
Satu bulan kemudian~
Sam sudah benar-benar normal sekarang. Lelaki itu sudah bisa beraktivitas seperti biasanya, meskipun masih harus melakukan check up lanjutan rutin setiap bulan. Udara sejuk kembali dihirup oleh lelaki tampan berusia dua puluh tahun itu, dunia kini seakan kembali menjadi miliknya. Dengan selalu ditemani Laura disampingnya, senyum Sam terus saja mengembang.
"Akhirnya hari ini tiba, aku bisa melihatmu kembali seperti semula lagi." Laura melemparkan senyuman bahagianya melihat sang lelaki kini sudah kembali menjadi Sam yang tampan dan juga tanpa cacat. Setelah melewati masa-masa sulit akhirnya mereka berhasil melewati semuanya.
"Hari ini aku akan merayakan bersamamu, kita buat makan malam romantis nanti malam." Sam membalas senyuman Laura sambil merangkul bahu gadis itu menariknya ke dalam diri kemudian benar-benar memeluknya. "Terima kasih selalu ada untukku di setiap situasi, aku tahu cintamu itu tanpa syarat." Sam memeluk Laura dengan erat, menumpahkan segala rasa cinta dan sayang kepada gadis itu.
"Tidak perlu berterima kasih, sayang. Kita adalah pasangan dan memang seharusnya saling mengisi dan saling ada di segala kondisi." Laura membalas pelukan Sam dan tersenyum lebar dibalik punggung lelaki itu.
"Love u, beib."
"Love u more."
Akhirnya kau sembuh, Sam~
Sam kemudian membawa Laura menuju taman yang terhampar luas di rumah kakaknya, Alvino. merasai kembali cuaca dan udara tanpa bantuan kursi roda atau apapun. Lelaki itu seperti burung yang terlepas dari kandangnya, ingin terbang bebas tanpa dikurung selama berbulan-bulan seperti kemarin. Itukan karena kau sakit!
"Sayang.." Panggil Laura dengan suara cukup nyaring, membuat Sam yang sedang duduk di bangku taman langsung menoleh ke arahnya. "Happy anniversary." Laura tersenyum lebar sambil memperlihatkan sebuah kue tart dan juga beberapa tangkai bunga mawar merah.
"Wow.." Sam menatap takjub kepada wanita cantik yang mengisi hatinya, tidak menyangka gadis itu mengingat hari jadi mereka sebagai sepasang kekasih. Padahal meskipun nanti malam Sam akan mengajak Laura untuk makan malam romantis, tapi sama sekali Sam tidak tahu dan tidak mengingat bahwa hari itu adalah hari anniversary mereka. "What a surprise.." Sam ikutan tersenyum lebar, merekah seperti bunga yang dibawa Laura.
Laura kemudian mendekat dan duduk disamping Sam, menyalakan kembali lilin yang padam karena ditiup angin sambil sesekali saling menatap dan melemparkan senyuman.
"Happy anniversary, semoga kau dan aku bisa bersama se-lamaaaaanya." Laura kembali tersenyum manis sambil memberikan kue dengan lilin yang menyala itu.
"Happy Anniversary, beib. Semoga semua harapan kita bisa tercapai satu persatu. I love u so much." Cupp!! Sam mengecup bibir ranum Laura. Menyesapnya sebentar kemudian mengecup kilas.
~
Makan malam Sam dan Laura..
Makan malam yang hanya dihadiri Sam dan Laura begitu terkesan romantis dan juga premium. Hanya ada mereka berdua dan juga pemain musik yang menambah suasana romantis acara dua orang pasangan yang sedang dimabuk cinta. Lilin-lilin dan bunga yang bertebaran menambah kesan romantis itu semakin kuat.
"Ini hanya hadiah kecil untukmu. Jangan takut, aku tidak akan mengajakmu menikah di usia muda." Apalagi saat Sam memberikan sebuah cincin bertahta berlian untuk gadis itu, suasana itu semakin Romantis, Romantis, Romantis.. Memangnya apa lagi?
"Aaaa~ Kau bisa sangat romantis juga ternyata." Laura tersenyum haru, tidak menyangka atas apa yang lelakinya lakukan. Setelah dua tahun menjadi kekasih Sam, baru kali ini ini sama memperlakukannya seperti itu.
Sam kemudian melingkarkan cincin itu di jari manis Laura, mengecup punggung tangan Laura sambil menatapnya dalam.
"Thx you, beib. I'm so pretty happy." Senyuman Laura semakin mengembang.
