You Decided

You Decided
Toko Kue



Dengan perasaan sedikit kesal akhirnya James menemui Bianca untuk membawa gadis itu menuju toko kue yang Alvino maksud. Kenapa pekerjaan James sekarang menjadi rumit sih? harusnya dia berdiri tegap dan hebat disamping Alvino, bukannya jadi mengurusi wanita seperti ini. Entahlah James juga tidak mengerti, yang jelas dia tidak pernah bisa membantah.


"Ayo! kita harus berangkat sekarang!" James sudah berada di Apartemen milik Bianca, dan masih menunggu wanita itu bersiap. Padahal James sudah berada disana hampir 30 menit.


"Sebentar.. Aku akan siap dalam 5 menit, tunggu ya." Setelah memberikan James sebotol minuman dingin, Bianca beranjak kembali menuju kamar untuk melanjutkan ritual wanita yang akan bepergian. Meskipun tidak bermake up tebal atau berpenampilan berlebihan, namun tetap saja wanita akan selalu memakan waktu jika untuk bersiap-siap pergi ke suatu tempat.


"Dasar wanita!" James mengumpat ketika Bianca meninggalkannya menuju kamar. Benar kata Alvino dulu, bahwa wanita memang makhluk yang sangat rumit. "Untuk apa berdandan sih? lagi pula kita tidak akan bertemu siapa-siapa disana! kita hanya akan ke toko kue yang masih kosong." kepada Bianca, James rasanya tidak bisa bersikap baik. Selalu saja ingin mengumpat dan mengomel, padahal itu bukan sikap aslinya. Bahkan di lingkungan pekerjaan Alvino, justru James terkenal irit soal bicara.


James sudah seperti kakitangan yang merangkap menjadi wakil Alvino, karena banyaknya urusan Alvino yang memang di-handle oleh James, lelaki itu jadi memiliki posisi cukup tinggi di Lucatu, apapun yang ia katakan adalah sebuah perintah untuk para bawahan yang lain.


"Ayo.. aku sudah selesai." Bianca yang memang sudah selesai kini kembali menghampiri James yang masih menatap tidak suka terhadapnya. Melihat tatapan James yang seperti itu rasanya bianca selalu berpikir, punya salah apa dirinya terhadap lelaki itu?


"Percuma kau berlama-lama untuk bersiap. Penampilanmu masih seperti itu itu saja! Kau hanya membuang-buang waktu." James kembali menghardik Bianca dengan tatapannya.


"Kenapa kau harus marah? Aku tidak memintamu kesini. Jika kau tidak mau yasudah, silakan pulang saja!" Bianca rasanya sudah bosan merasa tertindas oleh tatapan James yang seperti itu, mulai saat ini ia harus berani melawan. "Kau bahkan tidak bisa bersikap baik kepada wanita. Aku yakin tidak ada satupun wanita yang menyukai dirimu, James."


"Heh..lihat dirimu sebelum berbicara!" James menarik ujung bibir kirinya dan tersenyum smirk. "Memangnya ada pria yang menyukai dirimu Hah? kau hanya beruntung karena tuan muda ku mabuk waktu itu."


"JAMES!!" Bianca menaikkan nada suaranya. "Jika kau tidak suka kepadaku, katakan itu kepada Tuan Muda-mu."


"Berisik! Kita berangkat sekarang!" James bangkit dari sofa dan melenggang menuju pintu. Sudah kalah telak jika diberi ultimatum harus mengadu pada Alvino.


"Jangan mengira aku senang saat bersamamu, jika bukan karena Alvino sekedar mendengar suaramu aku sangat enggan! Sudahlah.. Lebih baik kau pulang saja. Moodku sudah hancur sekarang." Menjengkelkan. Belum satu jam James muncul, tapi lelaki itu sudah sangat menguras emosi. Bagaimana jadinya jika ia harus menghabiskan waktu seharian? bisa-bisa darah Bianca naik.


"Ikut aku atau kau akan menyesal!" James mengancam lagi.


"Aku akan pergi asal kau berjanji bisa bersikap baik!"


Dua orang itu selalu saja seperti kucing dan anjing jika bertemu. Dan setelah negosiasi panas itu berlangsung, akhirnya mereka pergi menuju toko kue yang dihadiahkan oleh Alvino untuk Bianca.


Sudah di toko kue~


James dan Bianca sudah tiba di tempat tujuan. Dua orang itu langsung saja menilik toko yang cukup besar namun ternyata masih kosong, sama sekali tidak ada barang apapun. Hanya ada dua sofa dan sebuah meja disudut ruangan. Bianca benar-benar harus memulai semuanya dari awal dan itu semua akan dibantu oleh seorang yang paling menyebalkan.


Untuk pertama Bianca memikirkan soal desain toko itu, memilah barang-barang apa saja yang diperlukan dan James dengan Sigap memanggil orang-orang yang ahli dalam bidang itu, memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya dan yang paling penting adalah agar kegiatan itu bisa segera selesai.


Beberapa jam kemudian setelah mendatangkan orang-orang yang akan mendesain tempat itu, kini toko itu hanya menyisakan James dan Bianca.


Kring.. Ponsel Bianca berdering.


"Halo?" Bianca menempelkan ponsel itu ditelinga sambil berjalan menjauh dari James yang sudah jelas tidak suka.


"Bagaimana Bee? apa semuanya berjalan baik?"


"Semuanya baik, Honey. Terimakasih, kau bahkan memberi kesempatan untuk aku mendesain sendiri toko ini." Sebuah senyuman tergambar lagi, menyiratkan bahwa Bianca memang merasa senang.


"Aku kira kau tidak akan menyukainya... Apa James membantumu dengan baik? katakan padanya apapun yang kau butuhkan, aku masih sibuk dan harus kembali meeting 10 menit lagi."


Harusnya panggilan itu di loud speaker saat Alvino menanyakan tentang James. Dan harusnya Bianca mengatakan bagaimana James bersikap. Tapi tidak, Bianca tidak mau merusak suasana panggilan itu.


"Tentu.. James membantu semua yang aku perlukan. Mungkin minggu depan toko kue ini akan segera beroperasi."


"Lakukan apapun yang memang diperlukan, aku harus kembali bekerja.. Have a great day, Bee."


"You too, Honey."


"Byeeeee"


"Byeee... Love you.."


Tuut.. Panggilan terputus..


Bianca tersenyum tipis saat panggilan itu terputus, padahal ia menanti Alvino membalas ucapannya yang terakhir. Tapi sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan. Alvino memberi kabar disela kesibukannya sudah lebih dari cukup.


Bianca kemudian menyimpan ponsel itu kedalam tas. Lalu kembali menilik ruangan kosong dan memikirkan barang-barang apa saja yang ia butuhkan untuk toko itu.


"James.. sepertinya aku butuh dua lemari kaca untuk didepan sini. Akujuga butuh...."


Sreek.. James justru memberikan Bianca sebuah bolpoin dan notebook kecil. "Kau tulis saja." ujarnya datar.


Hih.. Lelaki itu sepertinya memang tidak bisa bersikap baik. Tidak bisa kah mereka sekedar menjadi teman? Baru kali ini Bianca menemukan orang seperti James. Tidak tahu berterima kasih, padahal tadi Bianca menyembunyikan bagimana sikap James kepada Alvino.


Bianca kemudian mengambil notebook dan bolpoin itu, lalu meninggalkan James dengan acuh.


Bersambung~


Thx for ur support gais!🤗