You Decided

You Decided
Aku Malu



Alvino berlutut bak seorang pria yang akan melamar kekasihnya. Namun yang ia suguhkan bukanlah cincin emas bertahtakan berlian untuk meminang sang kekasih, lelaki muda itu berlutut dihadapan Ken sambil menyodorkan segel kuasa Lucatu sambil menunduk. Seperti menghadap sang raja yang tidak berani menatap sebelum diizinkan.


“Apa lagi ini?” Ken yang masih kesal hatinya risih dengan apa yang Alvino lakukan. Untuk apa ia melakukan hal demikian yang artinya lelaki muda itu mengundurkan diri.


“Maafkan aku, dad. Aku mengecewakanmu dan membuatmu marah hari ini. Aku menyesal atas sikapku.” Alvino masih dengan posisinya, berujar lirih dihadapan lelaki hebat yang sangat berjasa besar untuk hidupnya dan juga Monica. “Setelah aku mengetahui apa yang ayah ku lakukan di masa lalu,sepertinya aku tidak pantas untuk mendapatkan apa yang selama ini kau berikan. Karena kehadiranmu sebagai ayahku ternyata lebih dari cukup. Aku mohon ampunan atas nama ayahku juga.”


Huh~ Ken membuang nafas berat dan memperhatikan bagaimana Alvino bersikap lagi. Meskipun masih marah tapi setidaknya ia mengerti kenapa Alvino bisa bersikap demikian, toh Ken juga pernah muda dan bahkan lebih dari Alvino jika sedang dikuasai amarah.


“Bangun, kak. Jangan bersikap seperti itu di hadapanku.” Ken masih duduk di kursi putarnya, hanya memberikan titah tanpa membantu Alvino untuk benar-benar bangun. “Jangan terus mengungkit masa lalu, biarlah semua itu berlalu. Aku tidak bisa berkata banyak.” Lemah. Ken sebenarnya sedang kehilangan tenaga. Melihat Monica menguraikan air mata  memang benar-benar kelemahannya. Meskipun itu terjadi bukan karena kesalahannya, tapi tetap saja Ken butuh energi besar untuk meredam hatinya.


Alvino tidak bergeming. Tidak menjawab atau bergerak dari posisinya. Menunggu Ken menghampirinya dan mengambil apa yang ia kembalikan.


“Apa maksudnya kau mengembalikan segel itu? Apa kau merasa keberatan bertanggung jawab atas Lucatu?” Ken berujar lagi dan masih di posisinya juga.


“Aku hanya merasa tidak pantas mendapatkan segalanya, kau terlalu baik dad. Aku merasa berdosa, aku merasa sangat malu atas apa yang sudah ayahku lakukan.” jawab Alvino.


Bangun. Ken bangun dari posisinya. Menghampiri Alvino kemudian berdiri dihadapan anak muda itu. “Apa kau sungguh ingin mengembalikan ini dan berharap aku mau mengambilnya?” Tanya Ken dan Alvino mengangguk. “Lalu apa yang kau inginkan setelah aku mengambil ini?” Ken mengambil segel kepemilikan Lucatu yang ia percayakan kepada Alvino namun Alvino kembalikan hari ini. Dan setelah itu Alvino berani untuk bergerak dan menatap Ken dengan mendongak kepalanya.


“Terimakasih untuk segala yang kau berikan untukku dan juga Mamy. Aku merasa terhormat dipercayakan perusahaan Lucatu selama ini.”


“Bangun.” Alvino masih diam, masih tidak punya keberanian untuk bangkit mensejajari Ken yang berdiri dihadapannya. “Jangan membuatku selalu mengulang kalimatku!”


Alvino segera bangun. Jika Ken sudah berultimatum seperti itu memang tidak ada lagi alasan untuk siapapun membantah. Alvino kini berdiri, saling berhadapan dengan Ken sebagai sesama lelaki.


