
Sam berada di apartemen miliknya. Percuma saja dia menghabiskan banyak waktu menunggu kabar tentang Laura di luar sana. Ia tidak mendapatkan apapun. Lebih baik ia pulang saja dan mengontrol jaringan pencarian itu dari rumah. Hari itu cukup melelahkan juga, membuat Sam langsung menjatuhkan diri ke atas kasur dengan tanpa tenaga.
“Siapa kau sebenarnya Laura? Kenapa kau bisa menipuku seperti ini? Dan kenapa aku bodoh dan bisa tertipu oleh mu selama bertahun-tahun.” Meskipun lelah, sama sekali Sam tidak ingin tidur. Pikirannya masih berlarian kesana kemari. Memikirkan siapa Laura dan dimana dia sekarang. Memikirkan bagaimana ia harus membawa masalah itu kepada Alvino nanti, karena bagaimanapun Alvino memang harus tahu. Memikirkan Alice juga yang tadi terang-terangan sangat kesal terhadapnya. “Aaaah~ Sialan!!”
Sam bingung sendirian, antara rasa cinta dan hubungan keluarga begitu membelitnya saat ini. Cinta? Apa itu cinta? Benarkah Sam mencintai Laura apalagi setelah mengetahui bahwa gadis itu ternyata gadis licik yang menipunya. Tidak. Mana mungkin. Tidak mungkin cinta itu Sam berikan lagi kepada Laura. Apapun alasannya menipu tetaplah menipu. Bohong. Berbohong adalah hal yang paling dibenci lelaki muda itu.
Dan Alvino, bagaimana nanti Sam harus memulai membicarakan masalah ini? Apa Sam harus mengatakan bahwa kekasih yang Sam cintai, kekasih Sam yang sangat Alvino benci adalah seorang penjahat dan hampir saja membuat kekacauan besar. Apa jadinya ini?
Kring! Ponsel Sam berdering. Panggilan dari Alvino. Baru Saja Sam memikirkan Kakaknya itu, dan sekarang Alvino malah menelponnya. Kira-kira apa yang membuat Alvino tiba-tiba menghubunginya? Biasanya kan Alvino menghubungi dia selalu lewat James atau para bidy? Apa Alvino sudah tahu tentang masalah Laura? YALORD!
Angkat saja Sam. Agar kau tahu!
“Hallo, k-kak.” Takut-takut Sam menempelkan ponsel itu ditelinganya.
“Lama sekali kau menerima panggilan dariku.” Ah. Bahkan kalimat Alvino itu sudah membuat Sam bergetar tidak jelas. “Sam apa Laura sedang bersamamu?” To the point. Begitu mengambil ponsel yang tertinggal di mobil, Alvino langsung menghubungi Sam untuk menanyakan keberadaan Laura. Mengabaikan puluhan panggilan tidak terjawab dari James, tidak mengira bahwa panggilan James itu penting karena James tidak mengirim pesan inti.
“A-aku baru pulang magang. Ada apa?” Tahan Sam. Tahan jantungmu yang hampir meloncat itu. Bagaimana ini? Apa yang harus Sam katakan jika Alvino meminta penjelasan tentang apa yang dilakukan oleh Laura, kekasihnya.
“Aku ingin bertemu dia, segera.” Panggilan terputus. Laura tidak ada rasanya enggan untuk Alvino ngobrol berlama-lama dengan Sam. Lagipula Alvino juga masih bingung untuk bersikap, karena ternyata sama-sama adik tirinya malah menjalin kasih.
“Sialan!” Sam mengumpat setelah panggilan itu terputus. Kesal bukan main kepada Laura yang membuat sumbu antara dirinya dan Alvino. Kalian tahu bukan bahwa sam memang lebih segan kepada kakaknya itu dibanding Ken, lalu ini, ini bukan masalah sepele. Ini adalah masalah yang sangat besar. “Aku tidak akan memaafkanmu Laura!”
“Cari Laura dan temukan dia malam ini juga. Jika kalian tidak becus bekerja, mintalah bantuan polisi.” Ultimatum Sam kepada bidy yang mengikutinya sejak dari kafe tadi.
~
Alvino menghubungi James yang sejak tadi menelponnya namun tidak tersambung, menanyakan perihal penting apa hingga tangan kanannya itu menelpon hingga puluhan kali namun tidak mengirim pesan inti dari sebab itu. Alvino juga yang salah, kenapa ia bepergian sendiri tanpa diketahui siapapun.
