
Alice segera menghubungi keluarga Sam. Memberikan kabar gembira tentang Sam yang menunjukan gerakan tangan.
"Pasien berhasil melewati masa kritis, namun kondisi ini belum berarti pasien sudah kembali membaik 100%. Kita akan menunggu respon yang lebih banyak lagi."
Dokter sudah selesai memeriksa Sam dan kini Alice kambali duduk disamping lelaki itu. Menatap nanar dengan isakan tangis sedih juga bahagia. Tangan itu digenggam lagi, dikecup lagi dan ditempelkan kewajahnya. Membuat tangan Sam bisa merasakan bahwa gadis itu sedang menangis.
"Cepatlah sembuh Sam. Aku merindukanmu.." Entahlah. Dalam relung hati Alice, ia merasa sangat kehilangan Sam. Merasa sangat hampa saat lelaki yang biasanya memeluk dan membuatnya tersenyum itu kini hanya terpejam tidak berdaya. "Aku mencintaimu."
Tanpa diduga tangan yang Alice genggam sejak tadi tiba-tiba balas menggenggam gadis itu. Entah mimpi atau Alice yang terlalu larut dalam moment itu, namun semakin lama genggaman itu semakin kuat. Untuk sementara Alice terdiam, merasai genggaman tangan itu sambil menghentikan air mata yang bercucuran.
Betapa terkejutnya bahwa Alice mendapati bahwa genggaman yang diberikan oleh Sam adalah sungguhan. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah Sam juga membuka mata saat Alice menatap wajah lelaki itu. "Saaaamm?" Yatuhan. Mimpikah ini?
Lelaki dengan wajah pucat itu hanya mengulas sebuah senyuman kemudian mengedipkan mata dan membuka lagi dengan tanpa tenaga.
"Saamm.. Aku tahu kau akan kembali, biar aku panggilkan dokter untukmu." Saat Alice akan beranjak tiba-tiba tangan itu kembali menggenggam erat. Sam juga memberi tanda lewat matanya bahwa Alice tidak perlu melakukan hal itu. "Apa kau baik-baik saja?" Alice menghampiri Sam dan mengusap lembut wajah itu. Sam hanya kembali mengulas senyum simpul, tidak melakukan hal lain atau sekedar menjawab ucapan Alice.
Lalu tanpa menunggu lama satu persatu keluarga Sam datang ke rumah sakit. Dan yang pertama tiba disana adalah siapa lagi kalo bukan Monica, wanita yang sangat mengkhawatirkan Sam dan selalu berharap mendapat kabar ini sejak lama. Monica masuk dan mengedarkan pandangan diruangan itu.
Monica segera masuk dan menghampiri brankar, wanita itu mengulum senyuman lebar juga menceloskan bulir air mata ketika mendapati anak bungsunya sudah membuka mata dan melemparkan senyuman kepadanya. "Saaamm." Monica menghambur mengecup kening Sam. Menatap lekat penuh kasih dan cinta. "Akhirnya kau kembali melihat dunia."
Ken yang mengekori Monica juga sama merasakan haru saat berada dikeadaan itu. Ada rasa senang dan sedih melihat Sam seperti itu. Lelaki yang tidak pernah terlihat lemah itu kini tanpa malu melakukan hal yang sama seperti Monica. "R u ok, Sam."
Sam masih hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Beruntungnya Sam tidak kehilangan memori ingatannya, namun lelaki itu belum mengatakan satu patah kata pun sejak tadi. Apa ini normal?
"Sejak kapan Sam membuka mata? terimakasih banyak Alice. Kau sudah setia menemani anakku hingga ia kembali." Monica menatap Alice sambil melemparkan senyuman.
"Beberapa menit yang lalu onty. Aku bahkan belum memberitahu dokter bahwa Sam bisa membuka mata, aku hanya memberitahu tentang Sam yang menggerakkan tangan tadi. Biar aku panggil dokter dulu.."
"Tidak perlu, nona. Kau tunggulah disini.. Alex!" Ken. Itu suara Ken, ayahnya Sam. Lelaki itu tampak memanggil seseorang dan tanpa menunggu lama hadirlah seorang pria berbaju hitam yang katanya orang itu adalah kaki tangan Ken yang paling setia.
"Iya Mister."
"Panggil dokter dan beritahu bahwa Sam sudah membuka mata." titah Ken.
Konon katanya apapun yang dikatakan lelaki itu adalah perintah. Dan orang-orang dibawah Ken selalu mentaati tanpa membantah apapun. Keluarga Sam sepertinya memang bukan berasal dari kalangan biasa.
