
Gara-gara James yang terus menghalanginya untuk pergi, Rose jadi tertinggal pesawat. Gadis itu menjadi kesal kenapa James mengganggunya dan membuat dia jadi batal untuk pulang.
“Maaf Nona, saya tidak ingin membiarkanmu pergi sendirian. Tolong mengertilah, pasti aku yang akan menjadi sasaran untuk kelalaian ini.” James menatap bibir merah Rose yang mengerucut, tahu bahwa dia kesal karena ia membuatnya jadi tertinggal pesawat. “Mengertilah..” James menatap lagi.
“Sebenarnya aku juga tidak mau pulang, aku masih ingin tinggal di kota ini. Tapi…” Rose menggantungkan kalimatnya, haruskah ia bercerita kepada James mengapa ia akan pulang hari itu? Tidak! Jangan Rose. Untuk apa.
“Tapi..” James menatap lagi dan kebetulan Rose juga menoleh, membuat pandangan mereka lagi-lagi bertemu dengan tidak sengaja.
Rose sepertinya menyembunyikan sesuatu. Pikir James.
Kemudian saat itu James mengajak Rose untuk pergi ke suatu tempat. Tempat dimana mereka akan makan siang bersama. James masih kukuh untuk membuat Rose mengatakan tentang pertolongan yang ia minta, meskipun jelas-jelas Rose sudah mengatakan bahwa ia sudah menghandlenya. Entah keberanian macam apa yang James miliki untuk membawa gadis itu secara personal.
“Kau akan membawaku kemana James?” Rose bertanya namun mengikuti lelaki itu juga. Sedangkan koper yang tadi ia seret-seret sudah berada di dalam mobil.
“Suatu tempat, ku harap kau tidak keberatan.” Ujar James sambil menoleh sebentar. Namun melanjutkan langkahnya lagi.
“Aku lapar.” Sahut Rose yang masih mengikuti.
“Untuk itu aku mengajakmu untuk makan.” Saling menyahut namun masih melangkahkan kaki.
Tidak menolak, tidak membantah. Rose mengikuti saja semua arahan yang diberikan James, mereka memesan beberapa box makanan namun pergi lagi dari restoran. Entah kemana lagi James akan membawanya, tapi anehnya Rose hanya mengangguk patuh.
Sebuah rooftop..
Mengisi perut sambil mengobrol memang pepatah yang paling ampuh, lihatlah dua orang yang biasanya saling mengabaikan keberadaan masing-masing bisa tiba-tiba menjadi akrab. Meskipun masih saling canggung, tapi beberapa kali mereka saling melemparkan tawa kecil.
“Jadi kau sering datang ke tempat ini sendirian?” Rose melirik ke arah James yang sibuk dengan makanannya. Sambil menyuapi dirinya sendiri yang memang lapar juga.
“Tidak juga. Aku hanya menyukai keindahan dari ketinggian dan aku tidak terlalu suka tempat bising.” jawab James seperti memperkenalkan bagaimana dia sebenarnya, dan Rose hanya mengangguk-ngangguk samar. “Eh iya, Nona. Apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Panggil aku Rose, tidak perlu kaku seperti itu.” Rose tersenyum membuat James sedikit malu untuk bertingkah, hehe. “Apa? Kau ingin bertanya soal apa?”
“Hm.. Aku hanya penasaran tentang bantuan yang kau maksud saat itu? Apa aku boleh tahu. Aku, eh kau memang sudah menghandle nya. Tapi aku masih penasaran.” Jujur. James memang penasaran tentang bantuan seperti apa yang Rose minta. Gara-gara hal itu James selalu terbayang wajah murung Rose dan berani mengajaknya untuk mengobrol lebih lama.
“Itu.. bukan masalah penting. Bukan aku yang ingin meminta tolong, tapi Fam. Aku hanya membantu menyampaikannya kepadamu.”
“Nona Fam? Memangnya apa yang dia inginkan?”
Aaah~ Aku Kan sudah berjanji untuk berhenti mengurusi hal-hal yang sebenarnya tidak penting untuk hidupku. Tapi.. mengobrol dengan James kenapa rasanya asik juga yaa? hehe. Mungkin ini kali pertama aku sedekat itu bersama lawan jenis selain Alvino.
