
“James..” Bianca sudah kembali sadar setelah tertidur karena bantuan dari obat yang disuntikan kepada dirinya. Air mata gadis itu terus saja meleleh, berjatuhan tanpa bisa ditahan. Hanya ada James disana, tidak ada yang lain. “Apa Alvino sudah tahu tentang ini?” Mata yang menyiratkan ribuan luka itu menatap James dari kejauhan, menatap James yang berdiri dengan wajahnya yang cukup pucat. Lelaki itu sedang sibuk melakukan panggilan, entah kepada siapa. Alvino kah?
“Apa Alvino sudah kembali?” Tanya Bianca lagi dengan wajah yang masih sama. Dan James hanya menggeleng samar.
“Memangnya pergi kemana Tuan Muda? Apa kau mengetahuinya?” James melepas ponsel yang menempel di telinganya, mendekat kepada Bianca yang sepertinya tahu dimana keberadaan Tuan Muda yang sedang ia cari. Rasa panik membuat James tidak bisa berpikir jernih. Padahal ia bisa dengan mudah melacak keberadaan Alvino dengan jaringan yang ia miliki. Toh Alvino sedang menggunakan mobil khusus yang terpantau.
“Alvino pergi ke tempat kelahiranku, dia sedang menemui mendiang ayahnya.” Hiks. Bianca semakin menangis pilu. Masih mengingat bagaimana punggung Alvino menjauh darinya dengan perasaan tidak baik-baik saja. Alvino bahkan sepertinya masih terpukul dengan kenyataan yang harus ia terima, entah bagaimana jadinya jika Alvino harus kembali menelan pil pahit dalam waktu bersamaan.
“Mendiang ayahnya? Maksudmu Tuan Alfian sudah meninggal? Kau tahu dari mana?” James menatap tidak percaya, pengakuan macam apa ini. Apa Bianca sungguh-sungguh mengetahui latar keluarga Alvino yang selama ini Alvino cari?
“Iya.. Aku yang memberitahu Alvino hari ini, seperti yang aku katakan padamu sebelumnya, aku ingin menjelaskan segalanya kepada Alvino dari diriku. Dan sekarang aku sudah melakukannya.” Bianca mengusap air matanya, meskipun lagi-lagi bongkahan cairan bening itu terus saja turun tanpa permisi. “Dan gadis yang tadi bersamaku adalah Evelyn, dia adik Alvino. Dia sepupuku.”
A- apa? Ah! Kepala James rasanya berputar-putar. Kenyataan macam apa lagi ini? Sungguh? Begitukah kenyataan? Bukankah gadis itu bernama Laura? Kekasihnya Sam.
“James.. Boleh aku meminta pertolonganmu?” Saling menatap wajah masing-masing. Jika biasanya mereka selalu bertengkar jika sedang bersama, tapi kali ini keadaanya lain. James bahkan merasa sangat terenyuh melihat kondisi Bianca saat itu. Ikut bersedih dan bingung dengan apa yang terjadi.
“Pertolongan apa? Jangan meminta sesuatu yang akan membuat hal ini makin runyam.” Belum apa-apa sudah mengancam lagi. Mengira Bianca akan memanfaatkan situasi ketika dirinya sedang merasa iba kepada gadis itu.
“Tolong bawa Rose kemari.. Aku membutuhkan dia, ku mohon.”
Jika biasanya James tidak memiliki perasaan takut atau apapun, tapi tiba-tiba saat itu dirinya dibuat merinding. Bulu kuduknya tiba-tiba aling berdiri, begitu terenyuh dengan kondisi Bianca yang menyedihkan seperti itu.
“Ku mohon.”
Rose? Kenapa harus membawa Rose kesini? tapi…. benar juga. Bukan hanya Bianca yang membutuhkan Rose agar ada disana, tapi James juga merasa begitu.
“Aku janji ini adalah permintaan terakhirku kepadamu, aku tidak akan merepotkan dirimu lagi setelah ini.”
“Hih. Memangnya aku mau melulu direpotkan olehmu. Sebentar. Biar aku hubungi Rose dulu, belum tentu juga dia mau.” Mode robotnya masih saja ada meskipun de keadaan menyedihkan seperti itu.
James kembali menempelkan ponselnya ditelinga, bukan untuk menghubungi Alvino lagi, tapi kali ini dia akan menghubungi Rose untuk meminta persetujuan dari apa yang diinginkan Bianca, yang diinginkan oleh dirinya juga hehe.
“Hallo.” Panggilan itu sudah terhubung. Suara Rose begitu terdengar lembut dari seberang telepon.
“Hallo, Nona. Mm maksudku Hallo Rose, apa aku mengganggumu?” Suara James terdengar malu-malu. Maksudnya masih ada rasa gugup.
“Tidak. Kami sedang bersantai. Mm maksudku aku dan Fam sedang bersantai. Ada apa?”