Setelah memanggil dokter dan mengatakan situasi, dokter itu berujar bahwa Sam telah berhasil melewati masa kritis. Lelaki itu sudah bisa bangun namun hanya sekedar membuka mata, belum bisa bicara apalagi bergerak banyak. Butuh waktu lama untuk proses pemulihan 100% agar Sam kembali seperti semula.
Beberapa jam kemudian~
Fam, Rose bahkan Emily, Steve (Adik Rose) dan Johan sudah bergantian menjenguk Sam. Hanya satu yang belum memunculkan batang hidungnya dan orang itu ialah Alvino, kakak tertua Sam. Lelaki itu berkata bahwa masih ada kepentingan sehingga belum bisa mendatangi rumah sakit.
Sementara Ken dan Monica, kedua orang itu sedang berkonsultasi dengan pihak rumah sakit untuk memindahkan Sam ke rumah. Ken berencana memindahkan seluruh alat medis itu dan juga menyewa beberapa dokter propesional untuk merawat Sam dirumah. Agar perkembangan Sam bisa terpantau dua puluh empat jam tanpa harus mereka berganti-gantian menunggui Sam.
Dan Alice, gadis itu masih setia duduk disamping Sam. Menemani lelaki yang masih belum sepenuhnya membaik. "Tidurlah Sam.. Kau harus banyak istirahat agar tubuhmu lekas pulih. Aku akan menemanimu disini." tutur Alice sambil tersenyum, begitupun Sam yang hanya bisa membalas senyuman itu.
Kemudian Alice membantu Sam agar bisa tertidur, membuat lelaki itu nyaman dan perlahan terlelap. Dan tanpa berselang lama, pintu ruangan itu terdengar dibuka.
Dengan spontan Alice menoleh dan menaruh telunjuknya dibibir, tanda jangan berisik karena Sam baru saja tertidur. Eh.. dia kan..
Alvino. Alvino yang memasuki ruangan itu. Karena mendapat kode telunjuk dibibir Alice, Alvino spontan memelankan langkah dan juga memelankan bagaimana saat ia menutup pintu. Sebisa mungkin tidak menciptakan suara bising.
"Apa dia barusaja terlelap?" Bisik Alvino sambil menghampiri brankar dan menatap sang adik yang katanya sudah menunjukan perkembangan.
"Iyaaaa, Sam barusaja tidur." jawab Alice sambil menatap Sam juga.
Keadaan hening sesaat. Mereka saling bisu dalam diam~
"Terimakasih sudah menjaga adikku. Kau yang pertama ada disampingnya saat ia kembali membuka mata." Kini Alvino menatap Alice. dan tanpa sengaja netra itu jadi saling bertemu.
"Jangan sungkan."
"Apa kau sungguh kekasih Sam? Eh. hm.. siapa namamu?"
"Alice."
"Yaa, Alice.. Kau sudah berbuat banyak untuk Sam, termasuk memisahkan Sam dari gadis rubah yang membuat Sam jadi liar."
Eh.. Maksutnya?
"Gadis rubah?"
"Lupakan. Aku hanyaa,,,"
Krekk!! Pintu ruangan kembali dibuka. Ken dan Monica sudah kembali. Gurat wajah mereka terlihat tenang dan tidak terlalu cemas seperti kemarin-kemarin.
"Dokter bilang Sam bisa dipindahkan ke rumah dua atau tiga hari lagi. Sam sudah menunjukan banyak perkembangan sekarang. Sam akan segera sembuh dan kembali ke tengah-tengah kita." ujar Monica sambil tersenyum. "Alice.." Kali ini Monica menghampiri Alice dan menggenggam tangan gadis itu. "Terimakasih banyak, kau sudah ikut andil dalam pemulihan Sam. Kau sudah berkorban banyak waktu untuk anakku. Sekarang pulanglah dulu, kau harus beristirahat. Biar kami yang menjaga Sam malam ini." Monica tersenyum tulus kepada Alice.
"Tapi onty, aku masih...."
"Alvino bisa mengantarkanmu, kau tidak keberatan kan Al?"
Eh.. Alvino dan Alice saling menengok dan lagi-lagi netra mereka kembali saling menatap.
"Tidak perlu onty, aku bisa..."
"Aku akan mengantarmu." Alvino menyela sebelum Alice selesai berujar. "Jangan sungkan." ujar Alvino saat menangkap raut bingung diwajah Alice.
Tapi masalahnya kemana aku harus pulang? aku sudah tidak punya pekerjaan dan juga kamar kos sekarang!
Bersambung~