Dengan sisa tabungan yang masih cukup, Alice bertekad untuk memilih jalan itu. Mungkin dengan banyak menghabiskan waktu dengan sang ibu, ia akan merasakan cinta ibu lagi. Dan semoga juga mental ibunya lekas pulih, seperti hatinya, lekas pulih.


“Tidak masalah. Tapi kau masih harus sering membawanya untuk pemeriksaan rutin. Jangan lupakan juga dosis-dosis obatnya.” Dokter menyetujui keinginan Alice dan saat itu juga segala persiapan dimulai.


New Lyfe~


“Sialan! Bagaimana mungkin ini semua terjadi?” Sudah kembali ke apartemen, Sam sangat gusar sekali. Setelah mengetahui Laura adalah masih saudaranya, apakah Sam masih akan punya muka dihadapan Mamy terutama Daddynya. Apa jadinya ini.


Gambaran murka sang daddy sudah terbayang jelas di hadapan Sam. Sang Daddy sudah pasti sangat marah jika sampai mendengar hal ini. Bukan hanya karena dia memacari Evelyn adik sambung Alvino, daddynya itu pasti marah juga ketika mengetahui apa yang sudah Laura lakukan. Belum lagi jika Laura akan membongkar segala kelakuannya. Ahh~ Kepala Sam rasanya akan pecah.


Selama ini selalu hidup hedon dan seenaknya, selalu mendapatkan kesenangan dengan mudah, baru kali ini Sam dihadapkan masalah pelik. Masalah pelik yang akan melibatkan keluarganya. Masalah yang tidak akan bisa dia sembunyi kan dari orang tuanya. Tamat lah riwayatmu buaya kepala merah.


Sam juga membayangkan jika ia masih tinggal diam disana, lalu hubungan antara Alvino dan Evelyn sudah membaik. Apa jadinya jika Sam kembali bertemu dengan Laura sebagai saudara? padahal gadis itu sudah mengkhianatinya bertahun-tahun, menghangatkan ranjangnya juga bertahun-tahun.


“Lebih baik aku pergi dari sini. Aku akan meminta melanjutkan studi ke Negara A. Aku akan menerima tawaran daddy tentang study perusahaan. Apapun itu yang penting aku tidak terjebak disini.” Pikiran Sam sudah jauh ke depan. Padahal yang pertama dia bayangkan saja belum terjadi. Kenapa begitu percaya diri dengan rencana yang kedua padahal yang pertama saja belum terlaksana.Sam belum tahu semarah apa daddynya itu kan? Belum tentu juga daddynya akan menyetujui keinginannya setelah kejadian itu.


Mematangkan rencana. Sam harus mematangkan rencana. Sam lalu memutuskan untuk mengistirahatkan dulu tubuhnya yang sudah sangat lelah. Semoga saja di dalam mimpi ia akan menemukan jalan terbaik agar terhindar dari bencana yang jelas-jelas sudah di depan mata.


~


Setelah kejadian pembahasan masa lalu untuk Alvino. Hubungan Ken dan Monica sudah menghangat seperti semula. Pasangan yang memang selalu harmonis itu memutuskan untuk mengunjungi putra-putri mereka. Sudah rindu dan sangat ingin bertemu, entah memang memiliki firasat bahwa anak-anak mereka sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


“Tentu saja, kita kan mau bepergian.” Monica mengulas sebuah lipstik berwarna kalem di bibir merah cherrynya. Masih seperti dulu yang menyukai tampilan dengan kesan natural.


“Tapi kau jadi semakin cantik, mana mungkin aku membiarkan kecantikanmu dinikmati banyak orang.” Ilmu untuk para lelaki, puji lah selalu istrimu karena kecantikan wanita yang sesungguhnya bukan berasal dari make up atau pakaian yang serba mahal, Istri akan sangat cantik jika dia bahagia. Saling memuji dan menghangatkan hati satu sama lain, menambah kesan harmonis dan membuat hubungan akan selalu awet muda.


“Semakin Tua kau semakin pintar merayu.” Monica tersenyum manis. Meskipun mendengar kata-kata manis dari suaminya adalah makanan sehari-hari, tapi senyuman itu selalu tidak bisa ditahan untuk merekah indah.


“Bukan merayu, tapi itu kenyataan. Aku tidak ingin keindahanmu dinikmati yang lain.” Ken memutar tubuh Monica yang semula dipeluknya dari belakang. Membuat mereka berhadapan dan saling menatap satu sama lain.


“Mana mungkin pak tua, aku adalah milikmu. Segala keindahan yang kau sebut-sebut adalah milikmu. Lagi pula kita hanya akan mengunjungi anak-anak, apa aku tidak boleh tampil cantik dihadapan mereka?”


Cup! Ken malah mendaratkan ciuman dibibir tranum yang sudah menjadi candu baginya selama lebih dari 20 tahun, Menyesapnya lembut dan merasakan bahwa bibir merah cherry itu memang selalu manis. “Aku yang salah, bagai manapun kau menutupi kecantikanmu kau akan selalu terlihat cantik. Kau intan permata yang berkilau.”


Sa ae lo kang gendang!


“Sudahlah, ayo kita berangkat. Emily pasti sudah menunggu kita disana.”


“Emily?”


“Haiya, aku lupa mengatakannya padamu. Emily juga akan mengunjungi Rose, kita akan makan malam bersama. Merayakan ulang tahun Rose yang sudah terlewat beberapa hari hehe.”


“Hahaha..” Ken malah tertawa. Ketidakadaan Rose ternyata membuat Emily dan Johan lupa diri.


“Kenapa kau malah tertawa?” Monica menatap bingung.


“Mereka masih saja ingin seperti kita, bisa selalu berduaan dan seperti pasangan muda. Tapi lihatlah, putri mereka terabaikan bahkan untuk masalah sepele.” Dasar!


Dan siapa yang menyangka bahwa pertemuan yang akan terjadi di kota tempat anak-anak mereka tinggal bukan hanya akan mempertemukan mereka dengan Alvino, Fam, Sam, Rose atau Emily dan keluarga kecilnya. Ada kejutan yang tentu akan mengejutkan Monica dan juga Ken. Mereka akan mendapati sesuatu yang tidak pernah mereka duga tentang anak-anaknya, Juga akan bertemu dengan orang-orang yang keberadaannya bahkan sudah dilupakan.


Jeng..Jeng..Jeng


 


Bersambung~