“Aku akan menjemputmu. Eh.. Maksudku, bisakah kau datang ke rumah sakit? Bianca sangat ingin bertemu denganmu. Dia jatuh sakit. Jika kau bersedia aku akan menjemputmu sekarang juga.”
“Bianca? Ada apa lagi dengan dia?”
“Ceritanya panjang, bagaimana? Apa kau bersedia? Jika kau bersedia aku akan menceritakan saat kita dalam perjalanan nanti.” Kita? Berhenti menggombal James. Kau sedang dalam perjalanan menghadapi murka Tuan Muda mu. Jangan banyak tingkah.
“I-iya.. Tentu saja aku bersedia. Kau boleh menjemputku.”
“Aahh terimakasih. Sampai jumpa dalam 5 menit.” Panggilan terputus.
“Dia mau.” Ujar James setelah panggilan itu terputus.
“Terimakasih James.” Bianca tersenyum tipis, mengulas senyuman menyedihkan dari bibirnya yang sangat pucat.
James menjemput Rose dirumah Alvino, bukan hanya karena dia membutuhkan bantuan karena merasa sangat dipusingkan dengan apa yang terjadi. Tapi Bianca yang meminta seperti itu. Gadis yang sedang dihantam luka itu sangat menginginkan kehadiran Rose di sampingnya. Terus saja memanggil nama Rose bukannya nama Alvino.
“Apa yang terjadi James? Kenapa Bianca masuk rumah sakit?” Tanya Rose saat baru saja masuk ke dalam mobil.
“Entahlah Rose.. Akhir-akhir ini selalu saja terjadi kejadian yang mendebarkan.” James gusar sambil memutar kemudi, akan membawa Rose ke rumah seperti niat awal kenapa dia menjemput gadis itu. “Bianca… dia..”
“Kenapa? Ada apa dengan Bianca?” Rose menatap James dengan intens, tidak sabar untuk mendapat jawaban dari James yang terlihat seperti kebingungan.
“Dia kehilangan bayinya.” ujar James tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang mengemudi.
“Apa? Bianca? Bagaimana mungkin? Kenapa bisa terjadi seperti itu?” Astaga! Rose jadi ikut-ikutan menatap lurus ke luar jalanan. Tidak menyangka dengan kabar yang hari ini dia dengar. Bukannya kabar kehamilan Bianca baru saja muncul, kenapa sekarang bayi itu sudah harus gugur. “Apa Alvino tahu tentang ini?” Rose kembali menoleh dan meminta jawaban dari James lagi, namun sedetik kemudian James menggeleng samar.
“Bianca sangat ingin kau berada disampingnya, dia ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Dia yang memaksaku agar aku menjemputmu dan membawamu kesana.”
Ah! Entah bagaimana Rose harus bersikap. Bukankah di waktu yang belum lama gadis itu membuatnya patah hati karena melihatnya bermanja bersama Alvino? Tidak! Jangan memikirkan itu Rose. Kau sudah mengikhlaskan perasaanmu terhadap teman kecilmu itu bukan? Jangan memikirkan sesuatu yang rumit. Ini bukan saatnya.
Rose dan James setengah berlari menuju tempat dimana Bianca berada, hampir memakan waktu kurang dari setengah jam gadis itu ditinggal sendirian. Dan saat sudah tiba, langsung saja mereka masuk.
Entah bagaimana harus bersikap, namun rasa sedih langsung menyeruak ke dalam diri Rose. Melihat keadaan Bianca yang menyedihkan, yang menyambut kedatangan dirinya dengan senyuman penuh luka dan tangisan yang tidak bisa dibendung. Segera Rose menghampiri Bianca, mendekati gadis lemah itu untuk menggenggam tangannya.
“Terimakasih sudah datang, Rose.” Bianca menatap Rose dengan bayang-bayang samar karena banyaknya air mata yang menghalangi mata itu untuk menatap.
“Aku disini.” Meskipun baru saling mengenal, tapi Rose mampu bersikap selayaknya sahabat seperti yang dia katakan. Rose mengusap wajah Bianca, membantu gadis itu merapihkan rambut yang berantakan dan juga basah karena keringat dan air mata. Mereka saling menguatkan genggaman tangan.
“James, aku ingin berbicara berdua dengan Rose.” pinta Bianca lagi. Dan sedetik kemudian Rose menatap James, mengedipkan kedua matanya agar James mengiyakan apa yang Bianca inginkan. Selalu saja seperti sihir, James pasti langsung menurut jika Rose yang memintanya. Lelaki itu keluar tanpa membantah.
“Rose.. aku kehilangan bayiku. Bahkan aku belum sempat memberitahu Alvino soal kehamilanku. Aku takut dia sangat marah.” Hiks. Tumpah semakin deras air mata itu.
