
Semua orang panik ketika mendengar kabar dari kepala pengurus rumah bahwa Monica jatuh pingsan di kamar. Entah sejak kapan dia pingsan, Monica ditemukan oleh seorang pelayan yang memaksa masuk ketika sudah berkali-kali memanggil Monica namun tidak ada.
"Katakan apa yang terjadi." Dengan pelan namun nada menyakitkan pertanyaan itu keluar dari mulut seorang suami yang sedang sangat menghawatirkan belahan jiwanya. Energi Ken selalu terkuras banyak jika itu menyangkut soal Monica, terlebih itu tentang sesuatu yang buruk.
"Sa-sayaaa..." Gugup pelayan itu menjawab. Baru kali ini dia berhadapan dengan Mister Ken, meskipun tidak memiliki kesalahan tapi tetap saja tubuhnya tiba-tiba bergetar tanpa bisa dikontrol.
"Jawab dengan lantang dan jelas atau kau akan kehilangan lidahmu!"
Sabar, pak tua!
"Saya tidak tahu persis apa yang terjadi pada Nyonya, Mister."
Saat itu..
"Nilufer, tolong bawakan beberapa potong buah segar ke kamarku yaaa.." Nyonya besar itu tersenyum ramah sambil meminta pertolongan. Meskipun dia adalah wanita yang sangat berpengaruh tapi tidak serta merta membuatnya semena-mena ketika memberikan perintah.
"Baik, nyonya." jawab Nilufer sambil menundukkan kepala dan melemparkan senyum.
"Tidak. Sepertinya aku membutuhkan sesuatu yang hangat, perutku sejak kemarin rasanya sakit sekali." tiba-tiba air muka Monica berubah, salah satu tangannya meraba bagian perut dengan ekspresi menahan rasa sakit.
"Nyonya apa anda baik-baik saja?" Nilufer sedikit mendekat namun tangan Monica menginstruksikan untuk berhenti.
"Aku baik-baik saja. Tolong bawakan sesuatu yang hangat. Teh, susu atau apapun itu. Aku menunggumu dikamar." Monica berbalik badan kemudian meninggalkan Nilufer yang masih bertanya-tanya. Tidak biasanya bersikap seperti itu dan mengeluhkan sesuatu yang sepertinya menyakitkan.
"Lalu saat saya membawakan minuman hangat untuk Nyonya, Nyonya tidak menyahut meskipun saya berkali-kali mengetuk pintu dan memanggilnya. Dan karena saya mengetahui Nyona seperti kesakitan sebelumnya, saya memberanikan diri untuk masuk dan melihat keadaan di dalam."
"Sejak kapan Monica mengeluhkan rasa sakit di perutnya? Kenapa dia tidak menceritakan soal itu kepadaku?"
Astaga. Apa aku mengabaikan Monica sampai aku tidak tahu sejak kemarin dia menahan sakit?
Ken kemudian memanggil kepala pengurus rumah dan mengumpulkan seluruh pelayan yang berada di istana Lucatu. Menginterogasi mereka dan menanyakan apa mereka juga melihat sesuatu yang aneh tentang sakit Monica yang disembunyikan darinya.
Perihal Monica, pak tua memang selalu berlebihan.
"Jangan mengatakan sesuatu yang akan membuat suami dan anak-anakku khawatir. Ku mohon." Pinta Monica kepada seorang dokter keluarga yang sedang merawatnya. Wanita yang tidak lagi muda itu sudah kembali membuka matanya.
"Tidak nyonya, mana mungkin aku berani." Dokter itu tersenyum simpul, terkadang bingung jika harus menuruti permintaan antara Ken dan juga Monica ketika mereka berdua memiliki pendapat yang berbeda. "Tapi bagaimanapun, Mister Ken harus tahu keadaan Anda yang sesungguhnya."
"Nyonya... apa yang Anda alami bukanlah hal sepele. Aku tidak berani jika harus bermain-main tentang ini."
"Aku akan melindungimu! Lagi pula aku tidak memintamu untuk melakukan sebuah kejahatan, aku hanya memintamu agar aku bisa menyelesaikan masalah ini sebagai istri dan ibu yang tidak mau membuat suami dan anak-anaknya khawatir. Ku mohon." Monica menggenggam tangan dokter itu, kembali meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan istriku?" belum selesai dengan dokter, tapi pak Tua sudah masuk. "Sayang kau baik-baik saja kan?" Mempercepat langkahnya untuk segera menemui sang belahan jiwa.
"Seperti yang kau lihat, Ken. Aku baik-baik saja."
"Tapi kau kesakitan, sayang. Kau bahkan sampai pingsan." Berdrama lagi. Lupa bahwa disana masih ada dokter yang kini sedang menyaksikan.
"Aku hanya sedikit lelah."
Gulp! bagaimana ini. Dokternya menelan ludah sendiri. Mereka belum sepakat, tapi permainannya sudah dimulai.
"Tinggalkan aku bersama suamiku." pinta Monica lagi.
"Ta-tapi.."
~~
"Sepertinya kau sudah memiliki kesibukan yang lain." Alvino memakai kacamata hitam sambil melangkahkan kakinya menuju mobil. Sedikit kesal karena bisa-bisanya James terlambat.
"Maaf Tuan.. saya..." James membuka pintu belakang untuk Alvino. Rencananya mereka akan berkunjung ke pusara Bianca.
"Ssst.. lipstik dilehermu sudah menjelaskan segalanya." Alvino yang sudah duduk dimobil menatap James yang sedikit gugup. "Jangan membuang waktu, ayo."
Astaga! Muka James sepertinya langsung memerah seperti kepiting rebus. Bagaimana mungkin. Apa benar-benar ada noda lipstik dilehernya? tapi tadi Rose hanya mencium bibirnya.
"James."
"I-iya Tuan."
Melihat orang sedang jatuh cinta seperti itu, rasanya Alvino semakin merindukan Bianca..
Bersambung...