You Decided

You Decided
Menyebalkan



Banyak yang nanya kok scene Alvino nemuin Alice gak ada, itu bukan kelewat tp emang aku skip karena ceritanya si Alvino cuman ngecek doang. Pahamtuh?


~


Panggilan terhubung~


"Tuan, gadis itu sudah mengetahui bahwa saya mengikuti dia. Dia mengancam saya agar tidak mengikutinya lagi. Gadis itu sangat marah." Sebuah laporan menyebalkan Alvino terima dari seorang pengawal yang diperintahkan untuk mengikuti Alice.


"Bodoh! aku memberimu upah besar untuk pekerjaan ini dan kau pun harus membayar lebih besar jika kau sampai mengecewakan aku!" suara Alvino terdengar sangat mencekik, meskipun aslinya Alvino tidak ada di hadapannya.


"Maafkan saya, tuan. Waktu itu saya akan mengikuti nona Alice saat dia akan pergi ke suatu tempat. Namun sayangnya dia mengetahui keberadaan saya."


"Bodoh!! apa dia juga tahu bahwa aku yang menyuruhmu mengikutinya?"


"Tidak, Tuan. Justru gadis itu menuduh Tuan Sam yang melakukannya."


"Sam?"


"Iya Tuan."


"Oke, tutup mulutmu rapat-rapat dan aku akan mengganti orang untuk mengikuti Alice. Jangan sampai ada yang tahu tentang hal ini bahkan Sam sekalipun!"


"Baik Tuan."


Tut.. Panggilan terputus.


"Dasar Bodoh!!" Alvino mengumpat lagi. Meskipun raganya sedang berada di negara lain, tapi hati dan pikirannya terus saja memikirkan tentang Alice. Bahkan Alvino sedetikpun tidak mengingat Bianca jika gadis itu tidak memberi kabar terlebih dahulu. Atau James yang mengabari dirinya tentang Bianca.


Ada apa ini? aku tidak mengerti! Apa aku benar-benar mencintai Alice? tapi Bianca? bagaimana dengan dia? dia pasti terluka.. aku tidak mau melukainya tapi hati ini~


*


**z


*


Bianca Cake and bakery**~


"James, boleh aku minta tolong?" Bianca menatap lelaki yang sejak tadi hanya ongkang-ongkang kaki di sofa. Pekerjaan James hanya seperti itu setiap hari, tidak bergerak atau pun pergi sebelum toko itu tutup.


James hanya menatap malas ke arah Bianca tanpa menjawab permintaan tolong gadis itu.


"Aku harus mengantar kue ini ke jalan baru, apa kau bisa membantuku?" Bianca mengulang permintaan tolong itu namun James tetap saja tidak bergeming dari posisinya atau bahkan sekedar menjawab. "James!!" Bianca memanggil lagi dengan lumayan lantang.


"Apa?" sahut lelaki sedingin kulkas itu.


Astaga!!


"Apa? aku tidak mendengar." lelaki menyebalkan itu memasang wajah polos tanpa merasa berdosa.


"Semua kurirku sedang mengantar pesanan kue dan ini tinggal satu lagi kue yang harus diantar. Apa kau bisa mengantarku?" Sambil menahan rasa kesal, Bianca kembali mengulang kata permintaan tolong kepada laki-laki yang sangat menyebalkan itu. Meskipun sebenarnya Bianca ingin sekali meninju wajah James.


"Kau pakai saja sana mobilku." James malah memberikan Bianca kunci mobil miliknya, menyuruh gadis itu untuk pergi saja sendiri.


"Kau ini gila atau apa? kau tahu aku tidak bisa mengemudi mobil kan?"


"Aku hanya diperintahkan untuk mengawasi dan menjaga mu, bukan membantu mengantarkan kue-kue itu." James menjawab datar dengan air muka yang masih sama seperti biasanya. Wajah yang tidak pernah memberikan sebuah senyuman untuk siapapun kecuali Alvino.


"Oke, kalau begitu aku akan menelepon Alvino untuk memerintahkanmu jangan mengawasi atau mengikuti aku. Lagi pula aku tidak butuh perlindungan darimu, aku wanita mandiri dan aku bisa menjaga diriku sendiri."


Sialan! yang gadis itu tahu hanyalah mengancam dan mengancam saja!


"Baiklah aku akan mengantarmu." James bangkit dari tempatnya ongkang-ongkang kaki, berdiri tegak mensejajari Bianca. "Tapi kau harus duduk di jok belakang!"


"Memangnya aku mau duduk di mana? disampingmu? Hih!"


"Cepatlah! sebelum aku berubah pikiran." James kemudian melangkahkan kakinya keluar dan menuju mobil yang terparkir di halaman toko kue itu. berjalan malas tanpa semangat sedikitpun.


Huh dia itu! kenapa ada makhluk seperti James di muka bumi ini sih? menyebalkan sekali! Andai aku tidak membutuhkan pertolongannya, aku bahkan tidak mau untuk mengajaknya bicara walaupun sebentar!


Sepanjang perjalanan mengantar kue itu, tidak ada obrolan atau apapun antara James dan Bianca. Mereka sama-sama bisu dalam keheningan. Hanya suara suara klakson dari mobil-mobil yang lain yang tertangkap di gendang telinga masing-masing. Mereka itu seperti air dan minyak yang tidak bisa bersatu ataaaaaau lebih tepatnya seperti tikus dan kucing yang memang tidak pernah bisa untuk akur.


"Belok kiri." ujar Bianca dan tanpa menjawab James hanya menuruti keinginan gadis itu.


"Lurus.."


"Ke kiri lagi.."


"Dipertigaan sana kita belok ke kanan."


Hanya Bianca yang mengeluarkan suaranya, memberi petunjuk jalan ke mana mereka harus mengantar kue itu. Sementara James masih diam seribu bahasa, lelaki itu seperti robot yang sedang mengemudi. Kaku sekali.


"Rumah yang itu." tunjuk Bianca dengan tangan kanannya, membuat tangan itu berada disamping wajah James.


"Kau tidak perlu menunjuknya dan membuat tangnmu hampir mengenai wajahku seperti itu. Sebutkan saja nomor rumahnya atau warna cat bangun rumah itu." James kembali beraksi, berujar dengan nada ketus nya yang sangat menyebalkan.


Astaga!! Tahan Bianca~ Inhale,,, exhale,,