
James sudah kembali berdiri disamping Alvino. Tidak menyangka hanya dengan mengantar Bianca pulang, sudah banyak sekali hal yang ia lewati. James bahkan tidak tau apa sebabnya Alvino berada diruang rawat dengan tangan yang dibalut perban. "Apa anda baik-baik saja Tuan?" Dengan penuh rasa cemas James menatap Alvino.
Huh~ Alvino hanya membuang nafas. Mana mungkin dia bisa berkata baik-baik saja dalam situasi seperti ini. "Pergilah ke apartemen Sam. Bereskan tempat itu dan jangan sampai meninggalkan jejak bahwa Sam tinggal disana. Pindahkan barang-barang Sam ke kamarnya yang berada dirumahku."
"Baik Tuan. Hm.. Bagaimana keadaan Sam saat ini, Tuan? apa dia sudah siuman?" James bertanya penuh rasa penasaran.
"Apa kau tidak mendengar ucapanku?" Alvino menatap James dengan malas.
"Eh iya Tuan, kalo begitu saya permisi." James membungkuk sebentar kemudian kembali pergi dari sisi Alvino. Entah kenapa titah Alvino selalu menjengkelkan bagi James akhir-akhir ini. Apalagi setelah kehadiran gadis itu. Aaaah~ James merasa kesal sendiri.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Rose baru kembali sambil membawa beberapa makanan untuk Alvino.
"Maaf jadi merepotkanmu, Rose." Alvino menatap teman kecilnya yang tidak berubah sejak dulu. Selalu perhatian dan rela berkorban.
"Aku tidak merasa repot." Rose tersenyum kemudian menyodorkan makanan itu. "Hehe aku lupa, tanganmu sedang terluka Al. Mari, biar aku suapi."
"Tidak perlu, Rose. Aku bisa makan sendiri."
"Mana mungkin kau bisa makan dengan tangan kiri? sudahlah.. Dulu kau juga sering menyuapi aku kan?" Flashback sedikit masa kecil mereka yang memang selalu bersama-sama. Melakukan banyak hal hingga hal kecil sekalipun.
Hap~ Alvino menerima suapan dari Rose. Namun entah kenapa Alvino merasa sedikit canggung.
Kenapa harus saat kau terluka aku bisa begini? Bersamamu ternyata ada harga mahal yang harus ku bayar. Batin Rose.
"Rose.. hei.. kenapa melamun?" Alvino mengguncang gadis yang berhenti menyuapi dirinya dan malah bengong sambil sesekali tersenyum.
"Eh.. Maaf.. Aku berfikit tentang Fam, apa gadis manja itu masih menangis yaa?" Rose mengalihkan dengan alibi sedemikian rupa.
"Fam pasti sedang berdrama dihadapan Mami dan Dady. Hehe." Canggung Alvino menyelipkan candaan. Tapi itu semua agar suasana sedikit mencair dan Alvino tidak terlalu kaku. Ekhem~ Alvino berdehem. "Rose.. aku ingin meminta tolong lagi. Apa kau keberatan?"
"Selagi aku bisa aku pasti menolongmu, Al. Tapi bantuan apa yang kau inginkan dariku?" Rose merasa heran. Alvino bisa melakukan apapun se-kehendaknya. Kenapa masih meminta pertolongan kepada dirinya.
"Tolong rahasiakan tentang apartemen Sam terhadap orang tuaku. Aku tidak ingin membuat mereka tambah murka." Alvino sangat berharap Rose mau menerima permintaan tolongnya itu.
"Tentu, Al. Aku dan Fam akan tutup mulut tanpa kau minta.. Aku tidak akan rela kau diamuk uncle yang seperti monster jika sedang marah." Rose tersenyum menanggapi permintaan Alvino. Hanya itu ternyata.
"Terimakasih.. Kau memang S a h a b a t k u yang paling baik." Alvino balas tersenyum sambil meraih wajah Rose kemudian mengusapnya.
Aaaaa tolong.. tangan itu menyentuhku. Rose kegirangan dalam hati meskipun jelas-jelas Alvino mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang sahabat.
Apartemen Sam~
Alice terbangun dari tidur yang sebenarnya tidak sengaja ia lakukan. Alice bahkan tidak berganti baju dan melewatkan makan malamnya. Gadis itu menggeliat dan menatap sekeliling ruangan.
"Hoaaaammm... Apa Sam sudah kembali?" Dengan tubuh yang lumayan kaku karena tertidur disofa dengan posisi asal, Alice kemudian menuju kamar untuk memeriksa Sam. Namun Alice tidak juga menemukan lelaki itu. "Saaaamm.." Alice memanggil sambil menyusuri kamar mandi dan ruangan lain. Tidak ada sahutan. "Apa semalam dia tidak pulang yaa?"