“Tenanglah.. Jangan menangis. Alvino tidak mungkin marah padamu dalam kondisi seperti ini.”
“Kami baru saja meluruskan kesalahpahaman, tapi sekarang Alvino pasti salah paham lagi.” Bianca kemudian menceritakan segalanya kepada Rose. Menceritakan siapa dirinya, menceritakan kenapa hal seperti itu bisa terjadi, menceritakan kemana Alvino pergi saat ini. Pembawaan Rose yang ramah dan friendly membuat Bianca merasa nyaman untuk mengutarakan apa yang tidak pernah ia utarakan kepada orang lain. Bianca yakin gadis baik yang adalah teman kecil Alvino itu bisa mengerti apa yang sedang dia hadapi dan alami.
Rumit. Ternyata sangatlah rumit. Rose tidak menyangka bahwa ada teka-teki besar yang terdapat di dalam kisah hubungan Alvino dan Bianca. Namun dari seluruh cerita yang diutarakan Bianca, Rose bisa menarik benang merah. Tidak menyalahkan Bianca atas apa yang terjadi.
“Aku titip Alvino kepadamu Rose, aku yakin kau bisa menjaga dia lebih baik dariku. Aku yakin kau bisa membahagiakan dia. Aku mohon. Jadilah obat untuk luka Alvino.Dia sudah sangat terpukul, aku tidak mungkin membiarkan dia menanggung luka lagi.”
“Apa yang kau bicarakan! memangnya kau mau pergi kemana? Jangan berbicara yang tidak-tidak Bianca. Alvino tidak sejahat itu, ketakutan dirimu hanyalah bayangan hitam. Alvino tidak akan membencimu!”
“Tapi aku yang jahat kepada Alvino, Rose. Aku mengecewakan dia berulang kali. Aku tidak jujur kepadanya.” Hiks Bianca setengah berteriak mengatakan itu. Tidak mampu lagi menghadapi hidupnya yang sudah benar-benar hancur sekarang.
“Tenanglah, percaya padaku Alvino akan mengerti kondisimu.”
“Tidak. Mana mungkin.” Aaaaaa Bianca berteriak. Tidak bisa lagi mengontrol dirinya.
“Bianca..” Rose menenangkan gadis yang kehilangan akal tersebut. Berusaha menenangkan dan meyakinkan Bianca bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Aaaaaaa~ Bianca malah semakin berteriak histeris. Teriakan itu bahkan sampai terdengar di seberang telepon yang sedang James lakukan bersama Alvino. Ya. Alvino sudah dapat di hubungi, lelaki itu akan segera datang.
“Rose ku mohon. Aku lebih baik ikut gugur bersama bayiku daripada harus melihat Alvino merasakan luka lagi. Apa yang lebih buruk dari kematian? Aku tidak akan sanggup jika Alvino meninggalkanku setelah ini.”
“Sssstt.. Tenanglah.” Sulit sekali meyakinkan Bianca bahwa Alvino tidak mungkin meninggalkannya. Author tidak mungkin sekejam itu memberikan garis takdir hidup untuk Bianca. Hanya sedikit kerikil lagi untuk Bianca untuk mendapatkan bahagia itu, Dia hanya perlu bersabar sedikit lagi. Setidaknya sampai Alvino tiba di sana.
Perawat datang lagi ke ruangan Bianca, lagi-lagi memberikan suntikan penenang agar Bianca kembali tertidur. Luka rahim dan psikisnya akan semakin parah jika dia dibiarkan terus menerus seperti itu.
Bianca sudah tenang, kemudian tertidur setelah beberapa saat. Rose membuang nafas berat, tidak menyangka ikut terlibat dalam masalah pelik Alvino dan juga Bianca. Padahal untuk menerima adanya hubungan antara Alvino dan Bianca saja Rose membutuhkan tenaga ekstra.
Ah sudahlah~ Jangan membahas itu lagi, Rose sudah merelakan Alvino semenjak hari itu. Tidak mungkin dia mengkhianati prinsipnya sendiri.
“Tuan Muda sudah bisa dihubungi, dia akan segera tiba.” James masuk ke dalam ruangan lagi, menemui Rose yang sedang memposisikan Bianca agar tertidur dengan nyaman.
“Syukurlah..Biarkan Bianca istirahat dulu, dia sangat lemah.” ucap Rose yang masih menatap sedih ke arah Bianca.
James jadi ikut-ikutan terenyuh lagi melihat Bianca, ditambah bencana besar sudah nyata didepan matanya. Kedatangan Alvino kesana pasti penuh amarah, apalagi jika Alvino sudah tahu keadaan Bianca sekarang.
“James, Bagaimana keadaan Evelyn sekarang? Bukankah dia juga masuk ruang perawatan?”
"Dia di ruangan anu."
Siapa yang ngupas singkong disini 😭