
Menyamarkan identitas ternyata tidak cukup membantu Sam agar anak itu fokus saat mempelajari tentang perusahaan, Bagaimana mungkin Sam bisa fokus jika dia berada di satu perusahaan sama dengan wanita yang sangat mencuri perhatiannya. Lihat saja apa yang dilakukan Sam, bukannya fokus magng dan mengikuti sesi interview, anak itu malah sibuk menguntit Alice dari kejauhan.
Senyum itu. Akhirnya Sam melihat lagi senyum yang selalu ia nikmati meskipun dari kejauhan. Pesona Alice memang penuh sihir, pikirnya.
"Sedang apa kau disini? bukankah kau anak magang?" Suara seorang pria mengaganggu Sam yang sedang asik dengan pemandangan dihadapannya. Membuat Sam berdecak kesal sambil menatap orang itu.
"Siapa kau berani menggangguku?" Mode sombong Sam keluar. Membuat orang yang menegurnya mengernyitkan dahi.
"Sombong sekali kau anak muda, seharusnya kau tau bagaimana harus bersikap kepada seniormu!" Orang itu benar-benar tidak tahu siapa Sam. Yang jelas anak itu hanyalah anak magang yang seharusnya sedang melakukan sesi interview dilantai bawah saat ini.
"Apa yang membuatku harus menghormatimu hah?" Sam semakin menantang dengan gaya yang super cool.
"Akan ku pastikan kau tidak akan lulus dan bisa masuk ke perusahaan ini."
"Owh yaa, coba saja jika kau bisa!"
Suara keributan itu cukup nyaring, berhasil membuat hampir seluruh fokus orang-orang disana tertuju kepada mereka. Berani-beraninya Sam berbuat seperti itu, apa dia lupa siapa dan bagaimana posisinya saat itu disana.
"Ada apa ini?" Elena datang, menghampiri dua orang lelaki yang sedang adu mulut itu. Eh. Elena terdiam. Sepertinya ia mengenal anak muda itu.
"Aku sedang mengajari anak muda yang sombong ini agar tahu bagaimana caranya bersikap kepada senior!"
"Tinggalkan dia, jangan mengganggunya." Elena meminta orang itu pergi, sadar bahwa anak muda yang sedang magang itu bukan orang biasa. Anak muda itu mirip dengan anak pemilik perusahaan yang kabarnya memang akan magang hari ini.
"Aku harap kau tidak meluluskan dia saat seleksi nanti, El. Ucapkan selamat tinggal pada cita-citamu anak muda, karna besok aku pastikan kau tidak akan menginjak gedung ini lagi." Orang itu berlagak tidak kalah sombong dari Sam.
"Kau yang seharusnya mengucapkan selamat tinggal, karena hari inijuga aku akan mendepakmu keluar dari perusaanku!"
"Jangan bermimpi terlalu tinggi anak muda, jika kau jatuh rasanya pasti akan sakit."
Dan detik itujuga dua orang itu menatap tidak percaya, benarkah apa yang dikatakan anak muda itu? Apa dia benar-benar anak dari pemilik perusahaan Lucatu?
Alice yang kerjaanya memang selalu santai tiba-tiba merasa sangat terganggu dengan percekcokan yang terjadi diujung sana. Jika biasanya ia tidak tertarik untuk ikut campur, tapi kali ini gadis itu bangkit untuk melihat apa yang sedang terjadi. "Apa yang mereka ributkan sih?" Alice mengayunkan langkahnya untuk menuju keributan itu.
"Sialan. Alice sedang menuju kemari. Dia tidak boleh tahu aku disini." Batin Sam. "Selesaikan orang ini sekarang juga Elena! Aku harus pergi!" Sam kemudian buru-buru masuk kedalam lift. Tanpa menunggu apapun lagi setelah mengucapkan ultimatumnya. Sam takut keberadaanya disana diketahui banyak orang terutama Alice.
"Apa anak muda itu benar-benar putra Lucatu?" Orang yang tadi adu mulut bersama Sam menatap penuh harap kepada Elena. Berharap si manager itu menggelengkan kepala dan mengatakan kata tidak.
"Seperti yang kau dengar, dia memang benar putra Lucatu." Elena menjawab kebenaran itu.
"Tidak mungin, Astaga ini tidak mungkin! Kau tidak akan mendepakku keluar kan?" Orang itu penuh kecemasan.
"Aku harap begitu, tapi kau tahu bukan bahwa perintah Lucatu tidak bisa dibantah?"
"Habislah aku!!"
"Ada apa ini?" Alice baru saja tiba dipusat keributan tadi. Namun saat gadis itu sampai ternyata percekcokan itu sudah selesai.
"Tidak ada, hanya masalah kecil." Elena kemudian meninggalkan Alice yang baru saja tiba.
"Elena tolong aku~" Orang itu mengemis sambil mengikuti langkah Elena.
Orang-orang disini memang aneh! Alice menatap kedua orang yang meninggalkannya begitu saja. Tapi salahku sendiri sih, kenapa aku ingin tahu sesuatu yang bukan urusanku. Percuma saja, aku tidak akan mendapatkannya. Ultimatum tentang 'Jangan mencampuri hal yang bukan urusanmu' benar-benar diterapkan dengan bailk disini~