“Angkat James!” Bak karma yang datang dengan instant kini malah Alvino yang kesulitan menelpon James. Panggilan itu tidak juga terhubung meskipun sudah berulang kali dilakukan.
“Aku pamit pulang, tidak ada yang tahu jika aku disini sekarang. Mereka pasti sedang mengkhawatirkan aku.” Pamit Alvino kepada Cynthia.
“Hati-hati, Nak. Ibu titip Eve kepadamu.” ujar Cynthia menghampiri Alvino. Sebenarnya Cynthia sangat ingin ikut dan membantu meluruskan kesalahpahaman antara Alvino dan juga Evelyn. Agar hubungan mereka menjadi hubungan kakak adik yang baik, agar Evelyn benar-benar sadar dan melupakan dendam yang seharusnya tak bertuan. Namun rasa malu masih menyelimuti Cynthia, ia masih sangat amat malu jika harus bertemu Monica dan Ken disana.
“Jangan khawatir, aku yakin Eve akan mengerti jika aku menjelaskan semuanya dengan halus.” Alvino menatap ibu sambungnya sambil tersenyum. Kemudian benar-benar pergi dari rumah Cynthia dan bergegas kembali ke rumah.
Entah apa yang terjadi di sana setelah Alvino pergi begitu saja tanpa kabar, sudah jelas pasti ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi, mengingat James begitu intens menghubungi dirinya. Semoga saja bukan hal yang serius pikir Alvino.
Kring! Panggilan masuk. Dari James.
Sudah berada di mobil ponsel Alvino tiba-tiba berdering. Panggilan dari James lagi-lagi menjadi sebab ponsel itu memunculkan sebuah notifikasi. Membuat Alvino yang sedang mengemudi langsung menepi terlebih dahulu untuk menerima panggilan itu.
“Hallo, James. Ada apa? Kenapa menghubungi diriku terus menerus?” Panggilan itu sudah terhubung, kini Alvino tinggal harus menunggu sebentar perihal penting macam apa yang akan dilaporkan oleh James.
“Syukurlah, akhirnya anda bisa dihubungi.” James bernafas lega. Hampir berjam-jam mencoba menghubungi Alvino akhirnya tersambung juga. “Tuan, kami semua mencari anda. Kami mengkhawatirkan anda. Kenapa anda tidak memberitahu siapapun tentang kepergian hari ini.”
“Sudahlah James, aku juga harus memiliki privasi yang tidak boleh banyak orang tahu. Lagipula aku bisa menjaga diriku. Jangan berbasa-basi, katakan ada apa? tidak mungkin kau menelponku terus menerus hanya untuk mengatakan kau khawatir padaku.” To the point, tidak ingin membuang-buang waktu. Jika James memang khawatir dan benar-benar sedang mencarinya, James pasti datang bersama bidy lain untuk menemukan dirinya. Karena kecanggihan mobil yang sedang digunakan Alvino kebetulan memang bisa dipantau oleh James.
“Eh Mm.” Tiba-tiba suara itu tercekat. Terasa berat untuk mengatakan yang sesungguhnya. Tidak. Jangan dulu mengatakan yang sesungguhnya, James. Tuan Muda mu sedang melakukan perjalanan. Bagaimana jika dia mengemudi seperti orang gila jika mengetahui hal itu. “Tuan.. Mm Nona Bianca.”
“Bianca? Kenapa?” Huhh~ Rasanya Alvino sudah seperti para pembaca yang sudah tidak sabaran. Lama sekali James mengatakan tentang apa yang terjadi kepada Bianca.
“Dia kenapa?”
“Diaaa…”
“James!!”
“Tuan.. Lebih baik anda segera kembali dan melihat keadaan Nona Bianca. Dia masuk rumah sakit.”
Astaga! Menyebalkan sekali. Kenapa tidak mau memberitahu keadaan Bianca sih. Malah berbelit-belit.
“Jangan bermain-main James!”
Aaaaaaa~ Seseorang berteriak di seberang telepon. Suara seorang wanita dan itu sudah pasti adalah Bianca.
“James apa itu Bianca? Kenapa dia berteriak?”
“James?”
“James?”
"SIALAN!” Panggilan terputus.
Alvino menaruh kembali ponselnya ke tempat semula, kemudian memasang seat belt dan bersiap mengemudi lagi. Apa yang sebenarnya James sembunyikan darinya? Kenapa tidak to the point memberi tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi.
Sabar~
Orang sabar kuburannya pake AC
Kalem~
Tungguin~
Mending cari kacang gih buat ngemil, biyar makin asique~
Salam Jari Keriting!
Salam Mpot Ayam!