Aaaah sudahlah. Lebih baik Alice segera mengganjal perut dan menelpon Sam daripada harus teriak-teriak sendirian.
Sudah makan dan mandi, Alice kembali melakukan panggilan kepada Sam. Namun meskipun sudah puluhan kali, panggilan itu tidak terhubung juga. "Angkaaaatt!!" Alice menggerutu sambil menempelkan ponsel itu ditelinganya. Tsk. "Sebenarnya kau dimana sih? apa kau sedang menemui wanita itu?" Alice menebak sendiri. Sudah lama Sam hanya menghabiskan waktu bersamanya, dan mungkin semalam Sam menghabiskan waktu bersama Laura pikirnya.
James dan beberapa kawannya sudah berada diapartemen milik Sam. Tanpa aba-aba mereka langsung masuk dan segera menjalankan tugas.
Alice yang mendengar suara tersebut kemudian langsung menuju pintu. Berfikir bahwa Sam akhirnya tiba. "Darimaa naa saa jaaaa." kata-kata Alice terputus ketika yang ia dapati justru pria-pria berbaju hitam.
Siapa mereka?
"Hey.. apa yang kalian lakukan?" Alice berteriak ketika melihat orang asing itu masuk ke dalam kamar dan juga mengawut-awut ruangan. Apa mereka perampok? tapi mana mungkin perampok tahu kode masuk ke flat itu. "Heeeeyyy Hentikan!! Jangan menyentuh barang-barang itu atau aku lapor polisi!!" Alice berteriak lagi.
"Diam atau ku cekik leher mu! Siapa kau? kenapa ada disini?" James berdiri tepat dihadapan Alice.
"Kau yang siapa? beraninya masuk tanpa izin!" Alice berkacak pinggang menantang James.
"Berisik. Kau lebih baik diam!"
"Toloooooooong.. Ada maling disiiiniiiii." Alice berteriak sekencang mungkin.
"Sialan! siapa yang kau sebut maling hah?"
"Lalu siapa kalian? kenapa kalian melakukan semua ini kalo bukan maling! Pergi atau Sam akan~"
"Akan apa?"
"Aku kekasih Sam. Dia tidak akan mengampunimu jika aku sampai terluka. Jangan lupakan kamera pengintai didepan sana!"
"Dasar wanita! selalu saja bicara cerewet dan tanpa rem. Aku utusan keluarga Sam, aku harus merapihkan tempat ini. Jadi kau lebih baik diam dan tidak mengganggu kami."
"Keluarga Sam? kenapa mereka melakukan itu?" Mata Alice kemudian menatap sebuah logo dibaju orang asing itu. Logo yang pernah Alice lihat didalam foto-foto yang berada dikamar Sam. Semoga saja mereka benar-benar bukan maling.
"Jangan banyak bertanya!"
"Aku akan terus bertanya sampai kau menjawab pertanyaanku. Kenapa? apa yang membuat keluarga Sam melakukan ini? dan dimana Sam sekarang? sejak semalam dia tidak kembali. Ponselnya juga tidak aktif!!"
"Diam!!" Gendang telinga James rasanya mau pecah ketika mendengar ocehan gadis itu. Daripada lebih rumit dan membuat James lebih pusing, lebih baik James menjawab saja. "Sam mengalami kecelakaan. Dan saat ini ia sedang koma dirumah sakit. Jelas?"
Sam.....? Komaaaa....? dirumah sakit...? Jadi lelaki itu bukan sedang bersama Laura? Astaga. Alice terperangah. Menganga karena sama sekali tidak percaya dengan penuturan orang asing itu. "Bohong! kau pasti berbohong!"
"Lihat saja sana! Sam berada di rumah sakit Anu." 😜
"Sungguh?" Alice masih terperangah. "Sebentar!"
Cekrek..cekrek..cekrek 📸 Alice mengambil gambar James dan beberpa rekannya yang sedang beraktifitas didalam flat. "Aku harus memastikan segalanya, tapi sebelum itu aku harus mengabadikan gambar kalian sebagai bukti, takut-takut kalian benar-benar pencuri!"
James enggan mengeluarkan kalimat lagi. James hanya menggelengkan kepala dan membiarkan wanita itu melakukan apapun. James sudah cukup dibuat pusing memikirkan wanita Alvino, dan sekarang ia juga harus memikirkan wanita Sam.
"Keluar dari sana. Aku harus berganti baju dulu!" Alice berteriak dari balik pintu kamar yang seperti sedang digeledah. Dan setelah berganti pakaian, Alice kemudian segera menuju rumah sakit yang tadi James sebutkan.