“Kau pasti tahu dengan baik masalah apa yang sedang dihadapi Fam, iya kan?”
“Tunggu, apa maksudnya? Sungguh.. aku benar-benar tidak mengerti.”
“Bukankah kau bertemu Fam saat Fam sedang bersama kekasihnya?”
“Kekasihnya?” James kembali memutar ingatannya. Kapan ia bertemu Fam saat ia sedang bersama kekasihnya? Kesibukan membuat James memang terkadang melupakan hal-hal kecil. Lagi pula yang menanggung tugas soal Famela bukanlah dirinya. “Haiya.. Aku baru ingat.” James sudah sampai di flashbacknya. Ia mengingat saat bertemu Fam di toko kue dan Fam memang sedang menggenggam tangan lelakinya disana. Tapi masalahnya apa? kenapa dia harus meminta pertolongan.
“Dia hanya memintaku untuk menemuimu agar masalah itu tidak sampai di telinga kakak apalagi daddynya, kau tahu bukan konsekuensi apa yang harus Fam terima jika itu semua terjadi?”
James mengangguk-ngangguk samar. Sudah mengerti jurus pembicaraan Fam. Tapi ia bersumpah, sama sekali ia tidak mengingat kejadian itu jika tidak diingatkan. Lagi pula ia tidak berniat untuk mengadu karena sudah terlalu banyak urusan penting yang harus ia kerjakan.
Jadi ituuuuu~
Kring!! Ponsel James berbunyi. Panggilan masuk dari Alvino.
“James? Apa kau sudah menemukan orang yang mengatur rumah itu? Kau harus menemukannya sekarang juga!” Suara Alvino begitu terdengar menggelegar ketika panggilan itu baru saja terhubung. Membuat James sedikit mengerjap kaget.
“Belum, Tuan. Saya masih berusaha mencarinya.” Bohong. Apa yang kau cari James. Kau kan malah asik berduaan di rooftop!
“Temukan James!! Aku tidak mau tahu!!”
Panggilan terputus.
Ganggu aja deh, akukan lagi pedekate! Hehehe peace boss!
“Astaga!” James memijat pangkal hidungnya sendiri. Kenapa ia jadi lalai disaat banyak hal penting yang harus ia jalani. Belum selesai tentang menginterogasi Bianca kini sudah mendapatkan tugas baru untuk mencari orang yang bermain-main dirumah yang katanya milik Alfian.
“Ada apa?” Tanya Rose sambil melirik James. Setelah mendapatkan panggilan tiba-tiba air muka James langsung berubah.
“Aku melupakan banyak hal. Aku harus pergi sekarang?”
“Pergi? Lalu aku?” Eh.. “Maksudku kau mau pergi kemana? kenapa kau meninggalkanku sendiri disini?” Ih. Benar tidak sih caraku bertanya kepada James.
“Kau.. kau ikutlah denganku.” Dari pada membuang-buang waktu lagi biar saja Rose ikut. James harus dengan segera menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum Alvino tahu bahwa ia berleha-leha.
“Kemana?”
“Ikut saja!”
Mereka berdua pergi dari rooftop, menuju mobil untuk menemui Bianca terlebih dahulu. Hal itu lebih penting menurutnya, biar saja tugas mencari tahu orang yang memanipulasi alamat Alfian dihandle oleh bidy lain.
Kring!! Ponsel James berbunyi lagi.
"Ada apa?"
"Tuan, gadis yang kami bawa ke ruang bawah tanah dia pingsan. Gadis itu selalu mengatakan bahwa perutnya sakit. Kami kira hanya sebuah alasan, tapi sekarang dia benar-benar pingsan."
Astaga! Apa lagi ini thor :(
"Dalam perjalanan!"
Panggilan terputus.
"Ada apa lagi James? Sejak tadi kau terlihat panik dan kesal?" Rose yang duduk di samping James menatap lelaki yang terlihat sangat sibuk dengan ponsel dan juga kemudi.
"Tersenyumlah, dengan itu rasa kesalku akan berkurang."
Eh?
Bersambung~