You Decided

You Decided
Mencekam



Setiba di rumah sakit Alice segera berhambur keluar dari mobil, bahkan saat mobil itu belum berhenti dengan sempurna. Kabar dari suster yang mengatakan keadaan ibu yang tiba-tiba kritis sukses membuat jantung Alice benar-benar ingin lepas dari tempatnya. Dengan tunggang-langgang gadis itu berlari, bahkan tidak memperdulikan Alvino yang masih berada di dalam mobil.


"Ibu.." Bugh!!! Gadis itu tidak hati-hati, menabrak beberapa orang yang berada disana.


Melihat itu Alvino segera bergegas menyusul, gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


"Astaga, dia berlari cepat sekali." Alvino melebarkan langkahnya. Menyeimbangkan Alice yang hampir saja hilang dari pandangannya. Entah apa yang terjadi, Alice tidak bercerita sepenuhnya tentang keadaan ibunya.


Hiks..


Langkah Alvino terhenti ketika melihat Alice menangis di bawah pintu yang memang adalah ruang rawat ibu. Gadis itu tidak berdaya. Alvino mendekat, mensejajari Alice.....


"Alice... apa yang..."


Hiks.. "Ibu.." Alice memeluk Alvino sekuat tenaga yang tersisa. Dunianya terasa hancur saat itu juga. Gadis itu terus menangis pilu tanpa memberitahukan apa penyebabnya.


Alvino hanya balas memeluk. Biarkan Alice menangis dulu sebelum dirinya memberikan pertanyaan. "Tenanglah, aku disini.." Lelaki itu mengusap lembut wanitanya. Memberikan kekuatan yang ia punya agar Alice tenang.


"Aku tidak punya siapapun lagi sekarang. Duniaku benar-benar mimpi buruk." Masih erat memeluk, cairan bening pun tak henti keluar dari kedua bola matanya. Masih begitu kental bagaimana rasanya saat dirinya harus ditinggal ayah, belum sembuh luka itu, kini dirinya harus kehilangan ibu.


"Hei, kau punya aku. Ada aku.. tenang.. tenangkan dirimu."


"Al.. tapi ibu.."


Selang beberapa saat mereka berpelukan, tiba-tiba saja adegan itu dikacaukan oleh seseorang yang menarik Alvino dengan cukup kuat. Membuat dua orang itu harus berhenti untuk menyalurkan rasa untuk saling menguatkan.


"Kak! Apa yang kau lakukan!" Sam. Ternyata orang itu adalah Samuel Lucatu.


"Sam.." Alvino sedikit terhenyak. Sejak kapan adiknya ada disana?


"Ternyata aku salah telah merindukan mu! kau hanya j*lang yang tidak tahu malu, setelah aku, kau ingin memiliki kakakku! Wanita macam apa dirimu ini?"


"Jaga bicaramu!" Alvino naik pitam.


"Haha! jadi kau sungguh mengencani gadis j*lang ini hah? dia hanya akan memeras hartamu saja. Aku peringatkan."


Bouuuught!!! satu tinjuan lagi untuk Sam. "Aku selalu berusaha untuk menjadi seorang kakak yang menyenangkan untukmu, tapi aku tidak akan membiarkan kau melakukan hal yang tidak sopan kepada perempuan! Aku bahkan mengampunimu setelah apa yang kau lakukan kepada Eve!" suara itu terdengar pelan namun menusuk. Dan saat itu Alvino menyadari bahwa mulut Sam bau. Adiknya itu mabuk, Sam dibawah pengaruh alkohol.


"Hentikan, Al. Dia adikmu." Suasana duka berubah mencekam ketika melihat Alvino menerkam adiknya seperti itu.


Marahnya orang penyabar memang menakutkan..


"Dia bahkan masih ingat bahwa kita kakak beradik. Sialan! Dia tidak pantas untukku apalagi untukmu, Kak. Masih banyak wanita yang mengantri di belakang kita."


"Sam! keberanian macam apa yang kau punya sampai berani bersikap seperti itu? dia Alvino! Kakakmu!" Suara seorang wanita tiba-tiba muncul. Tapi suara itu terdengar tidak asing bagi Alvino.


Rose..


Mati kau Sam!


"Rose, apa yang kau lakukan disini?" Alvino bertanya-tanya. Kenapa bisa ada Sam dan juga Rose di rumah sakit bahkan di jam seperti itu?


Lalu ditengah kebingungan, James ikut-ikutan muncul disana.


"Tuan muda.." Menyapa seperti biasanya.


"Kau..?"


Bersambung~