You Decided

You Decided
Bertautan



Sore hari..


Setelah pekerjaan paruh waktu yang Alice lakoni selesai, seperti biasa, gadis itu tidak pernah membuang waktu. Dengan segera, ia bergegas bersiap-siap untuk pulang. Bukan pulang, lebih tepatnya menemui Ibu di rumah sakit.


"Kenapa kau masih di sini? pacarmu sejak tadi menunggu di parkiran." ujar Aurora, teman Alice.


"Pacar? maksudmu siapa?" Alice sedikit mengernyit heran. Dia tidak punya pacar, lalu siapa yang Aurora maksud.


"Ayolah.. jangan berpura-pura. Mengapa kau tidak mau mengakui lelaki yang begitu tampan itu? Kau hebat Alice! setelah Sam, kini kau mendapatkan yang lebih lagi."


"Sssttt! Berhentilah bergosip! Apa yang kau bicarakan, Aurora!" Temannya itu memang selalu bereaksi berlebihan.


Tapi tunggu.. Apa maksud Aurora adalah... itu pasti Alvino! ish, dia menjemput tanpa memberitahu lagi.


Alice segera mempercepat gerakannya setelah menyadari yang Aurora maksud adalah Alvino. Beberapa hari ini Alvino memang sering menjemputnya tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Padahal Alice sudah mengatakan bahwa ia sungkan untuk diperlakukan seperti itu. Apalagi sebenarnya dia berniat untuk langsung mengunjungi ibu di rumah sakit.


Gadis yang mempercepat langkahnya itu tiba-tiba berhenti, sejenak berpikir, disaat bersamaan dia mengingat ibu, namun satu sisi dia menginginkan kebersamaan bersama Alvino.


”Telpon suster." Gadis itu berinisiatif. Dia memastikan bagaimana keadaan ibu yang sedari pagi dia tinggalkan, Alice tidak ingin melewatkan waktu untuknya bersama Alvino. Pikirnya.


Entahlah.. bersama Alvino, Alice merasa mempunyai seorang teman. Alice menikmati kebersamaan mereka akhir-akhir ini. semenjak keberadaan Alvino yang cukup intens, rasanya Alice kembali hidup. Kehidupannya lebih berwarna, tidak melulu hanya soal bekerja dan tagihan rumah sakit.


"Hai." ucap lelaki yang sedari tadi bersandar di kap mobilnya. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya yang dia tunggu muncul juga.


"Hai." Kaku dan juga canggung. Sejujurnya Alice sedikit risih jika Alvino menjemputnya disana. Terlebih jika lelaki itu membawa mobil mewah. Dibelakang sana pasti banyak yang bergosip lebih dari Aurora. "Kau tidak perlu repot-repot menjemput ku, Al. Sejak kemarin.."


"Aku terlambat makan siang dan aku ingin mengajakmu untuk makan bersama. Apa kau keberatan?" Lancang. Entah keberanian macam apa yang Alvino punya, tapi semuanya seolah mengalir begitu saja.


Raganya tidak bisa menolak saat jiwa yang sempat mati kembali menghangat. Alvino tidak bisa mencegah, Alvino tidak bisa menjadi munafik bahwa kedekatan antara mereka akhir-akhir ini membawa dirinya kembali hidup.


"Tapi.. aku harus mengunjungi ibu."


"Kita bisa mengunjunginya bersama setelah kita makan."


Tanpa mendebat lagi, kemudian mereka melesat pergi dari sana. Membelah keramaian kota lalu membawa mereka berdua ke sebuah tempat yang sudah Alvino tentukan.


Dan tibalah mereka disebuah rumah makan yang mengusung tema piknik. Alvino sudah tahu bahwa Alice akan menolak jika dia membawanya ke tempat-tempat yang terkesan mewah, untuk itu dia membawa Alice kesana. Toh, Alvino juga lebih menyukai tempat seperti itu, rasanya waktu yang mereka habiskan tidak sia-sia. Lebih intim dan bervalue.


Selesai makan~


"Apa kau merasa risih atau terpaksa jika kita menghabiskan waktu bersama seperti ini?" Alvino bersender disebuah bantalan kecil yang disediakan disana. Lelaki itu duduk di karpet yang beratapkan daun-daun rindang menyejukkan. Suasana pinggir danau dengan semilir angin mendukung mereka mendapatkan suasana baru.


