
James keluar dari ruangan tempat di mana Bianca dirawat, lelaki itu kemudian merogoh ponselnya di dalam saku dan mengeluarkannya. bermaksud untuk mengecek segala notifikasi yang masuk dan juga memberikan laporan kepada tuan mudanya tentang Bianca.
"Tidak. Aku tidak boleh memberitahukan bahwa Bianca sedang sakit kepada Tuan Muda. Aku tidak mau membuat tuan muda jadi memikirkan hal yang lain saat sedang banyak pekerjaan." James kemudian mengirim sebuah pesan kepada Alvino, sebuah pesan yang memang setiap hari ia kirim saat ia sudah selesai menemani hari-hari Bianca. games tidak mengatakan bahwa Bianca masuk rumah sakit dia mengatakan kepada Alvino bahwa Bianca sudah pulang ke rumah dengan keadaan baik-baik saja.
"Ya Tuhan!! rutinitas mengurus wanita itu sungguh sangat menjengkelkan. Kapan keadaan ini berakhir?" James mengusap wajahnya frustasi, kemudian kembali memasukkan ponsel itu ke dalam saku.
James sebetulnya sudah jenuh dengan perintah Alvino yang selalu memerintahnya untuk menjadi pengawal pribadi Bianca, padahal tugas sesungguhnya justru menjaga Alvino. Selalu ada di segala situasi dan memenuhi semua kebutuhan dan keinginan Alvino. Tapi kini justru keadaannya berbeda. Sangat berbeda. James justru malah mengurusi hal yang menurutnya sangatlah tidak penting. Wanita.
Kau sendiri yang berusaha membuat Alvino jatuh cinta kepada wanita, itu salahmu!
James sesungguhnya tidak membenci Bianca. Sikap James memang seperti itu kepada siapapun kecuali keluarga Lucatu. James memang dingin dan datar. Lurus. Tapi sikap James memang terlalu berlebihan kepada Bianca, dia benar-benar sangat menunjukkan bahwa dia memang tidak menginginkan Bianca ada di kehidupan Alvino, meskipun sebenarnya dia sendiri yang menghadirkan wanita itu.
James hanya tidak suka latar belakang Bianca yang berasal dari wanita penghibur, terlebih gadis itu berbohong tentang masa lalunya kepada Alvino. Bianca mengatakan kepada Alvino bahwa dia menjadi sebatang kara karena orang tuanya meninggal karena sebuah kecelakaan, bersandiwara seolah gadis itu berasal dari keluarga miskin. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Bianca justru berasal dari keluarga kaya raya, namun entah dimana keberadaan keluarga nya. James belum bisa melacak.
Mana mungkin gadis miskin bisa satu universitas dengan Alvino?
Sikap James yang selalu mengancam Bianca hanyalah sebuah gertakan, takut-takut Bianca adalah orang jahat dan akan melakukan sesuatu hal yang berbahaya bagi Alvino.
~
Alvino dan Alice sudah tiba di rumah sakit, sudah selesai menjenguk Aurora, teman bekerja Alice saat menjadi pelayan kafe, yang sedang terbaring sakit.
"Terimakasih sudah menemaniku, Pierce." Alice menoleh dan melemparkan senyuman kepada Alvino yang berjalan disampingnya.
"Sama-sama." Alvino melemparkan senyuman juga. "Apa kau masih punya waktu untuk menemaniku makan malam? aku sangat lapar." Alvino memberikan kode. Kembali mengingatkan Alice bahwa tadi mereka sudah sepakat jika setelah selesai menjenguk Aurora, rencananya mereka akan hunting kuliner.
"Tentu. Aku juga sangat lapar hehe."
"Baiklah.. Mari kita makan malam. Kau yang menentukan tempatnya."
"Street food festival di ujung jalan sana, bagaimana?"
"Oke."
Dua orang itu kemudian melanjutkan langkahnya menuju parkiran di mana motor Alvino terparkir, akan kembali melakukan hal yang menyenangkan di atas kuda besi itu. Yaa tentu saja sangat menyenangkan. Di atas motor itu Alvino merasa semakin dekat dengan Alice, apalagi saat gadis itu meremat saku jaketnya karena takut terjatuh. Uuuuu~ Alvino bahkan tidak mau berkedip saat melihat ekspresi gadis itu melalui spion.
"James?" ujar Alvino dalam hati. Alvino melihat seseorang yang sangat tidak asing di pandangannya. James baru saja keluar dari rumah sakit yang sama dengan rumah sakit yang dikunjunginya bersama Alice. James terlihat setengah berlari menuju mobil kemudian meninggalkan gedung itu. "Sedang apa dia disini?" ujar Alvino lagi didalam hati.