“Aku mengerti apa yang kau alami dan rasakan sekarang. Tapi ayahmu adalah ayahmu dan kau adalah Alvino. Putraku. Meskipun darah sama mengalir dalam nadi kalian, tapi kalian tetaplah berbeda. Ambil. Jangan pernah memberikan kembali apa yang sudah aku berikan.” Ken mengembalikan lagi segel yang tadi Alvino kembalikan. Sebagai pak tua yang sudah dewasa, ternyata Ken bisa bijak juga dalam menghadapi sesuatu. Dan itu jelas karena Monica. Oleh sebab itu juga Ken sangat menyayangi Alvino sama seperti menyayangi Sam dan juga Fam. Bagi Ken mereka semua sama, sama-sama putra putrinya.


“Aku malu.” Ah!! Bahkan Alvino hampir menumpahkan lagi air matanya yang padahal tadi dikuras habis saat bersama Monica. Tidak tahan dengan adegan haru yang baru pertama kali ia hadapi. Ternyata Ken yang terkenal dingin dan menyeramkan memiliki hati yang tidak bisa ditebak. Alvino sungguh merasa malu.


“Apa yang membuatmu malu?” Ken menatap Alvino yang mulai menunjukan kelemahannya. Saat itu juga Ken seperti dejavu dan mengingat bagaimana saat dirinya berada di hadapan sang ayah. Saat dirinya mengakui kesalahan dan merasa tidak pantas untuk mendapatkan apa yang ia terima. Ken jadi tersenyum tipis. Ternyata apa yang dia alami saat jadi Tuan Muda menghadapi sikap ayah, terjadi juga saat ini. “Jika kau merasa tidak pantas untuk menerima ini, maka ambilah. Tunjukkan bahwa sebenarnya kau pantas.” Ken menyuguhkan segel itu dihadapan Alvino. Tapi Alvino justru malah berkaca-kaca.


Aaaaa~ Tidak tahan lagi. Langsung saja Alvino memeluk Ken dan menangis dipelukannya. Mirip seperti Alvino kecil yang selalu seperti itu kepada daddynya.


“Come on big brother! You’re not little Nino anymore!” Ken tertawa kecil sambil balas memeluk Alvino dan menepuk-nepuk Alvino agar anak muda itu mendapatkan kekuatan lagi. Selain memberikan kesan ayah yang sesungguhnya, tapi di waktu bersamaan Ken pun seperti sedang menjadi dirinya yang dipeluk sang ayah yang sudah lama pergi ke hadapan Tuhan.


Suasana haru itu larut dalam pelukan. Sesama lelaki itu saling menguatkan bahwa mereka sama-sama membutuhkan sosok ayah. Bedanya, Ken yang harus bijak disini. Sedangkan Alvino mendapatkan itu dan Ken akan selalu berusaha jadi yang terbaik. Untuk Alvino, untuk Famela, untuk Samuel dan tentunya untuk Monica.


“Beruntung Mamy menemukan belahan jiwa sepertimu.” Alvino melepas pelukan itu sambil mengusap air mata yang tidak bisa ia tahan.


“Kau salah.. Aku yang beruntung. Ibumu sangat berharga dan membawa banyak perubahan untuk hidupku. Dia yang patutnya selalu kau puji dan bangga-banggakan.”


Dibalik kesuksesan dan perubahan besar seorang pria memang pasti tidak luput dari seorang wanita yang berada disampingnya. Buktinya Ken yang begitu angkuh, egois dan keras hatinya bisa luluh setelah menemukan Monica sebagai cinta sejatinya.


Ken memberikan lagi segel itu dan Alvino pun mengambilnya.


“Aku berjanji akan membuat kau dan Mamy bangga, aku tidak akan mengecewakan kalian lagi.” Alvino tersenyum.


“Bagus!” Ken juga tersenyum kemudian menepuk pundak Alvino. “Carilah cinta sejatimu, kau akan semakin sukses jika kau berhasil menemukannya.”


“Berikan aku tips bagaimana kau meluluhkan hati Mamy.”


Hahaha!! Dua orang lelaki itu malah saling melemparkan tawa. Mencairkan kembali hubungan mereka agar menghangat lagi. Selesai sudah kesalahpahaman di antara mereka. Dan kini Alvino hanya tinggal menemukan dimana Evelyn tanpa mendapat masalah tentang masa lalu. Seburuk Apapun  riwayat jejak kehidupan itu, Evelyn adalah adiknya. Sama seperti Famela dan juga Samuel.


 


 


 


 


 


Bersambung~