"Tidak, sama sekali. Hanya saja.. Terkadang aku harus mengetahui batas, aku tidak boleh melupakan siapa dirimu dan siapa diriku." Alice tidak merasa terganggu dengan hadirnya Alvino juga kedekatan mereka. Justru gadis itu inginnya berterimakasih. Bagaimana Alice bersama Alvino mungkin tidak bisa dijabarkan dengan kalimat, hanya saja kata bahwa Alvino adalah kakaknya Sam memang menjadi tembok yang cukup besar.


"Memangnya siapa diriku?" Alvino terkekeh kecil. Gadis itu memang seringkali memberi jarak, seolah antara mereka adalah si kaya dan si miskin. Jangan sampai Alice sama seperti orang lain. Yang hanya menilai dan menganggap dirinya hanya raja Lucatu, lalu lupa bahwa Alvino juga seorang manusia.


"Kau tahu bukan, aku pernah menjalani hubungan dengan adikmu.. Maksudku.."


"Maaf untuk perlakuan adikku terhadapmu, padahal ibuku mendidik kami dengan baik agar kami selalu menghargai kaum wanita."


Pertukaran cerita pun terjadi, Alvino juga menceritakan bagaimana hubungan antara dirinya dan Bianca berawal. Bahkan lelaki itu juga mengungkapkan kejujuran bahwa dirinya pernah menjadi seorang Pierce, Alvino mengakui bahwa hatinya pernah menginginkan Alice meskipun Bianca berada disampingnya.


"Pierce.. jadi kau adalah Pierce, pantas saja aku tidak pernah melihatnya lagi."


"Jangan salah paham atau berpikiran yang bukan-bukan, aku melakukan itu hanya karena aku menghargai kau yang masih bersama Sam dan aku yang masih bersama Bianca. Aku harap kau mengerti bahwa logika dan kata hati terkadang tidak sejalan, apapun itu, niatku terhadapmu adalah niat baik."


Alice hanya mengangguk kecil, dia berusaha untuk mencerna dan memahami apa yang Alvino utarakan dengan baik, Alice menghargai keberanian Alvino tentang kejujurannya.


"Dan mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tidak ingin memendam ini sendiri, Aku ingin kau tahu bahwa aku menganggap antara kita bukan hanya sekedar pertemanan biasa. Aku tidak bisa mencegah hatiku untuk kembali berdenyut.." Astaga! apa yang Alvino ucapkan! kenapa dia bisa mengatakan itu lancar sekali. Alvino yakin setelah ini Alice akan menjauhi dirinya.


"Al.. seperti yang kau bilang, ini mungkin terlalu cepat. dan akupun tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat ini. Aku masih takut."


Alvino mengubah posisinya, membuat mereka kini saling berhadapan. "Kau dan aku sama-sama pernah terluka, aku tidak memaksamu segera pulih dari luka itu." Tangan itu menggenggam dan netra itu bertemu. Saling menatap dan meyakinkan apa yang mereka rasakan adalah nyata.


"Tapi percayalah, kau tidak akan bisa mengobati luka itu sendirian."


Jarak antara wajah mereka perlahan mengikis, semakin dekat dan lebih dekat lagi. Deruan nafas masing-masing bisa mereka rasakan satu sama lain.


Sedikit lagi Alvino akan menyentuh bibir Alice dengan bibirnya, tapi tiba-tiba wajah Alice dipalingkan.


"Maaf.."


~


"Awas!!" Eve menarik Sam untuk bersembunyi di salah satu pilar rumah sakit. Mereka belum menemukan Alice, tapi mata Eve justru menangkap kehadiran James dan Rose disana. Gawat jika sampai mereka tahu.


"Kenapa?"


"Itu!" Eve menunjuk ke arah James dan Rose yang sepertinya sedang panik. Mereka berdua sedang mendorong sebuah brankar bersama beberapa perawat. Entah siapa yang mereka bawa, tapi sepertinya itu seorang wanita hamil.


"Kita harus pergi!" Eve menarik tangan Sam lagi. Dia harus segera menyelamatkan diri. Jangan sampai keberadaan dirinya disana diketahui.


"Tidak! kita tidak boleh pergi sebelum aku bertemu dengan Alice!"


"Jangan keras kepala, sayang! kau tidak melihat monster menyeramkan itu?" padahal Eve hanya melihat James dari kejauhan, tapi rasanya sekujur tubuhnya bergetar hebat.


"Tapi kita belum impas, Eve."


"Iya, kita akan kembali jika situasinya sudah aman."


Bersambung~