"Lihatlah.. Aku sudah bisa memakai helm ku sendiri." Alice tersenyum sambil memperlihatkan helm yang sudah berhasil ia pakai sendiri tanpa bantuan. Gadis itu terlihat sangat bangga meskipun karena pencapaian kecil.
"Ah iya.." Alvino tersenyum canggung. Pandangannya yang sedang memperhatikan James tiba-tiba membuyar ketika Alice memanggilnya.
"Nothing. Let's go!" Alvino mengalihkan, kemudian bersiap mempersiapkan kuda besinya untuk dinaiki oleh Alice.
Brum!! Motor itu kembali membelah ramainya jalanan kota. Ternyata berkendara menggunakan motor lebih menyenangkan ketimbang berkendara dengan kendaraan mobil. Dengan mengendarai motor mereka bisa melihat setiap inci pemandangan jalanan ataupun gedung-gedung di sekitar, melihat lampu-lampu dan juga orang-orang dengan cukup jelas, meskipun sebenarnya poin plusnya adalah mereka bisa duduk sedekat itu.
Salah satu cara untuk memikat hati seseorang adalah melalui perutnya, kata pepatah lama. Hal yang sama berlaku untuk Alvino dan Alice. Untuk kedua kalinya mereka makan bersama dihari yang sama membuat kedekatan antara mereka semakin tercipta. Semakin akrab dan mulai nyambung satu sama lain.
"Currywurst.. Kau harus mencobanya. Ini sangat nikmat sekali." Alice menggiring Alvino menuju kedai yang menjajakan sosis bakar, meminta dua potong sosis kepada penjual untuk mereka berdua.
Alvino hanya mengangguk samar. Meskipun tidak tahu harus melakukan apa, Alivino tetap mencoba beradaptasi dengan lingkungan dimana Alice membawanya. Menambah lagi satu pengalaman baru dengan memakan makanan pinggir jalan.
"Ini.." Alice memberikan sosis itu kepada Alvino. "Kau sepertinya takjub dengan tempat ini? apa kau belum pernah kesini sebelumnya?" Nyum. Alice menggigit sosis yang baru saja selesai disajikan. Mulutnya begitu penuh sambil menatap Alvino yang masih celingukan.
"Tentu saja aku pernah kesini, hanya saja sudah lama sekali hehe." Alvino tersenyum canggung. Berbohong sedikit tidak apa-apa kan?
"Aku ingin ice krim juga. Ayo kita kesana dan duduk di tepi danau itu." Alice kembali menunjuk stand makanan yang menjajakan es krim, sudah menginginkan makanan lain padahal makanan yang di tangannya saja belum habis.
Alvino hanya menurut, mereka berdua kemudian menuju ke stand yang ditunjuk Alice. Mereka berdua duduk bersama di kursi yang langsung menghadap ke arah danau. Suasana malam yang temaram hanya dihiasi oleh lampu-lampu yang terlihat dari kejauhan, suasana itu begitu menyenangkan meskipun sangat sederhana.
"Apakah kau sering ke tempat seperti ini?" tanya Alvino sambil memakan sosis yang tadi diberikan oleh Alice, menatap gadis itu yang kini tengah sibuk dengan ice cream yang baru saja ia dapatkan.
"Tidak. Aku tidak terlalu sering kesini, tapi aku sangat menyukai tempat ini. Ditempat ini aku bisa makan dengan suasana yang tenang, pikiranku rasanya bebas."
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" Alvino menoleh lagi. Dan astaga! gadis itu seperti anak kecil makan es krim saja sampai belepotan seperti itu. Refleks tangan alvino menyentuh bibir ranum milik Alice. "Pelan-pelan saja. Aku tidak akan meminta ice krim itu."
Eh... Alice terhenyak. Terperangah ketika Alvino menyentuhnya begitu saja.
"Kau pasti sering datang ke sini dengan kekasihmu." Alvino kembali melontarkan pertanyaan ketika Alice malah mematung semenjak dia menyentuh bibirnya secara spontan.
"Hahaha.. Apa kau bilang? kekasih? memangnya siapa yang mau menjadi kekasihku? kau ini."
"Ataaaaau dengan orang yang kau cinta mungkin?"
"Aku hanya mencintai diriku sendiri. Saat ini aku tidak mencintai siapapun. Owh Pierce, sepertinya hujan akan turun. Kita harus segera pulang!"
"Hujan?"
"Ayo!"