You Decided

You Decided
Mengungtit



Setelah mengikuti Alice ke rumah sakit jiwa, Sam segera mengundurkan diri sebelum keberadaannya diketahui. Setelah menyaksikan apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri, Sam jadi bingung bagaimana harus bersikap kepada Alice. Antara rasa sayang yang ambigu, dan juga kasihan melihat keadaan Alice yang seperti itu.


Gundah. Entah. Sam yang tak pernah dipusingkan soal perasaan tiba-tiba menjadi sensitif. Sebenarnya apa yang membuatnya seperti ini? Tidak mungkin kan hatinya dibelah dua untuk Alice dan juga Laura? Tapi perasaan itu cukup kuat untuk Alice. Sam bisa merasakan perasaan yang lain untuk gadis itu.


Sudahlah.. Mungkin itu hanya sebuah rasa karena mereka pernah sangat dekat dan cukup intens. Pikirnya pendek.


“Alice..” Sam menarik tangan Alice ketika gadis itu baru saja keluar dari ruangan dimana ibunya dirawat. Gadis itu pasti akan kembali ke kantor setelah memakan waktu istirahat berjam-jam.


“Sam.. kaaau? Sedang apa kau disini?” Alice menatap lelaki di depannya dengan rasa tidak percaya. Sejak kapan dan untuk apa Sam ada ditempat itu?


“Tolong jangan menghindar lagi, kau menyiksaku Alice.” Sam to the poin, ingin unjuk sebuah rasa yang sebenarnya tidak ia pahami.


“Apa maksudmu? Siapa yang menyiksamu hah?” Alice menatap jengah, ogah untuk kembali berbasa-basi dengan pria yang setengah mati ia jauhi dan lupakan keberadaanya.


“Aku tauu, kau pasti akan membahas soal aku yang memiliki Laura. Tapi tahukah kau perasaanku yang sebenarnya? hatiku berdetak untukmu. Tolong percaya itu.” Sam kembali meraih tangan Alice, menggenggam sambil menatap Alice dengan tatapan mentransfer segala rasa itu.


“Stop bercanda Sam! jangan membawa hati dalam perbincangan ini. Aku sudah cukup membuat tameng agar hatiku tidak terluka.” Alice melepaskan tangannya. Tidak tahan jika diperlakukan seperti itu. Jika diam saja, rasa yang berusaha ia kubur pasti akan muncul lagi dan semakin menjadi-jadi. “Pergilah.. Jangan menggangguku!”


“Kenapa kau tidak percaya apa yang aku katakan?”


“Sam!! Bukan hanya Laura yang ada di hidupmu, kau masih senang menjajal wanita untuk petualangan hidupmu. Kau masih mencari jati diri dan cinta sejatimu, jadi jangan membual seolah kau punya perasaan lebih untukku.” Buaya! Ingin rasanya Alice meneriaki Sam dengan panggilan itu. Namun hatinya tidak cukup kuat untuk menyakiti Sam yang juga sudah menyakiti hatinya.


“Akupun tidak mengerti, yang jelas aku menginginkanmu meskipun kamu tidak.”


Aku Pun menginginkanmu, tapi tidak seperti ini ceritanya Sam! Aku tidak mau menjadi duri dalam hatiku sendiri!


“Sudahlah. Jangan terlalu mengedepankan perasaan mu, mungkin kau juga akan merasakan hal yang sama jika berada di dekat wanita lain. Bukan begitu?” Sarkas. Bukankah kalimat itu seolah menyindir si buaya kepala merah? “Take care..” Alice berlalu meninggalkan Sam, memanggil taksi untuk kembali membawanya ke anak perusahaan Lucatu. Meskipun hal itu sebenarnya tidak Alice ingini, andai saja tidak ada Laura atau wanita lain dalam hidup Sam, Dengan senang hati Alice tidak akan menolak. Dalam hati kecilnya gadis itu juga merindukan dan menginginkan Sam.


Tidak ada kalimat yang mampu Sam lontarkan lagi, yang Sam lakukan hanya menatap punggung Alice yang meninggalkannya menuju taksi. Tahu. Sam tahu jika Alice pun memiliki rasa yang sama seperti dirinya, hanya saja Alice tidak ingin ada Laura diantara mereka. Iya kan?


Sam kemudian berlalu menuju mobil kesayangannya, berniat untuk kembali ke apartemen untuk mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya disana. Dan saat membelah ramainya jalanan kota, Sam melihat mobil Laura melaju dihadapannya. Mobil itu terlihat melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Membuat Sam yang sudah yakin bahwa itu adalah Laura, spontan menginjak pedal gas untuk mensejajari.


Jangan.. Kau harus berada dibelakang, Lihat akan pergi kemana wanita mu itu!


Insting lelaki Sam mengatakan bahwa saat itu ia harus menyelidiki sesuatu, hati kecilnya mengatakan bahwa harus ada kebenaran agar kejelasan tentang hatinya terungkap. Milik siapa sebenarnya hati itu? Laura atau Alice?


Sam mengikuti kata hatinya yang mengatakan bahwa ia harus menguntit kemana perginya Laura, bukankah gadi itu bilang bahwa dia akan mengunjungi orang tuanya yang tinggal di paris? tapi kenapa masih berada di kota itu? rasa penasaran semakin membuat Sam yakin untuk harus melakukan itu. Seperti seorang detektif yang diam-diam memantau dari kejauhan.


Mobil itu, mobil itu berhenti di sebuah kafe. Dan Sam, Sam juga ikut-ikutan melipir di kafe tersebut dengan sangat hati-hati. Laura tidak boleh tahu bahwa dirinya berada disana.


Perlahan tapi pasti, sam mengayunkan langkah untuk mengikuti kemana gadis itu akan pergi. Siapa yang akan Laura temui di kafe itu? Tidak mungkin jika Laura akan makan disana. Selera gadis itu bukan kafe murahan.


5 menit..


10 menit..


15 menit..


Sam masih menyaksikan Laura yang duduk sendirian di meja yang berada di ujung kaca, berulang kali Laura mengecek ponselnya dan berusaha menghubungi seseorang. Siapa sebenarnya yang sedang Laura tunggu? Apa gadis itu juga berselingkuh seperti dirinya yang hobi bergonta-ganti wanita?


Just wait and see!!


 


 


Bersambung~