Lalu makan malam itu pun berlanjut dengan sangat apik dan anggun. Pasangan muda itu seolah mengganti suasana berpacaran mereka, jika biasanya mereka merayakan apapun dengan datang ke klub malam dan mabuk-mabukan, tapi kali ini berbeda mereka justru ingin menunjukkan sisi dewasa.
Beberapa menit berlalu, suasana di meja makan itu hening. Hanya ada suara pemain musik yang terdengar, Sam dan Laura asik menyantap hidangan makan mereka sambil sesekali saling melempar pandangan dan tersenyum kecil.
"Kapan kau akan kembali ke apartemen mu?" Laura kembali membuka suara setelah makanan di piringnya sudah habis.
"Apartemen?" Sam malah mengulang kata-kata Laura sambil hampir tersedak. Sedikit kaget dengan apa yang gadis itu tanyakan.
"Iya.. Apa kau tidak akan kembali ke apartemen dan selamanya tinggal bersama keluarga mu?" Laura menekan ucapannya. Seolah meminta Sam untuk mengerti bahwa ia menginginkan lelaki itu peka terhadap pertanyaannya tadi.
Apartemen itu... Apartemen milikku kan sedang dihuni Alice sekarang, mana mungkin aku mengusirnya? Lagipula aku belum menemui Alice untuk meminta maaf dan bertertimakasih.
"Tentu... Hm.. Tentu aku akan kembali ke apartemen. Tapi aku harus menunggu waktu yang tepat. Setidaknya sampai kak Alvino kembali." Sam menghentikan kegiatannya yang sedang makan, tiba-tiba ia merasa sangat haus dan langsung menenggak minumannya sampai habis.
Astaga! Kenapa aku jadi gugup saat mengingat Alice?
"Kapan kakakmu pulang?" Laura kembali bertanya penuh rasa penasaran.
"Besok atau lusa mungkin."
"Kau tau maksudku kan, aku ingin kau kembali ke apartemen dan menghabiskan waktu dengan ku tanpa ada yang mengganggu?"
Sudah dekat.. Aku harus segera memulainya!
"Sure." Sam tersenyum simpul.
*
z
z
*
"Kau mau pergi kemana, James? aku ingin meminta bantuanmu lagi untuk mengantar kue ini." Bianca memegang sebuah bingkisan kue yang harus diantar ke pelanggan, seperti biasa toko itu selalu ramai dan meskipun memiliki banyak orang untuk mengantar kue namun entah kenapa selalu kebetulan semua kurir sibuk.
"Aku mau pulang." jawab James sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Pulang? tapi masih tiga jam lagi toko ini tutup."
"Memangnya aku harus selalu menunggu sampai tokomu ini tutup? aku tidak punya waktu. Aku harus pulang sekarang." Lelaki culas itu bangkit dari sofa tempat dia ongkang-ongkang kaki. Tanpa menghiraukan Bianca yang kembali meminta bantuan terhadap dirinya.
"James.. please, satu kali lagi." Bianca mengatupkan tangan dan memohon dengan sangat kepada lelaki yang paling menyebalkan di muka bumi ini. Andai tidak darurat, Bianca enggan untuk melakukan hal bodoh semacam itu.
"Aku harus bersiap menjemput Tuan Muda ku, kau pergi saja sendiri!" James masih saja berujar dengan seringai acuhnya yang sudah mendarah daging. Lelaki itu benar-benar selalu menunjukkan bahwa dia adalah robot yang tidak berperasaan.
"Tuan Muda? maksudmu Alvino akan pulang hari ini?" tiba-tiba Bianca berbinar, sudah hampir satu minggu dia tidak pernah berkomunikasi dengan Alvino karena kesibukan lelaki itu. Betapa senangnya jika memang lelaki itu akan kembali hari ini.
"Besok!"
"Hah? besok? lalu untuk apa kau bersiap-siap sekarang?"
"Bukan urusanmu! Aku peringatkan lagi, jangan pernah menanyakan apapun yang bukan urusanmu. Atau kau akan menyesal saat hal itu membuatmu celaka."
"Kau terus saja mengancam dan seperti akan mencekik aku! apa kau tidak takut jika aku melaporkan mu kepada Alvino?"
James tersenyum smirk sambil menggelengkan kepalanya. "Apa bedanya denganmu, kau juga selalu mengancamku bukan?"
"Sudahlah... aku tidak mau berdebat denganmu! Sekarang lebih baik kau antar aku untuk memberikan kue ini kepada pelangganku, dia pasti sudah menunggu."
"Apa kau tidak mendengar? aku tidak punya waktu." James malah meninggalkan Bianca yang belum selesai bicara. Membuat Bianca mengumpat dan mengepalkan tangannya.
Awas saja kau James!!!